Senin, 10 Februari 2014

Sandiwara Tan Malaka



SEJAK  ia ditangkap di Bandung dan diusir oleh pemerintah kolonial tahun 1922, mengembara berpuluh-puluh tahun ke berbagai negeri di Eropa dan Asia, serta kembali ke Indonesia pada tahun 1942, Tan Malaka hidup sebagai seorang pelarian politik. Ia tak sekadar dikejar dan diburu oleh intelijen Inggris, Belanda, dan Amerika Serikat, tetapi juga dimusuhi oleh Komunis International (Komintern). Dan selama dalam pengembaraannya itu Tan Malaka hidup dengan banyak nama. Ketika berada di Filipina ia mengaku bernama Ellias Fuentes, Estahislau Rivera, Alisio Rivera. Ong Song Lee atau Tang Ming Sion, Chen Kuan Tat,  sewaktu ia berada di China dan Birma. Ketika berada di Singapura ia mengaku bernama Hasan Gozali, dan Ilyas Husein sewaktu ia datang ke Indonesia.

Senin, 03 Februari 2014

33 Tokoh Sastra dan Akal Sehat




Oleh Ahda Imran

JANUARI 2013  penerbit PT JurnalSajak Indonesia menerbitkan buku bertajuk “Puisi Esai Kemungkinan Baru Puisi Indonesia” (PEKBPI).  Dieditori oleh penyair Acep Zamzam Noor, buku ini sepenuhnya menyoal ihwal puisi esai. Ragam puisi baru yang digagas oleh D. Jauhar Ali, konsultan politik termashur di Lingkar Survey Indonesia (LSI), yang pada 2012 menerbitkan kumpulan puisi esai “Atas Nama Cinta” (ANC).  Seraya memuat ulasan perihal kumpulan ANC, PEKBPI  memuat pula segala ihwal yang bersangkut soal dengan puisi esai..

Dalam sejarah sastra Indonesia, belum pernah ada sebuah buku diterbitkan demi menyambut kumpulan puisi seorang penyair seperti ANC. Tidak tanggung-tanggung, para penulis yang mengulas kumpulan itu pun adalah sejumlah tokoh berpengaruh, Sutardji Calzoem Bachri, Sapardi Djoko Damono, Ignas Kleiden, Leon Agusta, Agus R.Sardjono, Jamal D.Rahman. Pada intinya, PEKBPI menyambut kehadiran kumpulan D. Jauhar Ali tersebut sebagai pemberi kesegaran bagi perpuisian Indonesia.

Januari 2014 terbitlah buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” (33 TSIPB).

Minggu, 29 Desember 2013

Rumah Puisi, Rumah di Telapak Dua Gunung




-- Ahda Imran

SELEPAS Kota Padangpanjang, di Kanagarian Ai Angek Kabupaten Tanah Datar Sumatra Barat,
terdapatlah setumpak tanah di atas ketinggian yang terletak di pertemuan telapak Gunung Singgalang dan Gunung Merapi. Di situlah letaknya Rumah Puisi. Menyendiri dikelilingi areal kebun, persawahan, dan sebuah jalan kecil menurun berbatu menuju jalan besar yang menikung. Yang disebut Rumah Puisi itu adalah sebuah bangunan yang terbilang megah dan nyaman. Nyaris seluruh bagian depan dan sampingnya berdinding kaca sehingga apa yang terdapat di dalam gedung itu, yakni ruang diskusi dan perpustakaan, dan semua kegiatannya bisa tampak dari luar.

Rabu, 16 Oktober 2013

Menonton Tubuh Perempuan yang Bersalah




---AHDA IMRAN

KARENA bentuk payudaranya yang elok, Florita diperkosa oleh ayah tirinya. Hamil lalu mati bunuh diri.  Ervina, adiknya, luput dari kemalangan semacam itu karena ia payudaranya rata. Namun, karena takut Ervina melarikan diri  dan menikah. Dan di malam pengantin barulah ia tahu bahwa jenis kelaminnya bukanlah perempuan. Bagian tubuhnya yang ia sangka sebagai vagina ternyata penis. Nalar cerita tentu segera saja mengangsurkan gugatan, sangat mustahil seseorang tidak mengenal dan mengetahui jenis kelamin yang melekat di tubuhnya sampai ia menjadi dewasa. 

Maaf, bukan itu yang sedang diperkarakan. Metafora kisahan itu sedang memperkarakan situasi tubuh perempuan di tengah hasrat kuasa masyarakat lelaki. Situasi yang menaruh tubuh perempuan senantiasa menjadi tubuh yang bersalah, sebagaimana terjadi pada payudara Florita. Karena itulah perempuan kerap dipaksa harus keluar dari tubuhnya agar ia bukan lagi tubuh yang bersalah, tubuh yang dikoloni. Pula demikian bila ingin melakukan perlawanan, tak ada jalan lain bagi perempuan kecuali memiliki dan menjadi tubuh lelaki.

Selasa, 01 Oktober 2013

Selamat Jalan, Mas Tandi, Maafkan Kami....


Ahda Imran---Penyair dan Esais

“Saya ingin menulis sesuatu untuk mengingatkan sesuatu”


BEGITU dialog tokoh penulis cerpen bernama Tandi dalam cerpennya “Paitua Pejabat Jawa-kah?”, yang termuat di kumpulan “Sperma Airmata” (SkyiArt:2012). Seperti yang mudah dijumpai di banyak tulisannya, terutama cerpen dan novel,  ia selalu memberi identitias tokoh utamanya sebagai dirinya, Tandi Skober. Siasat bercerita ini menarik bukan semata demi menipiskan  jarak realitas fiksi dan fakta, namun melalui tokohnya itu Tandi Skober leluasa menghadirkan berbagai pandangannya. Termasuk apa makna menulis baginya sehingga kerja menulis terasa diimaninya sebagai suatu kewajiban hidup; ...untuk mengingatkan sesuatu.

Karena itu Tandi Skober terus menulis, bahkan di hari-hari terakhir hidupnya. Penulis produktif, bersahaja, dan amat akrab dengan para seniman dan penulis muda ini, wafat di RS. Al-Islam Bandung 29 September pkl.19.30 WIB., karena serangan jantung. Bila merujuk pada biodata yang tertera dalam novelnya “Pelacur, Politik, dan he he he”,  Tandi Skober wafat di penghujung bulan kelahirannya, sepekan setelah tanggal kelahirannya, 22 September.

Minggu, 04 Agustus 2013

Kampung Halaman

MARILAH kita mulai dengan seorang kawan. Meski baru saja dua bulan yang lalu ia dan anak istrinya pulang kampung untuk menghadiri perkawinan seorang kerabat sekaligus mengantar liburan sekolah anaknya, tapi sudah sejak tiga hari yang lalu seorang teman saya kembali bersiap untuk kembali mudik.

Meski akhirnya tiket kereta ekonomi itu sudah di tangan, persoalan ternyata belum selesai. Bagaimana dengan oleh-oleh untuk ibu, bulik, paklik, emang, uwak, bibi, atau anak kemenakan, dan kerabat lainnya di kampung? Lalu terbayanglah barang bawaan yang angkaribung, dan jangan lupa, suasana 15 jam perjalanan yang menyebalkan itu.

Tapi seperti tahun-tahun sebelumnya, semua keadaan itu dilakoni dengan sikap seakan-akan memang sudah demikian mestinya, tanpa perlu melihatnya sebagai beban. Saya merasa kagum dan cemburu dengan kesabaran teman saya itu.

Rabu, 31 Juli 2013

Tubuh Puasa, Tubuh Belanja



---Ahda Imran, penyair dan esais

SANGAT sulit memisahkan hubungan agama dan ekonomi, untuk tidak menyebutnya niscaya. Nyaris tak ada aktivitas keagamaan yang tidak menimbulkan aktivitas produksi, distribusi, konsumsi, atau memengaruhi grafik permintaan-penawaran. Tentu tidaklah sulit menemukan contohnya. Naiknya grafik permintaan-penawaran kambing atau sapi menjelang Hari Raya Idul Adha, atau kenaikan harga tiket berbagai angkutan seiring tingginya angka permintaan menjelang lebaran.  Yang sakral di situ memberi berkah bagi yang profan.

Dalam hubungan semacam itu,  ritus agama hadir sebagai fenomena yang berkuasa atas tubuh penganutnya. Tubuh ritus yang hadir secara independen dan otonom. Tubuh yang identifikasinya bisa dibaca dari Mircea Eliade (1949), yakni, fenomena yang  tidak bisa diartikan sebagai produk realitas yang lain. Singkatnya, tubuh ritus ialah tubuh yang tak berkorespondensi dengan realitas lain kecuali dengan realitas yang sakral, dengan yang transenden. Sedangkan yang profan lebih hadir kemudian, dan tak memiliki kesanggupan untuk memengaruhi tubuh ritus.

Selasa, 16 Juli 2013

Rumah Topeng dan Wayang Setia Dharma


Jejak dan Bayang Manusia


Oleh AHDA IMRAN

TOPENG  itu terbuat dari kayu. Berasal dari Suku Dogon di Mali, Afrika. Bentuk hidung dan sepasang lubang matanya tampak besar. Dibanding ragam dan watak topeng Afrika umumnya, tak ada yang aneh dengan topeng itu. Yang tak lazim ialah topeng itu memiliki bagian kayu yang mencuat ke atas, sekira setengah meter, dengan dua persilangan geometris mirip antene, sehingga tampak futuristik. Bentuk topeng yang tak lazim itu bertaut erat dengan tradisi lisan Suku Dogon yang meyakini, bahwa mereka adalah keturunan mahluk luar angkasa.  Tak jelas sudah berapa tahun usia topeng itu. Dari tekstur dan warna kayunya, topeng itu tampak sudah sangat tua, disimpan di balik lemari kaca.

Kamis, 11 Juli 2013

Ridwan Kamil dan Utopia Sebuah Kota



Ahda Imran, penyair dan esais

SETAHUN setelah harian ini menganugerahinya “Pikiran Rakyat Award 2012” untuk kategori “Tokoh Muda Kreatif”,  Ridwan Kamil memenangi Pilwalkot Kota Bandung 2013.  Usianya 42 tahun. Mungkin ia walikota termuda dalam sejarah Kota Bandung.  Inilah kali pertama Bandung dipimpin oleh seseorang di luar apa yang telah menjadi “tradisi” sejak masa Orde Baru, yakni, pensiunan tentara atau birokrat. Bahkan, kecuali diusung oleh partai politik yang mencalonkannya, pula ia bukanlah seseorang yang selama ini diidentifikasi sebagai politikus, aktivis partai, atau anggota sebuah ormas yang ditautkan dengan partai politik tertentu.  

Ia selama ini lebih dikenal sebagai arsitek dengan sejumlah gagasan serta proyek arsitektur ruang perkotaan di tengah perkembangan masyarakat urban. Ringkasnya, ia berasal dari luar lingkaran kekuasaan dan pemerintahan. Tak memiliki referensi pengalaman apa pun perihal jaringan birokrasi kekuasaan atau pemerintahan. Ini menjadi menarik, sebab  kekuasaan niscaya bersoal dengan bagaimana kekuasaan itu dijalankan. Terlebih manakala kekuasaan itu dijalankan sonder referensi pengalaman, termasuk ihwal tata kelola pemerintahan atau watak dan etos kerja birokrasi.      

Rabu, 08 Mei 2013

“Kolong Meja” Hanafi




Oleh AHDA IMRAN

TAK ada yang aneh dengan kolong meja. Selain tempat orang menjulurkan kakinya sambil duduk mengerjakan semua urusan di atas meja, tak ada yang kudu dipersoalkan dengan kolong meja. Semua persoalan dan urusan berlangsung di atas meja. Meja merupakan sebuah “arena”, tak hanya pekerjaan dan urusan pribadi. Tapi juga perbincangan, perjanjian dan mufakat atau kesepakatan sosial yang semuanya berawal serta diresmikan di atas meja.  Oleh sebab itu, meja akhirnya kerap pula dipahami bukan melulu sebagai benda, namun suatu metafora, representasi dari realitas yang sudah menjadi kesepakatan dan bisa dijelaskan. Maka tak ada yang lantas menjadi penting dengan ruang yang berada di bawahnya, yakni, kolong meja. Ruang yang bukan sebuah “arena” melainkan melulu kegelapan.

Minggu, 31 Maret 2013

Menyoal Hari Sastra Indonesia


Oleh AHDA IMRAN

MENETAPKAN  hari lahir seseorang sebagai penanda penting bagi ingatan kolektif, tentu lumrah saja. Kelahiran orang suci, nabi, wali, pahlawan atau yang sosok dikeramatkan kerap menjadi hari dan peristiwa penting yang jadi tradisi perayaan hingga ritual. Biografi seseorang di situ diubah menjadi biografi ingatan di ranah publik. Inilah yang hendak ditating oleh Taufiq Ismail dan sejumlah sastrawan yang lalu menggagas perlunya ada sebuah hari untuk memperingati sastra Indonesia. Mereka, dan sejumlah sastrawan lainnya, berkumpul di Bukittinggi Sumatera Barat, Minggu (24/3), dan lahirlah Maklumat Hari Sastra Indonesia yang ditetapkan setiap tanggal 3 Juli. Penetapan ini mendasar pada hari kelahiran sastrawan penulis novel terkenal “Salah Asuhan” (1928) Abdoel Moeis  di Bukittinggi 3 Juli 1883.


Kamis, 28 Maret 2013

Kegairahan dalam Kerumunan




Oleh AHDA IMRAN

PENGUMUMAN hasil seleksi karya para penyair yang berhak mengikuti Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) VI di Jambi 28-31 Desember 2012, menempatkan 24 nama penyair Jabar. Selain diundang hadir ke Jambi, karya mereka juga dimuat dalam antologi “Sauk Seloko” bersama para penyair lainnya dari berbagai kota dan negara. Banyaknya jumlah penyair Jabar yang lolos seleksi PPN VI Jambi dibanding  propinsi-propinsi lainnya, mengulang apa yang pernah terjadi pada hasil seleksi karya para penyair yang mengikuti Temu Sastrawan Indonesia (TSI) IV di Ternate Maluku Utara 2011 lalu. Dalam buku antologi  “Tuah Tara No Ate” yang terbit menyertai even TSI IV, terdapat  sejumlah puisi karya 15 penyair Jabar.

Dari kedua even itu, di antara daftar para penyair Jabar, umumnya ialah generasi terbaru.   Anis Sayidah, Evi Sefiani, Sinta Ridwan, Nissa Rengganis, Herton Maridi, atau Pungkit Wijaya. Termasuk pula sejumlah nama generasi terbaru yang  mungkin masih terdengar asing bagi publik sastra di Jabar; Jun Nizami, Khoer Jurzani, Ahmad Syahid, Arinda Risa Kamal, Rudy Ramdani , Galah Denawa, Neneng Nurjanah, Syarif Hidayatullah, Willy Fahmy Agiska, Windu Mandela, Romyan Fauzan, Arinda Risa Kamal, atau Zulkifli Songyanan. Nama-nama ini menyertai sejumlah penyair lain dari lapisan generasi Ahmad Faisal Imron, Atasi Amin, Toni Lesmana, Bode Riswandi, Heri Maja Kelana, Dian Hartati, Fina Sato, atau Doni Muhammad Nur.

Banyaknya jumlah karya penyair Jabar yang terpilih dalam seleksi dua even sastra tersebut, tentu akan menjadi gegabah bila lantas disebut bahwa karya penyair Jabar lebih bagus ketimbang penyair dari propinsi lainnya.

Rabu, 27 Maret 2013

Alazhi: Tubuh Identitas di Simpang Jalan




---Ahda Imran

Selamat tinggal, Alazhi. Selamat datang Lian Ting

ITU kalimat yang dibisikkan Alazhi pada dirinya. Sesaat setelah gadis Uyghur itu melepas kerudung dan busana muslimahnya, menukarnya dengan busana modern yang memamerkan tubuhnya yang ramping. Bila, seperti dibilang Henk Schulte Nordholt (2005), busana dimaknai sebagai perpanjangan tubuh, maka dalam peristiwa itu Alazhi sedang menyeberangkan tubuhnya dari satu identitas ke identitas yang lain. Ia mengalihkan definisi dan deskripsi identitas tubuhnya ke identitas yang lain. Identitas baru yang berbeda, yang merepresentasikan hasratnya pada kemajuan. Sekaligus yang mendeskrsipsikan sebuah tatanan psiko-sosial politik dan budaya yang menegangkan, yang menghadapkan identitas minoritas dan mayoritas.      

Lebih jauh dalam peristiwa itu Alazhi sedang memamerkan kuasanya sebagai perempuan atas identitas tubuhnya.  Setelah selama ini kuasa itu berada di tangan sejarah, tradisi, dan kepercayaan sukunya. Perempuan yang pergi sendiri meninggalkan kampung halamannya dan membuka kerudungnya adalah sebuah aib. Kuasa ayah atau suami adalah representasi dari kuasa suci agama. Kerudung bukan hanya selembar kain, tapi juga norma agama, harga diri keluarga, dan identitas dari marwah kaum atau suku. Pergi diam-diam meninggalkan kedua orang tua dan sukunya, barulah Alazhi berada di luar kuasa itu. Ia kini memiliki kuasa atas identitas tubuhnya meski harus menanggung aib.

Trakl: Puisi, Keindahan, dan Beban Kebenaran





--Ahda Imran

Eloklah manusia, menjelma dalam gulita
                                                     (Helian)

BAGI  perindu kebenaran, pemeluk teguh karya seni yang mengimani keindahan sebagai yang harus menyeru manusia pada laku kebajikan, karya seni yang digubah dari getar sukma dan menuntun orang untuk menginsyafi sinar benderang kemuliaan seraya mewaspadai kejahatan, Georg Trakl (1887-1904) dan puisi-puisinya adalah contoh yang buruk—bahkan paling buruk. Baris puisinya di atas hanyalah satu dari sekian karyanya yang tak patut dijadikan ajaran apalagi teladan,  pemujaannya yang setengah mengajak orang untuk  menjelma dalam gulita. Bahkan, penyair yang juga pecandu narkotika ini pernah mengatakan, “Saya tidak berhak mengelak dari neraka”. Na’udzubillahi himinndzaliq...

Dan ternyata itu belum cukup. Georg Trakl adalah seseorang yang kepadanya seluruh kebencian mesti dialamatkan. Bukan hanya ia pendosa karena mencandu narkotika yang membuatnya mengalami berbagai halunisasi (skizofrina), tapi Trakl juga  menjalin cinta gelap dengan adik perempuannya sendiri, Grete. Hubungan inses ini telah berlangsung sejak keduanya masih remaja. Ada banyak alasan untuk memaafkan seorang narkoba atau memaklumi seorang yang memilih menjadi komunis, atheis, fasis, atau berbagai kejahatan dan kelainan seks. Tapi sulit sekali menemukan alasan untuk memaklumi, apalagi memaafkan, orang yang bercinta dengan adik kandungnya. Perbuatan yang bahkan tak terpikirkan oleh para pengedar dan bandar narkoba sekalipun.

Selasa, 26 Maret 2013

Dapur adalah Tubuh Perempuan




Oleh AHDA IMRAN

SEJARAH  masakan ternyata tak melulu berisi sejarah awal mula imprealisme, seperti Jack Turner menulisnya dengan bagus dalam Sejarah Rempah: Dari Erotisme sampai Imprealisme (2011). Tapi juga menyoal dapur dan bagaimana perempuan dimaknai. Dalam masyarakat lelaki, dapur ialah ruang domestik sebagaimana tubuh perempuan yang tak pernah dimaknai sebagai tubuh publik. Dapur tampakya bukanlah semata ruang yang fungsional, melainkan pula tempat tubuh perempuan dikoloni. Dari tempat itulah perempuan diukur kesempurnaannya melayani suami, dengan kemampuannya memasak. Setidaknya tak ada seorang pun suami yang merasa menanggung dosa besar jika ia tak pandai memasak.

Dapur adalah tubuh perempuan. Inilah yang ditulis oleh Eka Kurniawan “Kutukan Dapur” dalam kumpulan cerpennya “Cinta Tak Ada Mati dan Cerita-cerita Lainnya” (2005). Lalu cerpen ini dialihwahanakan oleh kelompok teater DarahRouge Bandung, menjadi sebuah lakon pertunjukan berjudul “Cooking and Murder” dengan sutradara Karensa Dewantoro.

Minggu, 06 Januari 2013

Melayari Puisi Nusantara: Dari Hulu hingga Hilir




Oleh  AHDA IMRAN

BILA perpuisian Melayu Nusantara ditamsilkan sebagai sebuah sungai, dari hulu hingga ke hilir, maka melayarinya bukanlah pekerjaan mudah. Sungai itu terlalu besar, berhulu di suatu masa sebelum abad ke-16, bahkan pula ada yang menyebut sejak awal abad ke-7. Terlebih pelayaran itu demi mengandaikan terbentangnya sebuah pemetaan ihwal kekayaan khazanah perpuisian Melayu.  Ada banyak alun dan riak yang ditemukan,  yang seluruhnya niscaya minta ditautkan dengan ihwal fenomena gerak identitas, sehingga pelayaran di sungai besar puisi Nusantara itu tak terjebak ke dalam impresi yang serba romantik. 

“Perpuisian Nusantara dari Hulu hingga Hilir: Perspektif Historis, Filosofis, dan Eksistensi”. Begitu tema yang diusung oleh perhelatan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) VI yang berlangsung di Jambi, 28-31 Desember 2012. 

Kamis, 22 November 2012



Pasar Sejarah Nusantara 
(Menanggapi Binhad Nurrohmat)

Oleh Ahda Imran

ESAI Binhad Nurrohmat (BN) Menerawang Kotak Hitam Nusantara (Kompas, 11 November 2012) menyasar hubungan karya sejarah di Nusantara dan karya sastra. Hubungan yang diletakkannya sebagai persekutuan imajinasi dan nalar manakala keduanya melakukan penerawangan atas fakta dan data sejarah. Meminjam latar penyelenggaraan Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) 2012 perihal ruang kosong sejarah Nusantara yang bisa dihampiri oleh para sastrawan, BN seolah mewaspadai  bahwa ruang kosong itu berpotensi dimasuki oleh karya para pseudonovelis yang mewartakan sejarah gadungan. Para pseudonovelis yang mendasarkan karyanya pada data-fakta yang didapat serampangan, atau melulu fantasi-imajinasi serta menistakan logika sejarah. Di ujung kewaspadaannya itu BN seolah membuat semacam seruan bahwa diperlukan moral untuk menarasi dan mewartakan sejarah melalui novel.

Tak ada yang baru sebenarnya dari esai itu. Tapi kewaspadaan dan seruan moral BN itu tetap menarik untuk diperhatikan, lebih lagi bila ditautkan pada perbincangan di forum BWCF. Forum yang mempertemukan pemikiran para novelis berlatar sejarah yang karya dan nama mereka sudah demikian popular—sebutlah, Aan Merdeka Permana, Hermawan Aksan, Tasaro GK, Langit Krisna Hariadi. Kewaspadaan dan seruan moral BN karena itu, terkesan  diarahkan pada pertemuan pemikiran para novelis yang menekan pada  ihwal hubungan sastra dan sejarah, atau yang memperkarakan kedudukan imajinasi serta penjelajahan estetik di hadapan logika atau data-fakta sejarah.

Jumat, 01 Juni 2012

Para Istri, Demokrasi, Daulat Partai




--Ahda Imran, penyair dan esais

KETIKA nama Ani Yudhoyono santer disebut sebagai capres yang bakal diusung oleh Partai Demokrat (PD) dalam pilpres 2014 mendatang,  serta merta oranng diingatkan pada satu alasan ihwal realitas demokrasi. Realitas yang mesti dipahami sebagai konsensus hak politik setiap warga negara. Apalagi, alasan itu menguatkan dirinya dengan realitas konstitusi yang tak ada satu pun bagiannya, yang paling kecil dan tersirat pun,  mengatur dikurangi atau ditambahnya hak politik seorang warga negara hanya karena ia ditakdirkan menjadi seorang istri presiden, seperti Ani Yudhoyono.  

Mengurangi haknya karena alasan seperti itu, merupakan penyangkalan atas takdir demokrasi yang secara tegas memisahkan domain publik dan domain domestik.  Dari ingatan semacam ini pula orang diajak memahami kemunculan para istri pejabat daerah ke tengah arena pertarungan politik (pilkada bupati/walikota). Fenomena politik yang tak ubahnya dengan transfer kekuasaan, istri menggantikan jabatan suami yang habis masa jabatannya.

Sabtu, 28 April 2012

Perempuan yang Melepas Pakaian Angsa


“AKU hanya akan melepas pakaian angsamu ini,” begitu kata Nora (Heliana Sinaga) 
pada suaminya Tommy Herlambang (Ayez Kassar), sebelum dengan ketus masuk ke dalam kamar. Lalu ia keluar dari dalam kamar dengan pakaian yang maskulin, celana jins, kaos putih ketat, dibalut baju hangat merah panjang dan syal. 

Tommy menatapnya heran. Nora bukan lagi perempuan yang dikenalnya. Istri yang manja dan diperlakukan bak boneka kesayangan. Angsa putih cantik yang selalu harus menurut. Kini di hadapannya berdiri seorang perempuan yang menatapnya dingin.

Selasa, 03 April 2012

Suatu Hari di Kantor Polisi



SUATU hari yang biasa-biasa saja, saya mengantar seorang teman ke kantor Polsek di kawasan Bandung Utara. Dia terpaksa harus mengurus surat keterangan kehilangan kartu asuransi. Kartu itu sebenarnya tidak hilang, tapi ia tinggalkan di Jepang bersama sejumlah berkas lainnya yang ia pikir tidak lagi penting. Dan ketika ia hendak mengurus suatu hal yang ada hubungannya dengan asuransi, kartu itu harus ada. Dan jika hilang, harus ada keterangan kehilangan dari kepolisian.

Tentu saja mustahil meminta surat keterangan kehilangan itu pada kepolisian Tokyo di Jepang sana. Maka mulailah kami mengarang sebuah cerita, bahwa kartu asuransi itu hilang tiga hari yang lalu. Mungkin dalam perjalanan dari rumah ke kantor, dalam angkot.