Tampilkan postingan dengan label Reportase Pameran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Reportase Pameran. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Maret 2016

Bunga Dari Yunizar

BUNGA-BUNGA itu terlihat aneh. Ia tumbuh dengan garis batang dan ranting yang kaku, jauh dari lentur sebagaimana mestinya, bahkan tak ada selembar pun daun. Bunga-bunga itu pun terlihat tidak tumbuh di ujung ranting, tetapi seolah menclok begitu saja. Alih-alih memamerkan kelopaknya yang indah dan lembut, bunga itu terlihat kaku. Kelopak-kelopaknya tampak keras dengan bentuknya yang terlalu sederhana untuk menyebutnya kelopak bunga.

Tak ada apa pun di kelopak-kelopak bunga itu, embun, sisa air hujan, semut, kupu-kupu, bahkan juga gerak angin yang membuat kelopak bunga itu bergerak atau jatuh. Warna bunga-bunga itu pun aneh. Ia hanya mempunyai satu warna seperti batang dan rantingnya, bahkan juga seperti warna pot tempat ia tegak tumbuh.

 Inilah bunga yang dihadirkan oleh Yunizar di atas selusin kanvasnya dalam pameran tunggalnya bertajuk "Jogja Psychedeli Flowers from Yunizar" di Galeri Soemardja Bandung, selama hampir satu bulan (3 Agustus-30 Agustus 2010). Sebagaimana judulnya, pameran yang dikuratori oleh Aminuddin T.H. Siregar ini memang seluruhnya mengusung bunga sebagai subjeknya. Sebuah seri yang dilengkapi oleh satu karya objek berupa ribuan lebah.

Jumat, 02 Maret 2012

Narasi Hasrat dan Romantika Urban

MAO Ze Dhong masuk dan berdiri di depan pintu kamar. Sambil memegang topinya, matanya mendelik ke arah perempuan yang duduk di atas ranjang, di balik kelambu. Perempuan itu bergaun merah menyala dengan model yang banyak dipakai oleh gadis-gadis Cina.

Seperti Ketua Mao, perempuan itu bertubuh gemuk. Dia duduk di tepi ranjang. Sikap tubuhnya tampak ragu dan malu-malu. Sebelah tangannya menarik kain kelambu, menutupi separuh tubuh dan wajahnya. Tapi di antara celah kain kelambu, tampaklah ekspresi wajah perempuan itu. Matanya terpejam dan mulutnya setengah terbuka.

Di antara celah kain kelambu, dengan rambut pirang dan ekspresi wajahnya yang tak asing, jelaslah siapa

Minggu, 13 November 2011

INDIA DI ATAS KANVAS



 SORE, mendekati malam, dalam hari yang gerimis di sudut Kota Kalkuta. Langit berkabut, membuat bayangan di kejauhan. Puncak-puncak gedung tua dengan arsitekturnya yang unik, menara atau kubah. Sebuah gedung tua di sisi jalan tampak berdiri dengan agung, terasa murung. Di atas jalanan itu kabel-kabel listrik merentang kaku dari berbagai arah. Di kejauhan, samar oleh kabut, kabel-kabel berjuntaian bersama rentangan tali di antara kedua sisi jalan yang mengikat sebuah kain, seperti spanduk.  

Jalanan basah memantulkan cahaya lampu dan bayangan tubuh orang yang berjalan di antara riuh kendaraan. Sebagian mereka berpayung. Dalam kabut di kejauhan, payung-payung itu menyerupai cendawan. Di bawah gerimis dan langit yang berkabut, jalanan tetap menghadirkan gerak keriuhan, meski seakan-akan mengendap dalam cuaca dingin yang menggigit. Sebuah trem melintas. Sinar lampunya memantul pada batang-batang besi rel.

Suasana seperti itulah yang divisualkan Ananta Mandal dalam beberapa lukisannya bertajuk "Feel the Child". Pada beberapa karyanya, Ananta terkesan mengambil objek yang sama, namun dengan sudut pandang dan waktu berbeda. Seri ini tampil dengan style pendekatan realistik yang memikat, termasuk ketika ia menampilkan juga citraan realisme ekspresif yang secara kuat memberi aksentuasi dan efek karakter suasana objeknya. Objek tampak dihadirkan tanpa keinginanan menampilkan detail, namun lebih menekan pada gerak dan nafas suasana. 

Adegan orang berjalan di tengah kendaraan yang padat di bawah siraman gerimis, ditampilkan dengan karakter garis dan volume yang menyaran pada suatu gerak. Begitu pula, bagaimana ia menggarap efek pewarnaan untuk menciptakan pantulan cahaya lampu di jalanan yang basah.

BUNGA DARI YUNIZAR



BUNGA-bunga itu terlihat aneh. Ia tumbuh dengan garis batang dan reranting yang kaku, jauh dari lentur sebagaimana mestinya, bahkan tak ada selembar pun daun. Bunga-bunga itu pun terlihat tidak tumbuh di ujung ranting, tapi seolah menclok begitu saja. Alih-alih memamerkan kelopaknya yang indah dan lembut, bunga itu terlihat kaku. Kelopak-kelopaknya tampak keras dengan bentuknya yang terlalu sederhana untuk menyebutnya kelopak bunga.

Tak ada apapun di kelopak-kelopak bunga itu, embun, sisa air hujan, semut, kupu-kupu, bahkan juga gerak angin yang membuat kelopak bunga itu bergerak atau jatuh. Warna bunga-bunga itu pun aneh. Ia hanya mempunyai satu warna seperti batang dan rantingnya, bahkan juga seperti warna pot tempat ia tegak tumbuh.

Inilah bunga yang dihadirkan oleh Yunizar di atas selusin kanvasnya dalam pameran tunggalnya bertajuk “Jogja Psychedeli Flowers from Yunizar”, di Galeri Soemardja Bandung, selama hampir satu bulan (3-30 Agustus 2010) yang lalu. Sebagaimana judulnya, pameran yang dikuratori oleh Aminuddin T.H. Siregar ini memang seluruhnya mengusung bunga sebagai subjek matter-nya. Sebuah seri yang dilengkapi oleh satu karya objek berupa ribuan lebah.

Sabtu, 12 November 2011

Identitas Islam di Luar Kaligrafi










SETELAH menyampaikan sambutan untuk membuka pameran, diantar oleh sejumlah panitia, Menko Perekonomian Hatta Rajasa memasuki galeri. Melihat banyaknya sandal sepatu yang berderet ditangga, seperti halnya pemandangan di batas suci masjid, Sang Menteri pun segera hendak melepas sepatunya. Beruntunglah seorang panitia berbisik bahwa sandal dan sepatu itu adalah bagian dari karya, jadi ia tak perlu membuka sepatunya. Tapi, tidak demikian keesokkan harinya, Kamis (28/7), ketika sejumlah siswa SMP berkunjung ke galeri. Beberapa di antara mereka memasuki galeri dengan mencopot sepatu, menderetkannya bersama sandal dan sepatu yang sebenarnya adalah sebuah karya!

Deretan sandal dan sepatu itu merupakan instalasi karya Wiyoga Muhardanto berjudul “Study Forum for Certain Case”. Sebuah karya yang hanya terdiri dari deretan sandal dan sepatu yang disimpan di anak tangga galeri, tapi langsung memprovokasi ingatan orang pada batas antara ruang sakral dan ruang profan. Satu dari 200 karya yang dipamerkan dalam Pameran Besar Seni Rupa Kontemporer Islami dengan tajuk “Bayang”, yang berlangsung di Galeri Nasional Jakarta, 27 Juli-14 Agustus 2011 dikurator oleh Rizki A.Zaelani.

Karya Wiyogya di pintu masuk seakan jadi semacam sambutan yang berisyarat pada pengunjung ihwal bagaimana sebenarnya pameran ini melabeli dirinya dengan kata “kontemporer islami”. Sebuah frasa yang ingin menawarkan berbagai kemungkinan di luar apa yang selama ini

Jumat, 11 November 2011

Imajinasi Anak di Kanvas Ahmad Su’udhi



DI Jln. Sudirman Jakarta,  harimau, kuda zebra, kerbau, kuda, bison,dan macan tutul memasuki kota. Di atas punggung mereka puluhan anak duduk dengan gembira tanpa rasa takut, bahkan ada yang melambaikan tangannya. Sedangkan di Moskow Rusia, seekor harimau putih melintas ditunggangi empat orang anak. Sedangkan di kota-kota yang lain anak-anak itu menunggangi dinosaurus, juga menclok di punggung Superman. Dan di tembok raksasa China tampak anak-anak itu berkumpul duduk dipinggirannya.  Juga di Mesir atau London. Anak-anak ada di mana-mana, bahkan di dahan pohon dan lembaran daun.
Itu semua ada di atas kanvas Ahmad Su”udhi dalam pameran tunggalnya bertajuk “Journey of Love” di Galeri Zola Zulu Bandung, 23-27 Juli 2011. Sebuah pameran yang turut  menandai peringatan Hari Anak Nasional, yang dibuka oleh anggota DPR RI Komisi VII yang membidangi perlindungan anak dan wanita Ingrid Kansil. Dalam pembukaan pameran ini juga diluncurkan buku “The Art of Ahmad Su’udi” yang ditulis oleh kritikus seni rupa Agus Dermawan T. 

Pameran menyuguhkan 35 lukisan yang dipajang memenuhi galeri seluruhnya menampilkan panorama imajinasi dunia anak. Satu hal yang langka dalam perkembangan seni lukis Indonesia modern. Dan itu bukan hanya demi menandai peringatan Hari Anak Nasional, tapi karena memang Ahmad Su’udhi merupakan pelukis yang intens menyuntuki tema anak-anak. Sebuah tema yang tak banyak menarik perhatian para pelukis Indonesia. Jika pun ada, maka itu hanya sekadar peminjaman style gambar naif anak-anak seperti yang dilakukan oleh Erika Wahyuni.

Berbeda dengan itu, kanvas Ahmad Su”udhi merupakan panorama dunia anak yang dihadirkan dalam style realis. Di sini, lukisan Ahmad Su’udhi adalah lukisan orang dewasa yang  memandang dunia anak, bukan peminjaman gaya menggambar anak-anak untuk menyoroti dunia orang dewasa.  Dan lebih dari sekadar sebagai figur, di tangan Ahmad Su”udhi  imajinasi dunia anak juga dihadirkan sebagai simbol atau metafora ihwal realitas kekinian.

Sebutlah, “Shopping Maniac” yang menampilkan sosok seorang perempuan cantik duduk di atas troly di antara belanjaannya, troly itu didorong oleh seorang anak dan beberapa anak lainnya merangkak di lantai. Lukisan ini merupakan sebuah ungkapan satire tentang realitas budaya konsumsi di tengah kultur urban. Demikian juga dengan “Kalpataru” yang menyoal isu lingkungan dan masa depan anak-anak. Pada karya itu sekelompok anak duduk mengelilingi pohon kalpataru yang telah dipenuhi oleh kendaraan mewah dan apartemen. 

Jika pun hendak disebut sebagai kritik sosial, karya-karya Ahmad Su’udi semacam tetaplah menghidangkan keindahan visual dunia kanak. Ia tak terasa sebagai kecaman apalagi perlawanan. Karena itulah karyanya tetap disukai anak-anak. Bagi Ahmad Su”udhi anak merupakan simbolisasi dari kemurnian universal yang ada dalam diri manusia. Karena itu bisa dipahami jika figur anak dalam karya-karya Ahmad Su’udhi umumnya sama, tubuh dan wajahnya masih yang itu-itu juga.

“ Pada dasarnya objek karya-karya Ahmad Su’udhi adalah boneka. Ini untuk mengungkapkan bahwa semua anak di dunia ini sama. Mereka hidup di bawah langit yang sama, dan sama-sama tidak pernah minta dilahirkan jadi bangsa itu atau ini. Inilah universalitas kemurnian yang ada dalam dunia manusia. Kami memamerkan karya-karyanya untuk mencari peminat yang bisa mengapresiasinya dengan mata dan hati tentang apa makna yang ada di balik dunia anak, ” ujar Hingkie Direktur Galeri Zola Zulu.

Sedangkan di mata Agus Dermawan T., pelukis yang karyanya masuk sebagai nominasi Jakarta Art Award International Painting Competition 2010 dan finalis The 1st UOB Painting of the Year 2011 ini, karya-karyanya menghadirkan gagasan ihwal anak-anak sebagai warga negara dunia. “Warga negara yang tidak bisa lagi dikategorikan oleh nasionalisme yang sempit, yang sering menyebabkan pertengkaran dan permusuhan,” katanya. (Ahda Imran)