SASTRA sebagai pergulatan kreatif adalah sebuah jalan sunyi. Jalan yang tak
mudah beriringan dengan kepentingan industri, apalagi popularitas. Meski hal
itu akan sangat menggembirakan bila bisa diseiringkan, namun fenomena yang
terjadi di tengah gegap gempitanya aktivitas industri penerbitan dan
sosialisasi karya sastra yang terjadi akhir-akhir ini ternyata menimbulkan
semacam kecemasan juga. Sastra tidak lagi dimasuki lewat pergulatan jalan sunyi
yang penuh kesabaran. Tak ayal lagi tuntutan industri dan
kepentingan-kepentingan yang pragmatis telah melahirkan budaya instan dalam
berkesusastraan. Intensitas dalam pergulatan kreatif tersisihkan oleh tujuan
dan kepentingan-kepentingan pragmatis, termasuk eksistensi dan popularitas.
Banyak karya yang bermunculan tapi sebanyak dan secepat itu juga yang hilang,
hanya sedikit yang kemudian mampu mengendap.
Tampilkan postingan dengan label Reportase Diskusi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Reportase Diskusi. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 12 Maret 2016
Jumat, 23 Maret 2012
Pesantren, Benteng Terakhir Pendidikan Bahasa Sunda?
PENDIDIKAN bahasa Sunda di sekolah yang lebih menitikberatkan bahasa sebagai ilmu (pengaweruh) ketimbang sebagai alat untuk berkomunikasi, telah membuat anak-anak muda malas untuk berbahasa Sunda. Pengajaran bahasa jadi penuh hapalan yang memberatkan anak didik. Kurikulum pendidikan bahasa Sunda semacam inilah yang menjadi bagian dari kecemasan, jangan-jangan upaya ngamumule (merawat dan memelihara) bahasa Sunda justru adalah kita sedang membakar panggung dengan bensin kita sendiri. Satu-satu lembaga pendidikan yang kini masih mengajarkan bahasa Sunda sebagai alat berkomunikasi hanyalah pesantren.
Rendra, Rumah dengan Banyak Kamar
SEBAGAI seorang seniman dan budayawan, Rendra (1935-2009) tak ubahnya dengan bangunan yang memiliki kamar-kamar besar. Dalam bangunan itulah Rendra menunjukkan dedikasi kesenimannya. Bagi Rendra, kesenian haruslah sejajar dengan kehidupan lainnya. Begitu juga menjadi seorang seniman haruslah berdiri sejajar dengan siapapun, tak terkecuali di depan seorang Jenderal. Di mata Rendra, kemampuan emasipasi seorang individu dalam sebuah hubungan sosial haruslah dipuncaki pada yang disebutnya dengan Ananingsun, marganira, ananira magraningsun (Aku ada karena Anda, Anda ada karena aku).
Langganan:
Komentar (Atom)