(sebuah
monolog)
---AHDA
IMRAN
#Satu
DARI kisah
yang ditulis oleh Tuan Pramoedya, kau sudah tahu bagaimana nasibku; Annelies
Mellema, puteri mendiang Herman Mellema dari gundiknya bernama Sanikem; harus dikirim
ke Negeri Belanda. Begitu keputusan pengadilan di Amsterdam. Tak seorang pun bisa
melawan keputusan itu, tidak juga Mama dan Minke. Pengadilan kulit putih itu
tak punya urusan dengan Mama. Mama hanya perempuan pribumi dan gundik.
Walaupun ia seorang Raden Mas yang punya hak
istimewa di antara kaum pribumi, namun pengadilan juga tak punya urusan dengan
Minke Suamiku. Hukum Eropa itu bahkan menganggap aku masih di bawah umur, hak
perwalianku ada di tangan Maurits Mellema, kakak tiri yang belum pernah
kukenal.
Atas nama perwalian
itulah aku dikirim ke Belanda. Aku merasa diriku ini dianggap sebatang tanaman,
dicabut dan dipindahkan tempatnya; dipisahkan dari Mama dan Minke, tanah tempatku tumbuh dan berlindung. Sejak datangnya keputusan itu aku sangat
ketakutan, perasaan dan pikiranku pelan-pelan pergi dari dalam tubuhku.