Tampilkan postingan dengan label KOLOM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KOLOM. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Maret 2016

Gus Dur Sebagai Kata Kerja


stradanieva.blogspot.com
JIKA kebudayaan dibaca sebagai kata kerja, pula demikian dengan K.H. Aburrahman Wahid (Gus Dur). Pergulatannya dalam jagat pemikiran kebudayaan bergerak dengan rambahan wacana yang demikian luas. Dan karena itulah, misalnya, Agus Maftuh Abegebriel dalam pengantar pada buku kumpulan tulisan Gus Dur Islam Kosmopolitan, menceritakan pengalamannya ketika ia meminta sejumlah orang untuk mendefinisikan Gus Dur. Dan ia terperanjat sekaligus setuju ketika seseorang menulis bahwa Gus Dur tidak terdefinisikan. Greg Barton, Greg Fealy, Robert W. Hefner, Andree Feillard, hanyalah sedikit dari pengkaji dan penelaah pemikiran Gus Dur. Akan tetapi tetap saja daya jelajah pemikiran mantan Ketua DKJ dan Presiden ke-4 RI ini sulit didefinisikan karena begitu banyaknya pintu untuk mendefinisikannya.

Gus Dur adalah sebuah fenomena. Tak hanya sebagai fenomena bahwa ia adalah seorang pemikir, penulis, tokoh Islam, politisi, bahkan juga sebagai seorang budayawan yang mampu mentransformasikan nilai-nilai tradisionalisme ke dalam peradaban modern. Tradisi, bagi Gus Dur, bukanlah tentang bagaimana merawat masa lalu, apalagi untuk mengubahnya menjadi ideologi kekuasaan. Dalam konteks pemikiran Islam dan kebudayaan, Gus Dur melihat masa lalu adalah ruang untuk menelaah sebuah spirit sehingga ia bisa memberi jawaban pada kekinian.

Minggu, 04 Agustus 2013

Kampung Halaman

MARILAH kita mulai dengan seorang kawan. Meski baru saja dua bulan yang lalu ia dan anak istrinya pulang kampung untuk menghadiri perkawinan seorang kerabat sekaligus mengantar liburan sekolah anaknya, tapi sudah sejak tiga hari yang lalu seorang teman saya kembali bersiap untuk kembali mudik.

Meski akhirnya tiket kereta ekonomi itu sudah di tangan, persoalan ternyata belum selesai. Bagaimana dengan oleh-oleh untuk ibu, bulik, paklik, emang, uwak, bibi, atau anak kemenakan, dan kerabat lainnya di kampung? Lalu terbayanglah barang bawaan yang angkaribung, dan jangan lupa, suasana 15 jam perjalanan yang menyebalkan itu.

Tapi seperti tahun-tahun sebelumnya, semua keadaan itu dilakoni dengan sikap seakan-akan memang sudah demikian mestinya, tanpa perlu melihatnya sebagai beban. Saya merasa kagum dan cemburu dengan kesabaran teman saya itu.

Jumat, 02 Desember 2011

Suyatna Anirun


BARANGKALI seperti cinta, kesenian itu tak pernah bertanya tentang “apa”, tapi “bagaimana” mencintai itu sendiri. Bagaimanapun rumitnya, mencintai adalah sebuah peristiwa dengan martabat kesetiaan di dalamnya. Dan kesetiaan seorang seniman akan menjadi sangat dangkal jika dipersamakan dengan keyakinan dalam loyalitas kepentingan politik yang tabiatnya senantiasa pragmatis itu; ke mana arah angin ke situlah hidungnya menghadap! Sejenis sikap dan pekerjaan yang telah mengubah dunia manusia menjadi benda. 

Inilah yang melainkan kesetiaan seorang seniman pada bagaimana ia menghadapi dunia manusia dan kemanusiaan. Kesetiaan seolah-olah telah menjelma menjadi mahluk lain dalam dirinya. Menjadi peristiwa.