Senin, 10 Februari 2014
Sandiwara Tan Malaka
Senin, 03 Februari 2014
33 Tokoh Sastra dan Akal Sehat
Oleh Ahda Imran
JANUARI
2013 penerbit PT JurnalSajak Indonesia
menerbitkan buku bertajuk “Puisi Esai Kemungkinan Baru Puisi Indonesia” (PEKBPI). Dieditori oleh penyair Acep Zamzam Noor, buku
ini sepenuhnya menyoal ihwal puisi esai. Ragam puisi baru yang digagas oleh
D. Jauhar Ali, konsultan politik termashur di Lingkar Survey Indonesia (LSI), yang pada 2012 menerbitkan
kumpulan puisi esai “Atas Nama Cinta” (ANC).
Seraya memuat ulasan perihal kumpulan ANC, PEKBPI memuat pula segala ihwal yang bersangkut soal
dengan puisi esai..
Dalam sejarah sastra Indonesia, belum pernah ada
sebuah buku diterbitkan demi menyambut kumpulan puisi seorang penyair seperti ANC. Tidak tanggung-tanggung, para
penulis yang mengulas kumpulan itu pun adalah sejumlah tokoh berpengaruh, Sutardji
Calzoem Bachri, Sapardi Djoko Damono, Ignas Kleiden, Leon Agusta, Agus
R.Sardjono, Jamal D.Rahman. Pada intinya, PEKBPI
menyambut kehadiran kumpulan D. Jauhar Ali tersebut sebagai pemberi kesegaran bagi
perpuisian Indonesia.
Januari 2014 terbitlah buku “33 Tokoh Sastra
Indonesia Paling Berpengaruh” (33 TSIPB).
Minggu, 29 Desember 2013
Rumah Puisi, Rumah di Telapak Dua Gunung
-- Ahda
Imran
SELEPAS Kota Padangpanjang, di Kanagarian Ai Angek Kabupaten Tanah Datar Sumatra Barat,
terdapatlah setumpak tanah di atas ketinggian yang terletak di pertemuan
telapak Gunung Singgalang dan Gunung Merapi. Di situlah letaknya Rumah Puisi.
Menyendiri dikelilingi areal kebun, persawahan, dan sebuah jalan kecil menurun
berbatu menuju jalan besar yang menikung. Yang disebut Rumah Puisi itu adalah
sebuah bangunan yang terbilang megah dan nyaman. Nyaris seluruh bagian depan
dan sampingnya berdinding kaca sehingga apa yang terdapat di dalam gedung itu,
yakni ruang diskusi dan perpustakaan, dan semua kegiatannya bisa tampak dari
luar.SELEPAS Kota Padangpanjang, di Kanagarian Ai Angek Kabupaten Tanah Datar Sumatra Barat,
Rabu, 16 Oktober 2013
Menonton Tubuh Perempuan yang Bersalah
---AHDA
IMRAN
KARENA
bentuk payudaranya yang elok, Florita diperkosa oleh ayah tirinya. Hamil lalu
mati bunuh diri. Ervina, adiknya, luput
dari kemalangan semacam itu karena ia payudaranya rata. Namun, karena takut Ervina
melarikan diri dan menikah. Dan di malam
pengantin barulah ia tahu bahwa jenis kelaminnya bukanlah perempuan. Bagian
tubuhnya yang ia sangka sebagai vagina ternyata penis. Nalar cerita tentu
segera saja mengangsurkan gugatan, sangat mustahil seseorang tidak mengenal dan
mengetahui jenis kelamin yang melekat di tubuhnya sampai ia menjadi
dewasa.
Maaf, bukan itu yang sedang diperkarakan. Metafora
kisahan itu sedang memperkarakan situasi tubuh perempuan di tengah hasrat kuasa
masyarakat lelaki. Situasi yang menaruh tubuh perempuan senantiasa menjadi
tubuh yang bersalah, sebagaimana terjadi pada payudara Florita. Karena itulah perempuan
kerap dipaksa harus keluar dari tubuhnya agar ia bukan lagi tubuh yang bersalah,
tubuh yang dikoloni. Pula demikian bila ingin melakukan perlawanan, tak ada
jalan lain bagi perempuan kecuali memiliki dan menjadi tubuh lelaki.
Selasa, 01 Oktober 2013
Selamat Jalan, Mas Tandi, Maafkan Kami....
Ahda Imran---Penyair dan Esais
“Saya
ingin menulis sesuatu untuk mengingatkan sesuatu”
BEGITU
dialog tokoh penulis cerpen bernama Tandi dalam cerpennya “Paitua Pejabat
Jawa-kah?”, yang termuat di kumpulan “Sperma Airmata” (SkyiArt:2012). Seperti
yang mudah dijumpai di banyak tulisannya, terutama cerpen dan novel, ia selalu memberi identitias tokoh utamanya
sebagai dirinya, Tandi Skober. Siasat bercerita ini menarik bukan semata demi
menipiskan jarak realitas fiksi dan
fakta, namun melalui tokohnya itu Tandi Skober leluasa menghadirkan berbagai
pandangannya. Termasuk apa makna menulis baginya sehingga kerja menulis terasa diimaninya
sebagai suatu kewajiban hidup; ...untuk
mengingatkan sesuatu.
Karena itu Tandi Skober terus menulis, bahkan di
hari-hari terakhir hidupnya. Penulis produktif, bersahaja, dan amat akrab
dengan para seniman dan penulis muda ini, wafat di RS. Al-Islam Bandung 29
September pkl.19.30 WIB., karena serangan jantung. Bila merujuk pada biodata
yang tertera dalam novelnya “Pelacur, Politik, dan he he he”, Tandi Skober wafat di penghujung bulan
kelahirannya, sepekan setelah tanggal kelahirannya, 22 September.
Minggu, 04 Agustus 2013
Kampung Halaman
MARILAH kita mulai dengan seorang kawan.
Meski baru saja dua bulan yang lalu ia dan anak istrinya pulang kampung untuk
menghadiri perkawinan seorang kerabat sekaligus mengantar liburan sekolah anaknya, tapi sudah sejak tiga hari yang lalu seorang teman saya kembali
bersiap untuk kembali mudik.
Meski akhirnya
tiket kereta ekonomi itu sudah di tangan, persoalan ternyata belum selesai.
Bagaimana dengan oleh-oleh untuk ibu, bulik,
paklik, emang, uwak, bibi, atau anak kemenakan, dan kerabat lainnya di
kampung? Lalu terbayanglah barang bawaan yang angkaribung, dan jangan lupa, suasana 15 jam perjalanan yang
menyebalkan itu.
Tapi seperti
tahun-tahun sebelumnya, semua keadaan itu dilakoni dengan sikap seakan-akan
memang sudah demikian mestinya, tanpa perlu melihatnya sebagai beban. Saya
merasa kagum dan cemburu dengan kesabaran teman saya itu.
Rabu, 31 Juli 2013
Tubuh Puasa, Tubuh Belanja
---Ahda
Imran, penyair dan esais
SANGAT
sulit memisahkan hubungan agama dan ekonomi, untuk tidak menyebutnya niscaya. Nyaris
tak ada aktivitas keagamaan yang tidak menimbulkan aktivitas produksi,
distribusi, konsumsi, atau memengaruhi grafik permintaan-penawaran. Tentu tidaklah
sulit menemukan contohnya. Naiknya grafik permintaan-penawaran kambing atau
sapi menjelang Hari Raya Idul Adha, atau kenaikan harga tiket berbagai angkutan
seiring tingginya angka permintaan menjelang lebaran. Yang sakral di situ memberi berkah bagi yang
profan.
Dalam hubungan semacam itu, ritus agama hadir sebagai fenomena yang
berkuasa atas tubuh penganutnya. Tubuh ritus yang hadir secara independen dan
otonom. Tubuh yang identifikasinya bisa dibaca dari Mircea Eliade (1949), yakni,
fenomena yang tidak bisa diartikan
sebagai produk realitas yang lain. Singkatnya, tubuh ritus ialah tubuh yang tak
berkorespondensi dengan realitas lain kecuali dengan realitas yang sakral,
dengan yang transenden. Sedangkan yang profan lebih hadir kemudian, dan tak
memiliki kesanggupan untuk memengaruhi tubuh ritus.
Selasa, 16 Juli 2013
Rumah Topeng dan Wayang Setia Dharma
Jejak
dan Bayang Manusia
Oleh AHDA
IMRAN
TOPENG
itu terbuat dari kayu. Berasal dari Suku Dogon
di Mali, Afrika. Bentuk hidung dan sepasang lubang matanya tampak besar.
Dibanding ragam dan watak topeng Afrika umumnya, tak ada yang aneh dengan
topeng itu. Yang tak lazim ialah topeng itu memiliki bagian kayu yang mencuat
ke atas, sekira setengah meter, dengan dua persilangan geometris mirip antene,
sehingga tampak futuristik. Bentuk topeng yang tak lazim itu bertaut erat
dengan tradisi lisan Suku Dogon yang meyakini, bahwa mereka adalah keturunan
mahluk luar angkasa. Tak jelas sudah berapa
tahun usia topeng itu. Dari tekstur dan warna kayunya, topeng itu tampak sudah
sangat tua, disimpan di balik lemari kaca.
Kamis, 11 Juli 2013
Ridwan Kamil dan Utopia Sebuah Kota
Ahda
Imran, penyair dan esais
SETAHUN setelah harian ini menganugerahinya “Pikiran Rakyat Award 2012” untuk kategori
“Tokoh Muda Kreatif”, Ridwan Kamil
memenangi Pilwalkot Kota Bandung 2013. Usianya
42 tahun. Mungkin ia walikota termuda dalam sejarah Kota Bandung. Inilah kali pertama Bandung dipimpin oleh
seseorang di luar apa yang telah menjadi “tradisi” sejak masa Orde Baru, yakni,
pensiunan tentara atau birokrat. Bahkan, kecuali diusung oleh partai politik
yang mencalonkannya, pula ia bukanlah seseorang yang selama ini diidentifikasi
sebagai politikus, aktivis partai, atau anggota sebuah ormas yang ditautkan
dengan partai politik tertentu.
Ia selama ini lebih dikenal sebagai arsitek dengan
sejumlah gagasan serta proyek arsitektur ruang perkotaan di tengah perkembangan
masyarakat urban. Ringkasnya, ia berasal dari luar lingkaran kekuasaan dan
pemerintahan. Tak memiliki referensi pengalaman apa pun perihal jaringan
birokrasi kekuasaan atau pemerintahan. Ini menjadi menarik, sebab kekuasaan niscaya bersoal dengan bagaimana
kekuasaan itu dijalankan. Terlebih manakala kekuasaan itu dijalankan sonder
referensi pengalaman, termasuk ihwal tata kelola pemerintahan atau watak dan
etos kerja birokrasi.
Rabu, 08 Mei 2013
“Kolong Meja” Hanafi
Oleh AHDA
IMRAN
TAK ada yang aneh dengan kolong meja. Selain
tempat orang menjulurkan kakinya sambil duduk mengerjakan semua urusan di atas
meja, tak ada yang kudu dipersoalkan dengan kolong meja. Semua persoalan dan
urusan berlangsung di atas meja. Meja merupakan sebuah “arena”, tak hanya
pekerjaan dan urusan pribadi. Tapi juga perbincangan, perjanjian dan mufakat
atau kesepakatan sosial yang semuanya berawal serta diresmikan di atas
meja. Oleh sebab itu, meja akhirnya kerap
pula dipahami bukan melulu sebagai benda, namun suatu metafora, representasi
dari realitas yang sudah menjadi kesepakatan dan bisa dijelaskan. Maka tak ada
yang lantas menjadi penting dengan ruang yang berada di bawahnya, yakni, kolong
meja. Ruang yang bukan sebuah “arena” melainkan melulu kegelapan.
Minggu, 31 Maret 2013
Menyoal Hari Sastra Indonesia
Oleh AHDA
IMRAN
MENETAPKAN
hari lahir seseorang sebagai penanda penting
bagi ingatan kolektif, tentu lumrah saja. Kelahiran orang suci, nabi, wali,
pahlawan atau yang sosok dikeramatkan kerap menjadi hari dan peristiwa penting
yang jadi tradisi perayaan hingga ritual. Biografi seseorang di situ diubah
menjadi biografi ingatan di ranah publik. Inilah yang hendak ditating oleh
Taufiq Ismail dan sejumlah sastrawan yang lalu menggagas perlunya ada sebuah
hari untuk memperingati sastra Indonesia. Mereka, dan sejumlah sastrawan
lainnya, berkumpul di Bukittinggi Sumatera Barat, Minggu (24/3), dan lahirlah
Maklumat Hari Sastra Indonesia yang ditetapkan setiap tanggal 3 Juli. Penetapan
ini mendasar pada hari kelahiran sastrawan penulis novel terkenal “Salah
Asuhan” (1928) Abdoel Moeis di
Bukittinggi 3 Juli 1883.
Kamis, 28 Maret 2013
Kegairahan dalam Kerumunan
PENGUMUMAN
hasil
seleksi karya para penyair yang berhak mengikuti Pertemuan Penyair Nusantara
(PPN) VI di Jambi 28-31 Desember 2012, menempatkan 24 nama penyair Jabar.
Selain diundang hadir ke Jambi, karya mereka juga dimuat dalam antologi “Sauk
Seloko” bersama para penyair lainnya dari berbagai kota dan negara. Banyaknya
jumlah penyair Jabar yang lolos seleksi PPN VI Jambi dibanding propinsi-propinsi lainnya, mengulang apa yang
pernah terjadi pada hasil seleksi karya para penyair yang mengikuti Temu
Sastrawan Indonesia (TSI) IV di Ternate Maluku Utara 2011 lalu. Dalam buku
antologi “Tuah Tara No Ate” yang terbit
menyertai even TSI IV, terdapat sejumlah
puisi karya 15 penyair Jabar.
Dari kedua even itu, di antara daftar para penyair
Jabar, umumnya ialah generasi terbaru. Anis
Sayidah, Evi Sefiani, Sinta Ridwan, Nissa Rengganis, Herton Maridi, atau
Pungkit Wijaya. Termasuk pula sejumlah nama generasi terbaru yang mungkin masih terdengar asing bagi publik
sastra di Jabar; Jun Nizami, Khoer Jurzani, Ahmad Syahid, Arinda Risa
Kamal, Rudy Ramdani , Galah Denawa, Neneng Nurjanah, Syarif Hidayatullah, Willy
Fahmy Agiska, Windu Mandela, Romyan Fauzan, Arinda Risa Kamal, atau Zulkifli
Songyanan. Nama-nama ini menyertai sejumlah penyair lain dari lapisan generasi Ahmad
Faisal Imron, Atasi Amin, Toni Lesmana, Bode Riswandi, Heri Maja Kelana, Dian
Hartati, Fina Sato, atau Doni Muhammad Nur.
Banyaknya
jumlah karya penyair Jabar yang terpilih dalam seleksi dua even sastra tersebut,
tentu akan menjadi gegabah bila lantas disebut bahwa karya penyair Jabar lebih
bagus ketimbang penyair dari propinsi lainnya.
Rabu, 27 Maret 2013
Alazhi: Tubuh Identitas di Simpang Jalan
---Ahda Imran
Selamat tinggal, Alazhi. Selamat
datang Lian Ting
ITU kalimat
yang dibisikkan Alazhi pada dirinya. Sesaat setelah gadis Uyghur itu melepas
kerudung dan busana muslimahnya, menukarnya dengan busana modern yang
memamerkan tubuhnya yang ramping. Bila, seperti dibilang Henk Schulte Nordholt
(2005), busana dimaknai sebagai perpanjangan tubuh, maka dalam peristiwa itu
Alazhi sedang menyeberangkan tubuhnya dari satu identitas ke identitas yang
lain. Ia mengalihkan definisi dan deskripsi identitas tubuhnya ke identitas
yang lain. Identitas baru yang berbeda, yang merepresentasikan hasratnya pada
kemajuan. Sekaligus yang mendeskrsipsikan sebuah tatanan psiko-sosial politik
dan budaya yang menegangkan, yang menghadapkan identitas minoritas dan
mayoritas.
Lebih
jauh dalam peristiwa itu Alazhi sedang memamerkan kuasanya sebagai perempuan
atas identitas tubuhnya. Setelah selama
ini kuasa itu berada di tangan sejarah, tradisi, dan kepercayaan sukunya. Perempuan
yang pergi sendiri meninggalkan kampung halamannya dan membuka kerudungnya
adalah sebuah aib. Kuasa ayah atau suami adalah representasi dari kuasa suci
agama. Kerudung bukan hanya selembar kain, tapi juga norma agama, harga diri
keluarga, dan identitas dari marwah kaum atau suku. Pergi diam-diam
meninggalkan kedua orang tua dan sukunya, barulah Alazhi berada di luar kuasa
itu. Ia kini memiliki kuasa atas identitas tubuhnya meski harus menanggung aib.
Trakl: Puisi, Keindahan, dan Beban Kebenaran
--Ahda
Imran
Eloklah
manusia, menjelma dalam gulita
(Helian)
BAGI perindu kebenaran, pemeluk teguh karya seni
yang mengimani keindahan sebagai yang harus menyeru manusia pada laku kebajikan,
karya seni yang digubah dari getar sukma dan menuntun orang untuk menginsyafi
sinar benderang kemuliaan seraya mewaspadai kejahatan, Georg Trakl (1887-1904) dan
puisi-puisinya adalah contoh yang buruk—bahkan paling buruk. Baris puisinya di
atas hanyalah satu dari sekian karyanya yang tak patut dijadikan ajaran apalagi
teladan, pemujaannya yang setengah
mengajak orang untuk menjelma dalam gulita. Bahkan, penyair
yang juga pecandu narkotika ini pernah mengatakan, “Saya tidak berhak mengelak
dari neraka”. Na’udzubillahi himinndzaliq...
Dan ternyata itu belum cukup. Georg Trakl adalah
seseorang yang kepadanya seluruh kebencian mesti dialamatkan. Bukan hanya ia
pendosa karena mencandu narkotika yang membuatnya mengalami berbagai halunisasi
(skizofrina), tapi Trakl juga menjalin cinta gelap dengan adik perempuannya
sendiri, Grete. Hubungan inses ini telah berlangsung sejak keduanya masih
remaja. Ada banyak alasan untuk memaafkan seorang narkoba atau memaklumi seorang
yang memilih menjadi komunis, atheis, fasis, atau berbagai kejahatan dan
kelainan seks. Tapi sulit sekali menemukan alasan untuk memaklumi, apalagi
memaafkan, orang yang bercinta dengan adik kandungnya. Perbuatan yang bahkan
tak terpikirkan oleh para pengedar dan bandar narkoba sekalipun.
Selasa, 26 Maret 2013
Dapur adalah Tubuh Perempuan
SEJARAH
masakan ternyata tak melulu berisi sejarah
awal mula imprealisme, seperti Jack Turner menulisnya dengan bagus dalam Sejarah Rempah: Dari Erotisme sampai
Imprealisme (2011). Tapi juga menyoal dapur dan bagaimana perempuan
dimaknai. Dalam masyarakat lelaki, dapur ialah ruang domestik sebagaimana tubuh
perempuan yang tak pernah dimaknai sebagai tubuh publik. Dapur tampakya
bukanlah semata ruang yang fungsional, melainkan pula tempat tubuh perempuan
dikoloni. Dari tempat itulah perempuan diukur kesempurnaannya melayani suami,
dengan kemampuannya memasak. Setidaknya tak ada seorang pun suami yang merasa
menanggung dosa besar jika ia tak pandai memasak.
Dapur adalah tubuh perempuan. Inilah yang ditulis
oleh Eka Kurniawan “Kutukan Dapur” dalam kumpulan cerpennya “Cinta Tak Ada Mati
dan Cerita-cerita Lainnya” (2005). Lalu cerpen ini dialihwahanakan oleh
kelompok teater DarahRouge Bandung, menjadi sebuah lakon pertunjukan berjudul
“Cooking and Murder” dengan sutradara Karensa Dewantoro.
Minggu, 06 Januari 2013
Melayari Puisi Nusantara: Dari Hulu hingga Hilir
Oleh AHDA IMRAN
BILA
perpuisian
Melayu Nusantara ditamsilkan sebagai sebuah sungai, dari hulu hingga ke hilir,
maka melayarinya bukanlah pekerjaan mudah. Sungai itu terlalu besar, berhulu di
suatu masa sebelum abad ke-16, bahkan pula ada yang menyebut sejak awal abad
ke-7. Terlebih pelayaran itu demi mengandaikan terbentangnya sebuah pemetaan
ihwal kekayaan khazanah perpuisian Melayu.
Ada banyak alun dan riak yang ditemukan,
yang seluruhnya niscaya minta ditautkan dengan ihwal fenomena gerak identitas,
sehingga pelayaran di sungai besar puisi Nusantara itu tak terjebak ke dalam
impresi yang serba romantik.
“Perpuisian Nusantara dari Hulu hingga Hilir: Perspektif Historis, Filosofis, dan Eksistensi”. Begitu tema yang diusung oleh perhelatan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) VI yang berlangsung di Jambi, 28-31 Desember 2012.
Kamis, 22 November 2012
Pasar
Sejarah Nusantara
(Menanggapi Binhad Nurrohmat)
Oleh Ahda Imran
ESAI
Binhad
Nurrohmat (BN) Menerawang Kotak Hitam
Nusantara (Kompas, 11 November 2012) menyasar hubungan karya sejarah di
Nusantara dan karya sastra. Hubungan yang diletakkannya sebagai persekutuan
imajinasi dan nalar manakala keduanya melakukan penerawangan atas fakta dan
data sejarah. Meminjam latar penyelenggaraan Borobudur Writers & Cultural
Festival (BWCF) 2012 perihal ruang kosong sejarah Nusantara yang bisa dihampiri
oleh para sastrawan, BN seolah mewaspadai
bahwa ruang kosong itu berpotensi dimasuki oleh karya para pseudonovelis
yang mewartakan sejarah gadungan. Para pseudonovelis yang mendasarkan karyanya
pada data-fakta yang didapat serampangan, atau melulu fantasi-imajinasi serta
menistakan logika sejarah. Di ujung kewaspadaannya itu BN seolah membuat
semacam seruan bahwa diperlukan moral untuk menarasi dan mewartakan sejarah
melalui novel.
Tak ada yang baru sebenarnya dari esai itu. Tapi
kewaspadaan dan seruan moral BN itu tetap menarik untuk diperhatikan, lebih
lagi bila ditautkan pada perbincangan di forum BWCF. Forum yang mempertemukan
pemikiran para novelis berlatar sejarah yang karya dan nama mereka sudah
demikian popular—sebutlah, Aan Merdeka Permana, Hermawan Aksan, Tasaro GK,
Langit Krisna Hariadi. Kewaspadaan dan seruan moral BN karena itu,
terkesan diarahkan pada pertemuan
pemikiran para novelis yang menekan pada
ihwal hubungan sastra dan sejarah, atau yang memperkarakan kedudukan
imajinasi serta penjelajahan estetik di hadapan logika atau data-fakta sejarah.
Jumat, 01 Juni 2012
Para Istri, Demokrasi, Daulat Partai
--Ahda
Imran, penyair dan
esais
KETIKA
nama Ani Yudhoyono santer disebut sebagai capres yang bakal diusung oleh Partai
Demokrat (PD) dalam pilpres 2014 mendatang,
serta merta oranng diingatkan pada satu alasan ihwal realitas demokrasi.
Realitas yang mesti dipahami sebagai konsensus hak politik setiap warga negara.
Apalagi, alasan itu menguatkan dirinya dengan realitas konstitusi yang tak ada
satu pun bagiannya, yang paling kecil dan tersirat pun, mengatur dikurangi atau ditambahnya hak politik
seorang warga negara hanya karena ia ditakdirkan menjadi seorang istri presiden,
seperti Ani Yudhoyono.
Mengurangi haknya karena alasan seperti itu,
merupakan penyangkalan atas takdir demokrasi yang secara tegas memisahkan domain
publik dan domain domestik. Dari ingatan
semacam ini pula orang diajak memahami kemunculan para istri pejabat daerah ke tengah
arena pertarungan politik (pilkada bupati/walikota). Fenomena politik yang tak
ubahnya dengan transfer kekuasaan, istri menggantikan jabatan suami yang habis
masa jabatannya.
Sabtu, 28 April 2012
Perempuan yang Melepas Pakaian Angsa
pada suaminya Tommy Herlambang (Ayez
Kassar), sebelum dengan ketus masuk ke dalam kamar. Lalu ia keluar dari dalam
kamar dengan pakaian yang maskulin, celana jins, kaos putih ketat, dibalut baju
hangat merah panjang dan syal.
Tommy menatapnya heran. Nora bukan lagi
perempuan yang dikenalnya. Istri yang manja dan diperlakukan bak boneka
kesayangan. Angsa putih cantik yang selalu harus menurut. Kini di hadapannya
berdiri seorang perempuan yang menatapnya dingin.
Selasa, 03 April 2012
Suatu Hari di Kantor Polisi
SUATU
hari yang biasa-biasa saja, saya mengantar seorang teman ke kantor Polsek di
kawasan Bandung Utara. Dia terpaksa harus mengurus surat keterangan
kehilangan kartu asuransi. Kartu itu sebenarnya tidak hilang, tapi ia
tinggalkan di Jepang bersama sejumlah berkas lainnya yang ia pikir tidak lagi
penting. Dan ketika ia hendak mengurus suatu hal yang ada hubungannya dengan
asuransi, kartu itu harus ada. Dan jika hilang, harus ada keterangan kehilangan
dari kepolisian.
Tentu saja mustahil meminta surat keterangan kehilangan itu
pada kepolisian Tokyo di Jepang sana. Maka mulailah kami mengarang sebuah
cerita, bahwa kartu asuransi itu hilang tiga hari yang lalu. Mungkin dalam
perjalanan dari rumah ke kantor, dalam angkot.
Langganan:
Komentar (Atom)









