Sabtu, 12 November 2011

Peci, Riwayatmu Kini...



“...gambar Bung Karno yang berpeci sambil memegang dagu, menjadi model yang suka ditiru pemudan dan dengan tiada sengaja menjadi alat reklame peci juga. Perasaan persatuan semakin kokoh. Cara berpakaian kedaerahan terdesak dan diganti oleh cara berpakaian nasional, ialah berpeci”

KUTIPAN di atas berasal dari cerita pendek (cerpen) “Peci” karya Mas Saleh Sastrawinata. Cerpen yang dimuat dalam Mimbar Indonesia No.34, 21 Agustus 1948 ini mengisahkan sejarah peci (kopiah) sejak masa Hindia Belanda, jaman pendudukan Jepang hingga awal kemerdekaan. Dalam cerpen itu dikisahkan perjalanan peci dan hubungannya dengan orang Indonesia yang tak sekadar berfungsi sebagai penutup kepala. Mulai dari peci sebagai identitas kelas masyarakat, gaya hidup, sampai identitas bangsa. Aneh juga memang, karena cerpen itu tidak sekalipun menyinggung hubungan peci dengan identitas agama (Islam).

Tapi, mungkin juga tak aneh. Karena memang begitulah kodratnya peci di Indonesia dan umumnya bangsa Melayu (Malaysia dan Brunai). Meskipun peci tak bisa dipisahkan dari identitas busana kaum lelaki muslim. 

Dan Bung Karno adalah nama yang tak bisa dilewatkan dalam mengangkat trend peci di kalangan pergerakan hingga menjadi busana formal bangsa Indonesia

Kecuali tentunya Megawati Soekarnoputri, tak ada satu pun potret resmi presiden dan wakilnya yang tidak memakai peci. Demikian pula foto resmi para menteri, gubernur, sampai walikota. Bahkan di Negara Bagian Johor Malaysia, memakai songkok atau peci, menjadi syarat mutlak pakaian resmi yang mesti dipatuhi termasuk oleh setiap anggota parlemen seperti Dewan Majlis Johor. Pelanggaran atas kepatuhan ini adalah
pemecatan seperti yang dialami oleh Gwee Tong Hiang yang tak jua mematuhi aturan memakai songkok.   

Sebagai bagian dari identitas keislaman, peci juga memiliki riwayat yang menarik. Menuturkan pengalamannya di akhir tahun 1960-an semasa nyantri di sebuah pesantren di Garut, sastrawan Sunda  H. Usep Romli mengenang bagaimana pada masa itu memakai peci hitam wajib dipakai oleh para santri. Begitu juga masyarakat kebanyakan terutama ketika melaksanakan ibadah shalat Jum’at. Selain peci hitam, ada juga peci warna putih yang punya makna khusus, yaitu, hanya khusus dipakai oleh orang yang sudah bergelar haji.  


 “Mereka yang belum bergelar haji, tidak berani memakai peci warna putih. Bahan dan modelnya terbuat dari kain katun dengan bentuk persegi. Tapi sekarang siapa saja bebas memakai peci berwarna putih, “ kata H. Usep Romli.

Lain lagi dalam pengalaman Iip D.Yahya yang pernah nyantri di Pesantren Tasikmalaya di tahun 1980-an. Kata dia, ada perasaan lebih sopan jika mengenakkan peci. Selain jadi identitas santri, peci juga menjadi bagian dari gaya yang menimbulkan rasa percaya diri (pede) di kalangan santri muda. Dengan memakai peci mereka membedakan dirinya dengan kalangan sepuh yang biasanya menggunakan sorban.

 “ Tampaknya penggunaan peci di tahun1920 atau 1930-an di kalangan pesantren seiring dengan kelurnya dalil man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum, barangsiapa yg meniru2 satu kaum maka dia termasuk di dalam golongan mereka (Belanda),” ujar Iip.


Sampai tahun 1970 atau 1980-an kita masih dengan mudah menemukan orang memakai peci. Dari mulai para santri di pesantren, para dai dan petugas KUA (penghulu atau naib), atau oleh para pedagang kecil yang memikul dagangannya dengan warna peci hitam yang sudah pudar.  

Demikian pula dengan penampilan komedian Sunda alm. Kang Ibing yang selalu menggunakan peci hitam yang terbalik, atau sosok tokoh boneka “Si Unyil” serta jauh ke belakang sosok Si Doel dalam film “Si DoelAnak Betawi” (1973). Bahkan, ketika ada seorang penjahat kakap yang dikenal dengan sebutan “Mat Peci”, nama itu tidaklah membuat peci jadi identik dengan orang jahat.
                                                                    **
 JAMAN dan masa memang sudah berubah. Begitu Juga selera orang untuk memakai peci. Selepas kemerdekaan, pelan-pelan peci mulai ditinggalkan sebagai identitas gaya dan identitas nasionalisme. Ia dipakai hanya untuk acara-acara resmi. Di kalangan masyarakat, sampai tahun 1980-an peci, pesantren dan para santri adalah pertahanan terakhir keberadaan peci. Lalu sekira tahun 1990-an,  munculah penutup kepala kupluk Arab yang menjadi trend di kalangan ummat Islam. Warnanya pun beragam, tidak hanya putih seperti yang kini bebas dipakai banyak orang meski dia belum bergelar haji. Trend kupluk Arab ini tak hanya menggeser penggunaan peci di kalangan santri dan umat Islam, tapi juga mengubahnya jadi lebih demokratis. Tak ada lagi warna khusus yang menentukan gelar seseorang.

“Kemungkinan munculnya kupluk Arab ini dipengaruhi oleh trend yang muncul di televisi dan busana Majelis Taklim, yang lantas banyak diadopsi  menjadi pakaian resmi seragam TK/TPA,” kata Iip D. Yahya alumnus pesantren Cipasung Tasikmalaya.

Meski sekarang tak lagi menjadi bagian dari gaya hidup untuk mencirikan identitas seseorang, mungkin karena sejarahnya yang panjang, riwayat peci belumlah habis. Peci  buludru masih dipakai banyak orang dengan beragam corak inovasinya, terutama pemberian ornamen sehingga ia tidak lagi polos, demikian pula warna yang tidak lagi melulu hitam. Tapi dominasi kupluk Arab atau yang ada yang juga menyebutnya kopiah haji dengan berbagai warna itu, tetaplah tidak bisa mengembalikan kejayaan peci di kalangan umat Islam, apalagi di kalangan anak-anak muda.

 Alih-alih menjadi trend yang membuat pede, berbeda dengan pada tahun 1980-an seperti dikatakan Iip. D Yahya,  kini anak muda enggan memakai peci dan lebih senang memilih kupluk haji dengan berbagai warna.  

 “Saya enggak suka pakai kopiah, lebih suka pakai kupluk haji. Kalau pakai kopiah rasanya jadi kayak bapak-bapak,” kata Ikhsan (21) seorang aktivis masjid sekaligus pengajar  Taman Pendidikan Al-Quran Al-Jihad dikawasan Cimahi.

Rini Astuti (19) seorang remaja Astuti malah tersenyum-senyum ketika ditanyakan padanya apa yang dipikirkannya jika melihat orang memakai peci. “Kalau dia anak muda, dia pasti anggota paskibra yang lupa membuka pecinya setelah upacar atau latihan. Dan, kalau orang dewasa, dia pasti lebe atau naib,” ujar mahasiswi Unpad itu sambil tertawa. 

Ketika di akun jejaring sosial Facebook penulis mencoba mengajukan pertanyaan yang sama, sejumlah jawaban menyebut peci dalam hubungannya dengan calon anggota legistatif, Soekarno, Kang Ibing, naib, peristiwa pernikahan, dan melayat atau mengantar jenasah ke pemakaman, hingga kenangan pada orang tua atau untuk menutupi kebotakkan.
                                                                 **
Seperti halnya dasi yang jarang dipakai oleh kebanyakkan orang dalam kesehariannya, kecuali pada peristiwa-peristiwa resmi, begitulah kini riwayat  peci. Ia umumnya hanya dipakai sebagai pakaian formal di kalangan tertentu (terutama para pejabat) dalam peristiwa resmi. Sedangkan di kalangan umat Islam, dalam peristiwa peribadatan sekalipun, peci sudah langka dipakai orang. Begitu juga dalam keseharian.


 Akan tetapi uniknya, hal ini tidaklah membuat omset penjualan para pedagang peci berkurang, meski memang omset itu tidak lagi seperti semasa kejayaan peci di 1960-1980-an. Hal ini, misalnya, bisa dilihat dari masih bertahannya toko peci terkenal di Kota Bandung “Peci H. Iming”, “Toko Dahlan” atau ramainya para pedagang peci di tepi jalan pada saat bulan Ramadan dan Lebaran.
Artinya, di tengah kelesuan minat banyak orang untuk menggunakannya, riwayat peci masih mencoba tetap bertahan, seperti penutup cerpen “Peci” karya  Mas Saleh Sastrawinata, “Sejarah masih jalan terus dan mempunyai tujuannya sendiri. Dan riwayat peci pun belum sampai habis di sini saja. Esok atau pun lusa ia muncul lagi”. (Ahda Imran) 




Soekarno, Gaya, dan Simbol
TANPA Soekarno penutup kepala jenis apakah yang akan dikenakkan oleh para Soeharo, Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Susilo Bambang Yudoyono dalam foto resmi mereka sebagai Presiden RI? Pertanyaan semacam ini tampaknya bukan menghendaki berbagai kemungkinan jawaban, tapi lebih ingin menegaskan peran Presiden RI pertama itu dalam mempopularkan pemakaian peci sejak tahun 1921 hingga hari ini. Pada masa itu, di kalangan pemuda dan aktivis pergerakan, peci juga menjadi bagian dari gaya, trend, dan fashion sehingga tampak gagah dan tampan. 
Paling tidak, kesan inilah muncul dalam diri Soekarno seperti yang diungkapkan oleh Inggit Ganarsih istri Bung Karno ketika pertama kali mereka bertemu, seperti terdapat dalam buku “Kuantar ke Gerbang” karya Ramadhan K.H; “Ia mengenakan peci beludru hitam kebanggaannya, pakaian putih-putih. Cukupan tinggi badannya. Ganteng. Anak muda yang pesolek, perlente.”
Peci beludru hitam memang adalah tutup kepala kebanggan Soekarno. Ia bangga dengan peci yang konon pada awalnya hanyalah penutup kepala yang banyak dipakai oleh para buruh Melayu di masa Hindia Belanda itu. Dalam pengakuannya pada Cindy Adams yang menulis buku “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat”, Soekarno ada mengatakan peci sebagai simbol nasionalisme Indonesia. Ia mengombinasikan peci itu dengan jas dan dasi yang mewakili kebudayaan Barat (Belanda). Pengombinasian ini merupakan semangat kesetaraan bangsa pribumi (inlandeer) dengan bangsa penjajah (Belanda).
Sejumlah sumber mencatat peristiwa pertama kali ketika Soekarno mempopularkan peci. Itu terjadi ketika ia masih berusia 20 tahun dan tampil berpidato dalam rapat Jong Java di Surabaya Juni tahun 1921.  Ia begitu tegang bukan karena hendak berpidato di hadapan para cendikiawan Jong Java, tapi karena rasa sebalnya melihat lagak dan gaya dandanan mereka yang mati-matian meniru orang-orang Belanda dengan tidak memakai tutup kepala. Memang, bagi golongan cendiakiwan bumi putera yang didikan Belanda ketika itu, segala hal yang berbau pribumi selalu dipandang sebagai keterbelakangan. Termasuk tutup kepala seperti peci, blangkon atau sarung.
Tapi, ketika Soekarno tampil berpidato dengan memakai peci mereka semua dibuat takjub. Pemuda murid ketua Sarekat Islam HOS Tjokroaminoto itu berkata lantang penuh percaya diri ihwal perlunya nasionalisme dinyatakan dengan sebuah simbol. Simbol yang diambil dari identitas rakyat Hindia Belanda, ”…Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.”

Begitulah mulanya sehingga peci tak hanya menjadi kebanggaan Soekarno seorang, tapi juga mendatangkan rasa bangga pada setiap pemuda Hindia Belanda yang memakainya. Tak hanya kaum pergerakan, tapi juga kalangan Islam, dan para pemuda yang memakai peci sebagai gaya. Paduan jas, dasi, dan peci tiba-tiba saja menjadi sesuatu yang umum pada masa itu. Demikian pula di kalangan Islam. Peci mengesankan kesantunan khas anak muda sekaligus mewakili identitas keislamannya.
Sebenarnya sebelum Soekarno berpidato memakai peci di Surabaya tahun 1921, peci telah dipakai oleh HOS Cokroamianito tahun 1913 di Den Haag Negeri Belanda dalam rapat SDAP  (Sociaal Democratische Arbeiders Partij). Dalam rapat itu tampil berpidato Ki Hajar Dewantoro, Douwe Dekker, dan HOS Cokroaminito. Ketiganya ketika itu sedang menjalani hukum pembuangan. Tampaknya,  jejak gurunya inilah yang ditiru oleh Soekarno sekaligus mempopulerkan peci. 

                                                           ** 
BANYAK kalangan dan sumber menenggarai bahwa peci pada awalnya tak lepas dari model topi gaya Turki, fez atau di Mesir disebut Tarboosh. Di Istanbul fez dikenal juga dengan nama fezzy atau phecy. Turki Ottman diperkirakan mengadopsi tutup kepala ini dari Yunani Kuno. Sedangkan di India, Bangladesh, dan Pakistan fez ini dinamakan Roman Cap (topi Romawi) atau Rumi Cap (tipi Rumi). Penggunaan fez di Asia Selatan merupakan lukisan dukungan kaum muslim di India atas kekahilifahan Turki Ottoman. Pada abad ke-13 orang memakai peci (songkok) menjadi pemandangan yang umum di Malaya (Malaysia sekarang).

Peci dalam masyarakat Indonesia, tampaknya juga tak lepas dari ciri khas atau etiket dan  kesantunan berbagai tradisi budaya di Indonesia yang berhubungan dengan busana. Inilah salah satu yang membedakannya dengan budaya Eropa, di mana perbedaannya terletak pada tekanan kepentingan antara penutup kepala dan alas kaki (sepatu dan sandal). Jika budaya kolonialisme Barat dicirikan dengan pemakaian alas kaki, maka sebaliknya dalam berbagai budaya di Nusantara hal semacam itu tidak ada.

Di berbagai candi dan relief, tidak ditemukan sosok yang memakai alas kaki. Pada sosok seorang raja sekalipun. Tapi tidak demikian halnya dengan penutup kepala. Ada berbagai penutup kepala dalam budaya di Indonesia yang menunjukkan betapa pentingnya hal itu dibanding alas kaki. Berbagai tutup kepala itu tak hanya dipakai dalam pengertian fungsinya, tapi juga untuk menjelaskan identitas etnis (puak), agama, kelas sosial, atau yang kemudian menjadi gaya dan identitas nasional seperti halnya peci.   Sebaliknya,  dalam budaya kolonialisme Barat pemakaian penutup kepala ini tak lebih sebagai fungsi, kecuali topi yang digunakan oleh kalangan agamawan.  

Dalam hubungan ini pula agaknya bisa dimengerti mengapa peci menjadi demikian panjang riwayatnya. Ia berada di antara identitas kelas sosial yang umum dipakai oleh buruh Melayu, agama, nasionalisme, hingga menjadi bagian dari trend dan gaya. Dan berkurangnya orang yang memakai peci karena munculnya penanda identitas lainnya seperti kupluk haji, menerangkan bahwa identitas dan gaya bukanlah sesuatu yang tetap. Ia akan terus bergerak dan berubah, tanpa mengurangi makna penting sebuah penutup kepala bagi orang Indonesia.

Dan sekarang, entah penutup kepala jenis apa yang bisa menjadi simbol nasionalisme orang Indonesia, sebagaimana dulu Soekarno mempopulerkannya. Atau mungkin simbol itu sudah tak lagi perlu, kecuali hanya untuk dipakai dalam peristiwa atau foto-foto resmi seperti nasib peci hari ini? (Ahda Imran)     
     

2 komentar:

  1. Saya pernah ditanyakan oleh Johannes Bunn, salah seorang mahasiswa Humboldt di Berlin, "Apakah peci yang Anda gunakan itu sebagai tanda Anda seorang muslim?
    "Lebih dari itu," jawab saya. "ini sebagai tanda saya orang Indonesia."

    Lalu, saat di Leipzig,

    Sebelum langkah kaki kami mencapai Leipzig Hauptbahnhof, stasiun besar dengan 24 gleis (jalur), Farid Mustofa memperkenalkan kami sebuah patung, Gottfried Leibniz, filsuf dari sono. Namun, karena rasa letih dan capek mulai terasa, enggan kami menambah jarak perjalanan dengan kaki. Sadar kalau sudah menyusuri trotoar begitu jauh, kami menyempatkan diri menikmati lalu-lalang manusia dari balik meja sebuah kafe tenda (Back Werk), sambil memesan kopi dan roti. Kami duduk sambil bertukar cerita pengalaman hidup masing-masing, ulang-alik, hilir-mudik, seperti pejalan kaki yang melintas di sekitar kami.
    Nah, saat tinggal beberapa langkah kaki lagi untuk mencapai stasiun, tiba-tiba, seseorang mencegat saya. Kami berhenti.
    “Mari, ikut kami menikmati wisata naik bis atap terbuka. Hanya 14 euro.”
    Saya kaget. Ini tawaran yang sangat menggoda. “Dankeschön. Sayang, kami mau pulang ke Berlin.”
    “Kamu dari Indoneisa?” Lelaki jangkung itu memperhatikan peci hitam nasional yang saya kenakan.
    “Ya.”
    “Ajib. Assalamualaikum.”
    Oh! Rupanya, dalam beberapa detik tadi, lelaki itu membuat pra-anggapan, atau semacam premis: “jika berpeci hitam, pasti dari Indonesia; jika dari Indonesia, kemungkinan besar seorang muslim”. Makanya, tak segan dia mengucapakan salam dan kami pun menjawabnya.

    Terima kasih pak Ahda. Saya suka bacaan ini. Salam...

    BalasHapus
  2. Terimakasih telah membaca dan meresponnya, Pak M.Faizi. Salam hangat atas perkenalan ini.

    BalasHapus