Selasa, 19 Agustus 2014

Tubuh Pemimpin




Ahda Imran---penyair dan esais

SEBUAH foto beredar di sosial media dan ditayangkan di salah satu stasiun TV. Foto itu memperlihatkan Jokowi sedang berjalan di antara ribuan pendukungnya memasuki Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, menghadiri Konser Salam Dua Jari. Meski beberapa orang mengawalnya, namun tampak dalam foto itu ada tangan seorang perempuan yang menjawil gemas pipi Jokowi. Lebih dari sekadar hendak memperlihatkan bentuk fanatisme seorang pendukung pada capres pilihannya, foto itu tampaknya sedang menjelaskan pula relasi makna kehadiran tubuh seorang capres dengan tubuh para pendukungnya. Relasi yang membuat para pendukung memaknai kehadiran tubuh Jokowi bukan sebagai tubuh elite, melainkan seolah kehadiran dari bagian tubuh mereka juga.

Kamis, 07 Agustus 2014

Perubahan Politik dan Ratuadilisme






Tentara Satrio Piningit itu tidak kelihatan, Jokowi juga begitu, karena tentaranya adalah para relawan yang bergerak di sosmed

ITU tulis seorang kawan di akun facebooknya, sehari setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) memutuskan pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla sebagai Presiden-Wakil Presiden terpilih Pilpres 2014. Benar tidaknya Jokowi adalah Satrio Piningit tentu saja perlu diperdebatkan (debatable). Sebagaimana pula sejumlah sosok yang sebelumnya diyakini, atau meyakinkan dirinya, sebagai Satrio Piningit.  Sosok yang dipercayai akan mengeluarkan rakyat dari kesengsaraan; memperbaiki segenap tatanan nilai yang telah porak-poranda, mengembalikan kembali hukum-hukum kebajikan. Sosok yang dalam banyak literature klasik Jawa kerap disebut sebagai representasi dari konsep Ratu Adil.     

Minggu, 20 Juli 2014

Menyoal RUU Kebudayaan




Ahda Imran—Penyair dan Esais

KEBUDAYAAN  tak pernah tersebut dalam hiruk-pikuk pilpres 2014. Apa lagi menjadi tema dalam perdebatan capres-cawapres. Bahkan pada perdebatan capres ihwal pertahanan dan ketahanan nasional, kedua capres tak sekalipun menyebut ketahanan budaya sebagai bagian dari visi-misi mereka. Kenyataan ini cukup mengherankan mengingat hubungan negara dan kebudayaan ialah suatu keniscayaan sebagaimana termaktub dalam konstitusi (Pasal 32 UUD 1945). 

Sementara jauh dari hingar bingar pilpres, RUU Kebudayaan mendesak untuk segera disahkan menjelang berakhirnya periode keanggotaan DPR RI (2009-2014). Desakan terhadap RUU yang telah disusun sejak tahun 2011 itu seolah kejar target. Terlebih lagi desakan juga terus bermunculan dari berbagai komunitas budaya. Terakhir dari hasil Temu Redaktur Kebudayaan III di Siak, Riau, 20-22 Mei 2014, dalam bentuk Petisi Siak 2014.

Salah satu butir petisi tersebut ialah desakan agar DPRI dan pemerintah segera mengesahkan RUU Kebudayaan sehingga pemerintahan baru hasil pilpres 2014 segera bisa menindaklanjuti. Tak jelas benar bagaimana sebenarnya forum pertemuan para redaktur kebudayaan itu  melakukan pembacaan atas RUU tersebut, seolah-olah RUU itu tak perlu lagi dipersoalkan.
   
Inferior                                                                         
RUU Kebudayaan terdiri atas tujuh bab dan 94 pasal ditambah penjelasan. Secara umum RUU ini hendak menjadi landasan strategi budaya dalam berbagai fenomena aktual yang terjadi di tengah realitas global. Namun, alih-alih menjawab keniscayaan itu dengan penuh percaya diri, bahkan sejak pagi RUU ini telah memperlihatkan sikap inferior.

Bahkan Inferioritas ini telah ditaruh sebagai pertimbangan terbitnya UU Kebudayaan, sebagaimana termaktub dalam Konsideran Menimbang huruf “c” ; bahwa nilai budaya dan keanekaragaman budaya di Indonesia sangat rentan terhadap pengaruh globalisasi sehingga dapat menimbulkan perubahan nilai budaya dalam masyarakat. 

Kalimat ini memosisikan globalisasi sebagai antagonis yang berbahaya bagi identitas sistem nilai berbagai budaya Indonesia. Sebaliknya dari itu, RUU ini memandang keberbagaian budaya di Indonesia sangat lemah, rentan terhadap pengaruh yang datang dari luar. Artinya, alih-alih dibaca sebagai ruang dialog, globalisasi dimaknai sebagai ancaman yang berbahaya. Pandangan ini jelas mengabaikan pembacaan atas realitas historis, bagaimana beragam budaya di Indonesia terbentuk sebagai hasil pertemuan dan dialektika kebudayaan yang telah berlangsung sejak ratusan tahun silam.  

Penilaian bahwa berbagai budaya di Indonesia itu sangat rentan terhadap pengaruh yang datang dari luar, membawa logika penilaian; budaya global itu kuat dan budaya Indonesia itu lemah. Sangat sulit membayangkan strategi budaya suatu negara dijalankan di atas landasan UU yang disusun dengan pertimbangan yang inferior semacam ini. 

Pengendalian
Penilaian bahwa budaya Indonesia sangat rentan, akhirnya menjadi pembenaran pentingnya pemerintah mengelola, mengawasi, dan mengendalikan kebudayaan, sebagaimana RUU ini memaktubkannya dalam Pasal 1 Poin 5.  Asumsi bahwa budaya Indonesia lemah di tengah globalisasi lebih jauh memberi peran besar pada pemerintah untuk tak sekadar mengawasi dan mengendalikan, namun juga melindungi.

Tentu saja adalah kewajiban negara melindungi berbagai aset dan potensi budaya. Namun dalam RUU ini bentuk proteksi yang dilakukan muncul dari ketidakpercayaan bahwa berbagai budaya di Indonesia memiliki mekanisme perlindungan dirinya. Oleh sebab itulah ada sembilan pasal yang menyebut pembentukan Komisi Perlindungan Kebudayaan. Komisi ini dibentuk oleh pemerintah dan bertanggungjawab pada presiden.   
Tugas pokok komisi ini adalah mengawasi penyelenggaraan kebudayaan, membuat sejumlah kriteria dampak negarif kebudayaan, hingga menetapkan status sebuah bentuk budaya yang berdampak negatif.

Dengan eufemisme melindungi, komisi ini lebih terkesan sebagai  perpanjangan tangan pemerintah; mengawasi, mengontrol, menyensor beragam ekspresi kebudayaan. Keberadaan komisi ini jauh dari menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya, sebagaimana dimaktubkan dalam Pasal 32 UUD 1945.  

Pembacaan yang lebih kritis dan hati-hati atas RUU Kebudayaan tampaknya lebih diperlukan ketimbang mendesak pengesahannya. Mengesahkan RUU ini menjadi UU Kebudayaan dengan semangat yang akan menjadi landasan bagi dominasi pemerintah serupa itu, risikonya kelewat besar. Apalagi hanya demi kepuasan para anggora DPR untuk melunasi semua kewajibannya.**

Sumber: Pikiran Rakyat, 19 Juli 2014

Jumat, 30 Mei 2014

Utopia Para Pemuja




Oleh Ahda Imran

PILPRES  2014 tampaknya tengah memberi gelagat ke arah realitas demokrasi yang disesaki para pemuja. Meski belum tentu berlaku sebaliknya, sebagaimana ghalibnya para pemuja sekaligus adalah para pembenci. Dengan dua pasangan capres-cawapres (Joko Widodo-Yusuf Kalla; Prabowo Subianto-Hatta Rajasa), terutama di jejaring media-sosial, para pemuja kedua kubu riuh saling serang. Memuja kandidat pilihan seraya menaruh kebencian yang sengit pada kandidat pesaing.  Jejaring media-sosial lalu menjadi “Kurusetra”; perjumpaan para pemuja sekaligus pertempuran para pembenci.

Karnaval para para pemuja ini tak sebatas hanya diikuti khalayak awam, melainkan pula para elite politik di kedua kubu pasangan. Seperti para pemuja lainnya, orang-orang terhormat ini pun berlaku sama. Rajin melontarkan sinisme ke arah figur kandidat pesaing, dengan agresivitas yang sama dengan khalayak awam.

Minggu, 25 Mei 2014

Sakitnya Merawat Harapan




---Ahda Imran, penyair dan esais

MESKI  kian berselisih jalan dengan yang apa selalu dijanjikan, belumlah cukup alasan untuk berhenti menaruh harapan pada demokrasi. Harapan bahwa dinamika politik bukan melulu rutinitas yang serba teknis prosedural. Namun, membawa nilai yang mewujud bagi kemaslahatan dan kedaulatan khayalak, kebebasan, kesetaraan, dan keadilan. Dan seakan tengah mengamalkan ungkapan Erich Formm, bahwa harapan adalah tiang penyangga dunia, di Indonesia khalayak merawat tiang penyangga itu dengan tangan yang sakit. 

Selasa, 06 Mei 2014

Mei 1998 dan Politik Ingatan




  ---Ahda Imran , penyair & esais

AWAL tahun 1998, di tengah semangat reformasi dan ketegangan yang kian mengancam 32 tahun kejayaan Orde Baru, ada terbit sebuah buku, “Mereka dari Bandung:Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967”.  Buku setebal 524 halaman itu ditulis oleh Hasyrul Moechtar, diterbitkan oleh Penerbit Alumni. Buku ini terbit di tahun yang genting. Tahun penghujung dari apa yang ingin diingat dalam buku tersebut, perjuangan para mahasiswa yang turut membidani lahirnya Orde Baru.  Seluruh halaman buku seakan hadir demi memaknai masa silam yang jejak perjalanannya di tahun 1998 itu oleh para mahasiswa sedang mati-matian ditumbangkan.  Dan empat bulan setelah buku itu terbit, kejayaan Orde Baru berakhir.   

Senin, 07 April 2014

Tubuh Primordial dari Sebuah Festival Teater




Oleh Ahda Imran

TAK  pernah ada di Indonesia sebuah festival teater berbahasa daerah yang secara kontinu berlangsung sepanjang 25 tahun, seperti Festival Drama Basa Sunda (FDBS). Berlangsung dua tahunan sejak 1988, bertempat di Gedung Kesenian Rumentang Siang Bandung, diselenggarakan oleh Teater Sunda Kiwari (TSK). Peneraan kata “Drama Basa Sunda” menjelaskan bentuk pertunjukkan yang dianut oleh festival ini, yaitu, teater modern dalam bahasa daerah.  Peneraan ini sekaligus sedang menjelaskan hasrat TSK mensyiarkan anutan ideologi estetika mereka. Yakni,  menaruh atau memaknai bahasa dan tubuh primordial (Sunda) di atas panggung teater modern.  

Festival ini seakan ingin menawarkan perspektif berikutnya demi memeriksa asumsi bahwa jagat teater modern adalah teater urban. Jagat yang setidaknya terkesan kuat menaruh setiap pertunjukan berbahasa lokal sebagai yang bukan teater modern. Bila pun ada, lokalitas itu tak lebih sekadar demi meneguhkan apa yang disebut dengan teater modern Indonesia, sebagaimana mengemuka dalam tema perhelatan Forum Teater Empat Kota  1976  di Jakarta ; “Warna Daerah dalam Teater Indonesia”.  Atau, yang mudah ditemukan dalam berbagai produksi kelompok teater modern dengan latar warna dan idiom budaya daerah.

Senin, 24 Maret 2014

Esai Penutup "Rusa Berbulu Merah"




Mythopoesis, Urban Pastoral
Suatu Kemungkinan Membaca “Rusa Berbulu Merah”

                                                          ---TIA SETIADI

A myth was an event which, in some sense, had happened once, but which also happened all the time.
(A Short History of Myth, Karen Amstrong)

These fragments I have shored against my ruins.
( The Waste Land, T.S.Elliot)

/1/
         
Bisa dikatakan bahwa kumpulan sajak Ahda Imran yang terbaru bertajuk Rusa Berbulu Merah adalah sajak-sajak yang sadar diri, puisi-puisi yang tertegun merenungkan dirinya . Bagian pertama dan bagian terakhir dari kumpulan ini adalah sajak tentang sajak, bagaimana sajak dibuat, bagaimana perannya dalam menemukan diri dan melampauinya, menemukan universum yang lain dan merekonsiliasinya, membersihkan dan menciptakan bahasa dan defleksi-defleksinya, kutukan-kutukannya. Kata-kata seperti bergulung pada dirinya, dan seraya demikian juga menyucikan dan membeningkan dirinya. Maka dengan begitu  kumpulan sajak Ahda ini ibarat sirkuit, suatu putaran melingkar yang awalnya adalah juga akhirnya. Di tengah-tengahnya si aku lirik menjelma desisan ular, rusa berbulu merah, burung-burung, kaki angin dan malam dan kelok jalan, orang lain dan makhluk lain. Dan pada akhirnya—menyitir kalimat Octavio Paz—“citra tentang manusia menjadi terlahirkan dalam manusia.” Si aku lirik menjelma citra yang merekonsiliasi—dan mentranformasi—segala anasir yang bersitentang, puisi yang menciptakan dirinya, dan berbicara kepada dirinya, dengan dan melalui dirinya.
            Ruh kumpulan sajak ini agaknya terkondensasi dalam bagian akhir Empat Pelajaran Menulis Puisi. Kredo puisi yang ditulis dengan puisi, sekaligus membabarkan stasi-stasi yang ditempuh penyair dalam menulis puisi. Saya mendapati bahwa stasi-stasi ini ham

Sabtu, 01 Maret 2014

Menanti Seniman Politik




---Ahda Imran,  Penyair dan Esais


NAMANYA Nyoman Anjani, Presiden Keluarga Mahasiswa ITB, sedang menyelesaikan tugas akhirnya di Jurusan Teknik Mesin. Memakai baju hangat, celana jins dan sepatu keats, rambut terurai, memakai kacamata, dan cantik. Malam itu (22/1), dalam acara “Peta(ka): Orasi Kebudayaan Akhir Tahun” di Lapangan Merah Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB , ia tampil sebagai orator paling muda di antara orator lainnya; Dr. Yasraf Amir Piliang, Prof. Setiawan Sabana, Dr. Asep Salahudin, Gustaff Hariman Iskandar, dan Prof. Bambang Hidayat. Dengan gayanya yang santai ia bicara ihwal politik dan seni, tanpa perlu mengutip kalimat-kali gagah Marx, Soekarno, Tan Malaka, Lenin, atau Plato, yang lazimnya jadi kebiasaan aktivis kampus. 

Senin, 10 Februari 2014

Sandiwara Tan Malaka



SEJAK  ia ditangkap di Bandung dan diusir oleh pemerintah kolonial tahun 1922, mengembara berpuluh-puluh tahun ke berbagai negeri di Eropa dan Asia, serta kembali ke Indonesia pada tahun 1942, Tan Malaka hidup sebagai seorang pelarian politik. Ia tak sekadar dikejar dan diburu oleh intelijen Inggris, Belanda, dan Amerika Serikat, tetapi juga dimusuhi oleh Komunis International (Komintern). Dan selama dalam pengembaraannya itu Tan Malaka hidup dengan banyak nama. Ketika berada di Filipina ia mengaku bernama Ellias Fuentes, Estahislau Rivera, Alisio Rivera. Ong Song Lee atau Tang Ming Sion, Chen Kuan Tat,  sewaktu ia berada di China dan Birma. Ketika berada di Singapura ia mengaku bernama Hasan Gozali, dan Ilyas Husein sewaktu ia datang ke Indonesia.

Senin, 03 Februari 2014

33 Tokoh Sastra dan Akal Sehat




Oleh Ahda Imran

JANUARI 2013  penerbit PT JurnalSajak Indonesia menerbitkan buku bertajuk “Puisi Esai Kemungkinan Baru Puisi Indonesia” (PEKBPI).  Dieditori oleh penyair Acep Zamzam Noor, buku ini sepenuhnya menyoal ihwal puisi esai. Ragam puisi baru yang digagas oleh D. Jauhar Ali, konsultan politik termashur di Lingkar Survey Indonesia (LSI), yang pada 2012 menerbitkan kumpulan puisi esai “Atas Nama Cinta” (ANC).  Seraya memuat ulasan perihal kumpulan ANC, PEKBPI  memuat pula segala ihwal yang bersangkut soal dengan puisi esai..

Dalam sejarah sastra Indonesia, belum pernah ada sebuah buku diterbitkan demi menyambut kumpulan puisi seorang penyair seperti ANC. Tidak tanggung-tanggung, para penulis yang mengulas kumpulan itu pun adalah sejumlah tokoh berpengaruh, Sutardji Calzoem Bachri, Sapardi Djoko Damono, Ignas Kleiden, Leon Agusta, Agus R.Sardjono, Jamal D.Rahman. Pada intinya, PEKBPI menyambut kehadiran kumpulan D. Jauhar Ali tersebut sebagai pemberi kesegaran bagi perpuisian Indonesia.

Januari 2014 terbitlah buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” (33 TSIPB).

Minggu, 29 Desember 2013

Rumah Puisi, Rumah di Telapak Dua Gunung




-- Ahda Imran

SELEPAS Kota Padangpanjang, di Kanagarian Ai Angek Kabupaten Tanah Datar Sumatra Barat,
terdapatlah setumpak tanah di atas ketinggian yang terletak di pertemuan telapak Gunung Singgalang dan Gunung Merapi. Di situlah letaknya Rumah Puisi. Menyendiri dikelilingi areal kebun, persawahan, dan sebuah jalan kecil menurun berbatu menuju jalan besar yang menikung. Yang disebut Rumah Puisi itu adalah sebuah bangunan yang terbilang megah dan nyaman. Nyaris seluruh bagian depan dan sampingnya berdinding kaca sehingga apa yang terdapat di dalam gedung itu, yakni ruang diskusi dan perpustakaan, dan semua kegiatannya bisa tampak dari luar.

Rabu, 16 Oktober 2013

Menonton Tubuh Perempuan yang Bersalah




---AHDA IMRAN

KARENA bentuk payudaranya yang elok, Florita diperkosa oleh ayah tirinya. Hamil lalu mati bunuh diri.  Ervina, adiknya, luput dari kemalangan semacam itu karena ia payudaranya rata. Namun, karena takut Ervina melarikan diri  dan menikah. Dan di malam pengantin barulah ia tahu bahwa jenis kelaminnya bukanlah perempuan. Bagian tubuhnya yang ia sangka sebagai vagina ternyata penis. Nalar cerita tentu segera saja mengangsurkan gugatan, sangat mustahil seseorang tidak mengenal dan mengetahui jenis kelamin yang melekat di tubuhnya sampai ia menjadi dewasa. 

Maaf, bukan itu yang sedang diperkarakan. Metafora kisahan itu sedang memperkarakan situasi tubuh perempuan di tengah hasrat kuasa masyarakat lelaki. Situasi yang menaruh tubuh perempuan senantiasa menjadi tubuh yang bersalah, sebagaimana terjadi pada payudara Florita. Karena itulah perempuan kerap dipaksa harus keluar dari tubuhnya agar ia bukan lagi tubuh yang bersalah, tubuh yang dikoloni. Pula demikian bila ingin melakukan perlawanan, tak ada jalan lain bagi perempuan kecuali memiliki dan menjadi tubuh lelaki.

Selasa, 01 Oktober 2013

Selamat Jalan, Mas Tandi, Maafkan Kami....


Ahda Imran---Penyair dan Esais

“Saya ingin menulis sesuatu untuk mengingatkan sesuatu”


BEGITU dialog tokoh penulis cerpen bernama Tandi dalam cerpennya “Paitua Pejabat Jawa-kah?”, yang termuat di kumpulan “Sperma Airmata” (SkyiArt:2012). Seperti yang mudah dijumpai di banyak tulisannya, terutama cerpen dan novel,  ia selalu memberi identitias tokoh utamanya sebagai dirinya, Tandi Skober. Siasat bercerita ini menarik bukan semata demi menipiskan  jarak realitas fiksi dan fakta, namun melalui tokohnya itu Tandi Skober leluasa menghadirkan berbagai pandangannya. Termasuk apa makna menulis baginya sehingga kerja menulis terasa diimaninya sebagai suatu kewajiban hidup; ...untuk mengingatkan sesuatu.

Karena itu Tandi Skober terus menulis, bahkan di hari-hari terakhir hidupnya. Penulis produktif, bersahaja, dan amat akrab dengan para seniman dan penulis muda ini, wafat di RS. Al-Islam Bandung 29 September pkl.19.30 WIB., karena serangan jantung. Bila merujuk pada biodata yang tertera dalam novelnya “Pelacur, Politik, dan he he he”,  Tandi Skober wafat di penghujung bulan kelahirannya, sepekan setelah tanggal kelahirannya, 22 September.

Minggu, 04 Agustus 2013

Kampung Halaman

MARILAH kita mulai dengan seorang kawan. Meski baru saja dua bulan yang lalu ia dan anak istrinya pulang kampung untuk menghadiri perkawinan seorang kerabat sekaligus mengantar liburan sekolah anaknya, tapi sudah sejak tiga hari yang lalu seorang teman saya kembali bersiap untuk kembali mudik.

Meski akhirnya tiket kereta ekonomi itu sudah di tangan, persoalan ternyata belum selesai. Bagaimana dengan oleh-oleh untuk ibu, bulik, paklik, emang, uwak, bibi, atau anak kemenakan, dan kerabat lainnya di kampung? Lalu terbayanglah barang bawaan yang angkaribung, dan jangan lupa, suasana 15 jam perjalanan yang menyebalkan itu.

Tapi seperti tahun-tahun sebelumnya, semua keadaan itu dilakoni dengan sikap seakan-akan memang sudah demikian mestinya, tanpa perlu melihatnya sebagai beban. Saya merasa kagum dan cemburu dengan kesabaran teman saya itu.

Rabu, 31 Juli 2013

Tubuh Puasa, Tubuh Belanja



---Ahda Imran, penyair dan esais

SANGAT sulit memisahkan hubungan agama dan ekonomi, untuk tidak menyebutnya niscaya. Nyaris tak ada aktivitas keagamaan yang tidak menimbulkan aktivitas produksi, distribusi, konsumsi, atau memengaruhi grafik permintaan-penawaran. Tentu tidaklah sulit menemukan contohnya. Naiknya grafik permintaan-penawaran kambing atau sapi menjelang Hari Raya Idul Adha, atau kenaikan harga tiket berbagai angkutan seiring tingginya angka permintaan menjelang lebaran.  Yang sakral di situ memberi berkah bagi yang profan.

Dalam hubungan semacam itu,  ritus agama hadir sebagai fenomena yang berkuasa atas tubuh penganutnya. Tubuh ritus yang hadir secara independen dan otonom. Tubuh yang identifikasinya bisa dibaca dari Mircea Eliade (1949), yakni, fenomena yang  tidak bisa diartikan sebagai produk realitas yang lain. Singkatnya, tubuh ritus ialah tubuh yang tak berkorespondensi dengan realitas lain kecuali dengan realitas yang sakral, dengan yang transenden. Sedangkan yang profan lebih hadir kemudian, dan tak memiliki kesanggupan untuk memengaruhi tubuh ritus.

Selasa, 16 Juli 2013

Rumah Topeng dan Wayang Setia Dharma


Jejak dan Bayang Manusia


Oleh AHDA IMRAN

TOPENG  itu terbuat dari kayu. Berasal dari Suku Dogon di Mali, Afrika. Bentuk hidung dan sepasang lubang matanya tampak besar. Dibanding ragam dan watak topeng Afrika umumnya, tak ada yang aneh dengan topeng itu. Yang tak lazim ialah topeng itu memiliki bagian kayu yang mencuat ke atas, sekira setengah meter, dengan dua persilangan geometris mirip antene, sehingga tampak futuristik. Bentuk topeng yang tak lazim itu bertaut erat dengan tradisi lisan Suku Dogon yang meyakini, bahwa mereka adalah keturunan mahluk luar angkasa.  Tak jelas sudah berapa tahun usia topeng itu. Dari tekstur dan warna kayunya, topeng itu tampak sudah sangat tua, disimpan di balik lemari kaca.

Kamis, 11 Juli 2013

Ridwan Kamil dan Utopia Sebuah Kota



Ahda Imran, penyair dan esais

SETAHUN setelah harian ini menganugerahinya “Pikiran Rakyat Award 2012” untuk kategori “Tokoh Muda Kreatif”,  Ridwan Kamil memenangi Pilwalkot Kota Bandung 2013.  Usianya 42 tahun. Mungkin ia walikota termuda dalam sejarah Kota Bandung.  Inilah kali pertama Bandung dipimpin oleh seseorang di luar apa yang telah menjadi “tradisi” sejak masa Orde Baru, yakni, pensiunan tentara atau birokrat. Bahkan, kecuali diusung oleh partai politik yang mencalonkannya, pula ia bukanlah seseorang yang selama ini diidentifikasi sebagai politikus, aktivis partai, atau anggota sebuah ormas yang ditautkan dengan partai politik tertentu.  

Ia selama ini lebih dikenal sebagai arsitek dengan sejumlah gagasan serta proyek arsitektur ruang perkotaan di tengah perkembangan masyarakat urban. Ringkasnya, ia berasal dari luar lingkaran kekuasaan dan pemerintahan. Tak memiliki referensi pengalaman apa pun perihal jaringan birokrasi kekuasaan atau pemerintahan. Ini menjadi menarik, sebab  kekuasaan niscaya bersoal dengan bagaimana kekuasaan itu dijalankan. Terlebih manakala kekuasaan itu dijalankan sonder referensi pengalaman, termasuk ihwal tata kelola pemerintahan atau watak dan etos kerja birokrasi.      

Rabu, 08 Mei 2013

“Kolong Meja” Hanafi




Oleh AHDA IMRAN

TAK ada yang aneh dengan kolong meja. Selain tempat orang menjulurkan kakinya sambil duduk mengerjakan semua urusan di atas meja, tak ada yang kudu dipersoalkan dengan kolong meja. Semua persoalan dan urusan berlangsung di atas meja. Meja merupakan sebuah “arena”, tak hanya pekerjaan dan urusan pribadi. Tapi juga perbincangan, perjanjian dan mufakat atau kesepakatan sosial yang semuanya berawal serta diresmikan di atas meja.  Oleh sebab itu, meja akhirnya kerap pula dipahami bukan melulu sebagai benda, namun suatu metafora, representasi dari realitas yang sudah menjadi kesepakatan dan bisa dijelaskan. Maka tak ada yang lantas menjadi penting dengan ruang yang berada di bawahnya, yakni, kolong meja. Ruang yang bukan sebuah “arena” melainkan melulu kegelapan.

Minggu, 31 Maret 2013

Menyoal Hari Sastra Indonesia


Oleh AHDA IMRAN

MENETAPKAN  hari lahir seseorang sebagai penanda penting bagi ingatan kolektif, tentu lumrah saja. Kelahiran orang suci, nabi, wali, pahlawan atau yang sosok dikeramatkan kerap menjadi hari dan peristiwa penting yang jadi tradisi perayaan hingga ritual. Biografi seseorang di situ diubah menjadi biografi ingatan di ranah publik. Inilah yang hendak ditating oleh Taufiq Ismail dan sejumlah sastrawan yang lalu menggagas perlunya ada sebuah hari untuk memperingati sastra Indonesia. Mereka, dan sejumlah sastrawan lainnya, berkumpul di Bukittinggi Sumatera Barat, Minggu (24/3), dan lahirlah Maklumat Hari Sastra Indonesia yang ditetapkan setiap tanggal 3 Juli. Penetapan ini mendasar pada hari kelahiran sastrawan penulis novel terkenal “Salah Asuhan” (1928) Abdoel Moeis  di Bukittinggi 3 Juli 1883.