Sabtu, 28 April 2012

Perempuan yang Melepas Pakaian Angsa


“AKU hanya akan melepas pakaian angsamu ini,” begitu kata Nora (Heliana Sinaga) 
pada suaminya Tommy Herlambang (Ayez Kassar), sebelum dengan ketus masuk ke dalam kamar. Lalu ia keluar dari dalam kamar dengan pakaian yang maskulin, celana jins, kaos putih ketat, dibalut baju hangat merah panjang dan syal. 

Tommy menatapnya heran. Nora bukan lagi perempuan yang dikenalnya. Istri yang manja dan diperlakukan bak boneka kesayangan. Angsa putih cantik yang selalu harus menurut. Kini di hadapannya berdiri seorang perempuan yang menatapnya dingin.


Perempuan yang menggugat seluruhnya hasrat kuasanya sebagai suami dan lelaki. Perempuan yang berkata sinis, “Kamu tidak pernah mencintaiku. Kamu hanya menemukan kesenangan dan kepuasan jatuh cinta padaku. Papa memanggilku sebagai boneka kecilnya, dan dia senang bermain denganku seperti aku bermain bersama boneka-bonekaku. Di kemudian hari aku pindah ke kehidupan lelaki lain, yang bernama suami itu, di rumahmu ini, dan aku hanya menjadi boneka dan pajangan untuk kesenanganmu di rumah!!”

Adegan itu menjadi klimaks pemberontakan Nora dalam pertunjukan “Rumah Boneka (A Doll’s House)” karya Henrik Ibsen, diterjemaahkan dan diadaptasi oleh Faiza Mardzoeki. Sebelum ia melepas cincin perkawinannya, membanting pintu, pergi meninggalkan anak dan suaminya. Pertunjukan yang disutradarai Wawan Sofwan ini merupakan produksi bersama Institut Ungu, Pentas Indonesia, mainteater Bandung, dan Kedutaan Besar Norwegia Jakarta. Pertunjukan berlangsung di teater tertutup Taman Budaya Jawa Barat, 25-26 April 2012.

“Rumah Boneka” mengisahkan Nora yang sejak gadis hingga menikah dan menjadi seorang istri yang diperlakukan dalam kemanjaan yang membuatnya dipandang lemah dan tak berdaya. Angsa putih yang manis dengan seluruh perhatian sekaligus aturan. Ketika suatu kali ia diam-diam mengambil inisiatif untuk membiayai pengobatan suaminya yang sakit keras, Nora terlibat dalam persoalan yang jadi rumit. Ia terlibat dalam pemalsuan tanda tangan demi mencairkan pinjaman uang itu. Akibatnya, pemalsuan itu mengancam kedudukan suaminya di sebuah bank.

Rahasia Nora akhirnya terbongkar. Tapi alih-alih memahami tindakan istrinya,  Tommy menganggap Nora telah menjerumuskannya. Ia memaki dan menyebut Nora sebagai perempuan yang dungu. Tapi ketika Togar (Teuku Rifnu Wikana) mencabut ancaman pengaduan tersebut, Tommy tiba-tiba berkata lembut bahwa ia memaafkan Nora. Pada situasi inilah Nora memberontak. Ia tak bisa lagi menerima perlakuan suaminya. Ia merasa tak dihargai. Ia merasa tak boleh menjadi siapapun, kecuali hanya menjadi boneka kesayangan.

Karena itulah Nora melepas pakaian angsa yang dipakainya. Pakaian yang disenangi suaminya. Peristiwa yang minta dimaknai sebagai cara seorang perempuan mengambil hak atas tubuhnya kembali setelah selama ini, lewat pakaian angsa itu, tubuhnya menjadi milik dan kuasa suaminya. Dan inilah inti dari gagasan pertunjukan. Kesadaran perempuan untuk mengambil hak dirinya sebagai subjek otonom di hadapan kuasa masyarakat lelaki. Kuasa yang selalu mendapat “restu” dari kuasa negara dan tafsir otoritas agama.                  
Realisme yang Utuh
Menampilkan aktris perempuan Bandung Heliana Sinaga dan sejumlah pemain lainnya yang umumnya jebolan Institut Kesenian Jakarta (IKJ), pertunjukan berlangsung dalam gaya realisme yang utuh. Gaya pemanggungan yang memerhitungkan benar setiap detail dari adaptasi naskah. Sebuah keluarga kelas menengah atas di Jakarta. Setting ruang tamu, tangga loteng, lampu, pula demikian dengan pakaian. Lebih dari itu, irama pertunjukan, kisahan, dan perluasan konflik sepenuhnya bertumpu pada detail dialog.

Sebagai sutradara, Wawan Sofwan tampaknya tak tergoda untuk menciptakan peristiwa dramatik di luar bantingan pintu, lemparan asbak ke dinding, atau dialog para tokohnya. Karena itulah, bagi penonton yang mengharapkan adanya peristiwa-peristiwa dramatik dalam rupa metafora yang puitis dan mendebarkan, terutama ketika Nora melepas pakaian angsanya, barangkali pertunjukan ini akan terasa membosankan. Pertunjukan ini kiranya memang tak berpretensi ke arah itu. Keutuhan realisme Ibsen yang menyuguhkan teater dalam peristiwa keseharian mesti tetap dijaga.       

Sebagai “teater gagasan”, karya-karya Ibsen memang selalu meletakkan kekuatan dramatiknya pada detail dialog dan  kesiapan aktor dalam mengolah perannya. Dialog dan laku tubuh dalam karya-karya Ibsen seakan menjadi kunci dari gagasan pertunjukan. Meski tidak terlalu istimewa benar, beruntunglah umumnya pertunjukan ini dimainkan oleh para aktor yang memahami benar hal itu. 

Sebagai sebuah ensemble, mereka mengolah setiap perannya dengan tertib dan penuh perhitungan seraya mempertegas posisinya di dalam konflik. Sebutlah, olahan karakter Teuku Rifnu Wikana sebagai Togar, atau Willem Bevers (Dokter Franky). Tentunya ini seraya mengecualikan Ayu Dyah Pasha (Linda).  Artis sinetron ini tampak masih belum bisa mengartikulasikan laku tubunya dalam ruang yang bernama panggung teater.      

Mememerankan Nora, permainan Heliana Sinaga cukup mampu mengolah perannya sebagai pusat dari seluruh konflik. Terutama ketika konflik perlahan memuncak dan menekan Nora. Adegan perdebatannya dengan Togar dan Tommy di bagian akhir seolah membayar permainannya yang terasa monoton di awal-awal pertunjukan. Di bagian ini, pada pergantian karakter Nora, Heliana Sinaga mampu mengantar emosi pertunjukan ke pusat konflik.

“Pribumisasi” Ibsen
Pertunjukan ini berangkat sepenuhnya dari hasil terjemahan dan adaptasi yang berusaha membawa Ibsen ke dalam suasana Indonesia. Semacam “pribumisasi” Ibsen dari konteks Eropa Abad ke-19 ke dalam suasana Indonesia hari ini, tepatnya Jakarta. Strategi adaptasi semacam ini tidaklah mengurangi aktualitas isu yang diusungnya, yakni, ketimpangan gender, kuasa masyarakat lelaki, dan hasrat perlawanan perempuan untuk mengambil haknya sebagai subjek otonom, sebagai dirinya meski ia adalah seorang istri dan ibu.

Menuturkan proses terjemaahan dan “pribumisasi” Ibsen yang dilakukannya, Faiza Mardzoeki menyebutkan hal pertama yang dipikirkannya adalah konteks dan peristiwa. Meskipun secara esensi cerita dan berbagai peristiwanya sangat dekat dengan kehidupan msayarakat Indonesia. Tetapi karya Ibsen, tetaplah ditulis pada jamannya. Ada hal yang terasa jauh dalam kehidupan orang Indonesia.

“Misalkan ketika Nora membawa suaminya berobat ke Italia Selatan demi mencari daerah yang tenang untuk mengobati penyakit TBC. Mereka adalah keluarga kelas menengah biasa, pekerja profesional yang kedudukannya yang berusaha semakin bagus karirnya. Dalam konteks sekarang, penyakit TBC sangat menunjukkan status sosial dan keadaan ekonomi keluarganya. Orang Indonesia, khususnya Jakarta, tentu tidak akan berobat ke Italia, tetapi ke Singapura, dan penyakitnya pasti bukan TBC,” tuturnya.

Secara umum, pertunjukan berdurasi 2,5 jam dalam tiga babak yang melulu berisi dialog dalam sebuah rumah tanpa pergantian sett ini, selama dua hari telah cukup membuat penonton tampak menikmatinya. Paling tidak di hari kedua. Kekuatan detail dialog para pemain dalam menyuguhkan konflik, telah membuat penonton melupakan tata lampu dan musik yang kaku dan abai membantu aksentuasi pertunjukan. Sehingga mereka tak beranjak meninggalkan tempat duduk. (Ahda Imran)     

Sumber: Pikiran Rakyat, 29 April 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar