Minggu, 26 Februari 2012

Sekolah Aksara Kuno Anak Muda



MEREKA duduk berderet di kursi memenuhi sisi sebuah ruangan yang tidak begitu besar. Masing-masing asyik dan sibuk dengan kertas soal. Malam itu, Jumat (11/2) mereka sedang ujian kenaikan kelas. Kertas soal berupa teks latin yang harus diubah menjadi aksara kuno, dari mulai Sunda Kuna (baku) sampai aksara Cacarakan (Hanacaraka) menurut kelasnya. Untuk kelas satu mereka harus mengalihkan teks itu aksara Sunda Kuna, dan kelas dua mengalihkannya ke aksara Cacarakan.

Sesekali mereka tampak berkerut. Mengamati daftar dan bentuk aksara-aksara kuno yang meringkel-meringkel, mencoba mengalihkan dan menyatukannya menjadi kalimat yang seusai dengan soal. Ada juga yang bertanya pada teman di sebelahnya.


Di depan ada sebuah papan tulis. Dan Sinta Ridwan yang dipanggil “Ibu Guru”. Gadis belia berkaca mata itu berkeliling ke setiap kursi. “Bagaimana, ada yang susah’? Tanyanya. Ia memberi petunjuk atau menerangkan ini dan itu tentang cara menulis dan membaca pada mereka yang kelihatan selalu kerung menghadapi soal. Dengan senang hati ia pun akan menghampiri jika ada yang bertanya, “Bu Guru kalau ini bagaimana?”
Dengan sabar Sinta akan menerangkannya meski kadang sudah berapa kali ia menerangkannya dan peserta itu belum mengerti juga. “Lho, minggu lalu kan ini sudah diterangkan?”

Apanan dua minggu saya tidak masuk, Bu,” kata pemuda itu sambil nyengir.

Suasana ujian itu tidak tegang. Santai. Tapi setiap orang serius dan asyik mengerjakan soalnya. Membaca soal dan memindahkannya menjadi aksara kuno. Bagi yang sudah selesai, oleh Ibu Guru Sinta Ridwan akan disuruh maju ke depan. Diberi soal dan diminta menuliskannya di papan tulis dalam bentuk aksara kuno. 

Sinta mendampinginya. Memperhatikan muridnya menjawab soal di papan tulis. Sesekali ia membetulkan jika ada kesalahan seraya memberi tahu kesalahannya, memintanya mengulang menuliskannya lagi. Adegan di depan papan tulis itu persis pemandangan di kelas satu Sekolah Dasar (SD).

Tapi semua kelihatan santai. Menyenangkan. Bagi mereka yang sudah selesai, untuk mereka kelas dua, Sinta membagikan foto copy-an sebuah halaman dari Naskah Wangsakerta untuk dipindahkan ke huruf latin.  Bukan sebagai soal ujian, untuk latihan saja. Beberapa orang berdiskusi dengan teman sebelahnya, mengejakannya berdua. Sedang tak jauh dari situ, seorang peserta lain dengan santai meniup suling.

Begitulah suasana kelas Aksara Sunda Kuno (Aksakun) yang berlangsung saban Jumat malam di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) Bandung. Suasana yang jauh dari formal dan menegangkan sebagai sebuah sekolah. Demikian pula bila memerhatikan para peserta yang umumnya anak-anak muda. Dengan suasana semacam itu, aksara kuno terkesan tidak lagi menjadi sesuatu yang garing, sebagaimana kesan selama ini. Para peserta datang dari bermacam-macam kalangan. Mahasiswa, wiraswasta, pelajar, orang tua. Mereka tak hanya datang dari Bandung, tapi juga dari Subang, Majalaya, Jakarta, bahkan ada seorang peserta dari Meksiko.    
                                                                          **
AKSAKUN merupakan bagian dari program Balai Belajar Bersama komunitas GIM. Di GIM Aksakun telah dimulai sejak Oktoner 2010. Meski ada yang namanya Ibu Guru (Sinta Ridwan), Kepala Sekolah (Mukti-mukti), dan Ketua Yayasan (Hanif), tapi penamaan itu tidaklah seserius atau seformal yang dibayangkan orang. 
“Ini sekolah terbuka. Tak ada iuran atau keanggotaan resmi. Ini sekolah suka-suka. Cara belajarnya dalam suasana yang santai tapi tetap serius,” kata Hanif.

Sedangkan Mukti-mukti menyebutkan ide Aksakun  datang dari Sinta Ridwan. Ia hanya ikut mendukung ide tersebut. Selanjutnya bagaimana teknis dari ide tersebut diserahkan langsung pada para peserta. Misalnya, ada ide untuk juga bikin program Markinyul (Mari Kita Nyuling) di sela-sela belajar aksara kuno. Itu ide dari peserta sendiri, dan dilaksanakan.

“Saya hanya mengawal ide-ide mereka. Termasuk juga kami ke Cirebon untuk bertemu dengan komunitas aksara Cirebon di sana,” ujar Mukti-mukti yang juga dikenal sebagai musisi balada ini.

Mengamati para peserta Aksakun, seperti malam itu, Jumat (11/2), umumnya mereka adalah anak-anak muda dengan dandanan yang santai khas anak muda. Adalah menarik mencari tahu motivasi mereka belajar menulis dan membaca aksara kuno. Untuk apa mereka merasa harus ikut belajar dan bergabung dalam komunitas ini, toh, aksara itu tidak mereka gunakan dalam kesehari-harian?

Tenny Indah Susanti, salah seorang peserta mengatakan ketertarikannya belajar Aksakun karena memang minatnya pada hal-hal yang berhubungan dengan kebudayaan. Terutama kebudayaan yang hidup di lingkungannya. Sama halnya dengan Udo, seorang wiraswasta yang termotivasi untuk belajar Aksakun karena keinginan untuk lebih mengenali budaya leluhur (Sunda).  

“Tapi saya tertarik belaajar aksara Sunda kuno gara-gara merasa penasaran melihat aksara Sunda di plang-plang jalan. Lagi pula suasana belajarnya tidak membosankan, ” ujar Mardiansyah mahasiswa Jurusan Pendidikan UPI yang sudah dua bulan bergabung dengan Aksakun.

Seperti Mardiansyah, mereka umumnya menyebutkan ketertarikan belajar Aksakun karena suasana belajar yang santai dan akrab. Tidak formal dan membosankan, apalagi yang mereka pelajari adalah aksara kuno. Dengan suasana yang hangat dan akrab semacam itulah kesulitan mereka belajar menulis dan membaca aksara kuno jadi tidak begitu terasa. Kesulitan yang paling sering ditemukan hanyalah menghapal bentuk-bentuk aksaranya, yang kadang mirip satu sama lain. “Kalau aksara Sunda baku tidak susah. Tapi yang sulit itu Cacarakan. Hurufnya banyak yang sama,” kata Mardiansyah.

Antusiasme anak-anak muda belajar aksara kuno ini tampak dari selalu munculnya peserta baru hampir dalam setiap pertemuan.   Dan ia langsung diberi pelajaran dasar, yaitu, Aksara Sunda. Ini merupakan pelajaran dasar, latihan sampai lima kali pertemuan. “Pertama saya memberi conton bagaimana menulisnya. Lalu menyalin, lalu mereka menghafal, dan dites perlima huruf,” kata Sinta Ridwan, seraya menyebutkan umumnya kesulitan yang ditemui adalah menghafal bentuk huruf.

Menurut Sinta, dalam amatannya ada tiga hal yang membuat anak-anak muda belajar Aksakun. Dari yang lebih karena ingin tahu dan penasaran seperti apa sebenarnya aksara Sunda kuno itu, mereka yang memang diam-diam berminat pada filologi, hingga yang belajar aksara Sunda kuno karena tertarik pada bentuk-bentuk visualnya. Kelas Aksakun ini terbagi ke dalam kelas satu,dua, tiga. Tapi sejak Oktober 2010, kelas yang ada baru sampai kelas dua.  

“Konsep mengajar yang saya pakai adalah kami belajar bareng. Saya foto-copy sendiri bahan-bahannya. Bahan-bahan apa yang akan diajarkan saya ambil dari buku-buku yang ada,” ujar gadis yang baru saja menyelesaikan pascasarjananya di Jurusan Filologi Unpad ini.

Malam itu, setelah menyelesaikan soal ujian mereka dengan senang hati maju ke depan untuk dites oleh Sinta Ridwan di papan tulis.  “Ayo, siapa lagi yang belum maju ke depan?”  (Ahda Imran)**    
                                                            

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar