Minggu, 31 Maret 2013

Menyoal Hari Sastra Indonesia


Oleh AHDA IMRAN

MENETAPKAN  hari lahir seseorang sebagai penanda penting bagi ingatan kolektif, tentu lumrah saja. Kelahiran orang suci, nabi, wali, pahlawan atau yang sosok dikeramatkan kerap menjadi hari dan peristiwa penting yang jadi tradisi perayaan hingga ritual. Biografi seseorang di situ diubah menjadi biografi ingatan di ranah publik. Inilah yang hendak ditating oleh Taufiq Ismail dan sejumlah sastrawan yang lalu menggagas perlunya ada sebuah hari untuk memperingati sastra Indonesia. Mereka, dan sejumlah sastrawan lainnya, berkumpul di Bukittinggi Sumatera Barat, Minggu (24/3), dan lahirlah Maklumat Hari Sastra Indonesia yang ditetapkan setiap tanggal 3 Juli. Penetapan ini mendasar pada hari kelahiran sastrawan penulis novel terkenal “Salah Asuhan” (1928) Abdoel Moeis  di Bukittinggi 3 Juli 1883.


Kamis, 28 Maret 2013

Kegairahan dalam Kerumunan




Oleh AHDA IMRAN

PENGUMUMAN hasil seleksi karya para penyair yang berhak mengikuti Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) VI di Jambi 28-31 Desember 2012, menempatkan 24 nama penyair Jabar. Selain diundang hadir ke Jambi, karya mereka juga dimuat dalam antologi “Sauk Seloko” bersama para penyair lainnya dari berbagai kota dan negara. Banyaknya jumlah penyair Jabar yang lolos seleksi PPN VI Jambi dibanding  propinsi-propinsi lainnya, mengulang apa yang pernah terjadi pada hasil seleksi karya para penyair yang mengikuti Temu Sastrawan Indonesia (TSI) IV di Ternate Maluku Utara 2011 lalu. Dalam buku antologi  “Tuah Tara No Ate” yang terbit menyertai even TSI IV, terdapat  sejumlah puisi karya 15 penyair Jabar.

Dari kedua even itu, di antara daftar para penyair Jabar, umumnya ialah generasi terbaru.   Anis Sayidah, Evi Sefiani, Sinta Ridwan, Nissa Rengganis, Herton Maridi, atau Pungkit Wijaya. Termasuk pula sejumlah nama generasi terbaru yang  mungkin masih terdengar asing bagi publik sastra di Jabar; Jun Nizami, Khoer Jurzani, Ahmad Syahid, Arinda Risa Kamal, Rudy Ramdani , Galah Denawa, Neneng Nurjanah, Syarif Hidayatullah, Willy Fahmy Agiska, Windu Mandela, Romyan Fauzan, Arinda Risa Kamal, atau Zulkifli Songyanan. Nama-nama ini menyertai sejumlah penyair lain dari lapisan generasi Ahmad Faisal Imron, Atasi Amin, Toni Lesmana, Bode Riswandi, Heri Maja Kelana, Dian Hartati, Fina Sato, atau Doni Muhammad Nur.

Banyaknya jumlah karya penyair Jabar yang terpilih dalam seleksi dua even sastra tersebut, tentu akan menjadi gegabah bila lantas disebut bahwa karya penyair Jabar lebih bagus ketimbang penyair dari propinsi lainnya.

Rabu, 27 Maret 2013

Alazhi: Tubuh Identitas di Simpang Jalan




---Ahda Imran

Selamat tinggal, Alazhi. Selamat datang Lian Ting

ITU kalimat yang dibisikkan Alazhi pada dirinya. Sesaat setelah gadis Uyghur itu melepas kerudung dan busana muslimahnya, menukarnya dengan busana modern yang memamerkan tubuhnya yang ramping. Bila, seperti dibilang Henk Schulte Nordholt (2005), busana dimaknai sebagai perpanjangan tubuh, maka dalam peristiwa itu Alazhi sedang menyeberangkan tubuhnya dari satu identitas ke identitas yang lain. Ia mengalihkan definisi dan deskripsi identitas tubuhnya ke identitas yang lain. Identitas baru yang berbeda, yang merepresentasikan hasratnya pada kemajuan. Sekaligus yang mendeskrsipsikan sebuah tatanan psiko-sosial politik dan budaya yang menegangkan, yang menghadapkan identitas minoritas dan mayoritas.      

Lebih jauh dalam peristiwa itu Alazhi sedang memamerkan kuasanya sebagai perempuan atas identitas tubuhnya.  Setelah selama ini kuasa itu berada di tangan sejarah, tradisi, dan kepercayaan sukunya. Perempuan yang pergi sendiri meninggalkan kampung halamannya dan membuka kerudungnya adalah sebuah aib. Kuasa ayah atau suami adalah representasi dari kuasa suci agama. Kerudung bukan hanya selembar kain, tapi juga norma agama, harga diri keluarga, dan identitas dari marwah kaum atau suku. Pergi diam-diam meninggalkan kedua orang tua dan sukunya, barulah Alazhi berada di luar kuasa itu. Ia kini memiliki kuasa atas identitas tubuhnya meski harus menanggung aib.

Trakl: Puisi, Keindahan, dan Beban Kebenaran





--Ahda Imran

Eloklah manusia, menjelma dalam gulita
                                                     (Helian)

BAGI  perindu kebenaran, pemeluk teguh karya seni yang mengimani keindahan sebagai yang harus menyeru manusia pada laku kebajikan, karya seni yang digubah dari getar sukma dan menuntun orang untuk menginsyafi sinar benderang kemuliaan seraya mewaspadai kejahatan, Georg Trakl (1887-1904) dan puisi-puisinya adalah contoh yang buruk—bahkan paling buruk. Baris puisinya di atas hanyalah satu dari sekian karyanya yang tak patut dijadikan ajaran apalagi teladan,  pemujaannya yang setengah mengajak orang untuk  menjelma dalam gulita. Bahkan, penyair yang juga pecandu narkotika ini pernah mengatakan, “Saya tidak berhak mengelak dari neraka”. Na’udzubillahi himinndzaliq...

Dan ternyata itu belum cukup. Georg Trakl adalah seseorang yang kepadanya seluruh kebencian mesti dialamatkan. Bukan hanya ia pendosa karena mencandu narkotika yang membuatnya mengalami berbagai halunisasi (skizofrina), tapi Trakl juga  menjalin cinta gelap dengan adik perempuannya sendiri, Grete. Hubungan inses ini telah berlangsung sejak keduanya masih remaja. Ada banyak alasan untuk memaafkan seorang narkoba atau memaklumi seorang yang memilih menjadi komunis, atheis, fasis, atau berbagai kejahatan dan kelainan seks. Tapi sulit sekali menemukan alasan untuk memaklumi, apalagi memaafkan, orang yang bercinta dengan adik kandungnya. Perbuatan yang bahkan tak terpikirkan oleh para pengedar dan bandar narkoba sekalipun.

Selasa, 26 Maret 2013

Dapur adalah Tubuh Perempuan




Oleh AHDA IMRAN

SEJARAH  masakan ternyata tak melulu berisi sejarah awal mula imprealisme, seperti Jack Turner menulisnya dengan bagus dalam Sejarah Rempah: Dari Erotisme sampai Imprealisme (2011). Tapi juga menyoal dapur dan bagaimana perempuan dimaknai. Dalam masyarakat lelaki, dapur ialah ruang domestik sebagaimana tubuh perempuan yang tak pernah dimaknai sebagai tubuh publik. Dapur tampakya bukanlah semata ruang yang fungsional, melainkan pula tempat tubuh perempuan dikoloni. Dari tempat itulah perempuan diukur kesempurnaannya melayani suami, dengan kemampuannya memasak. Setidaknya tak ada seorang pun suami yang merasa menanggung dosa besar jika ia tak pandai memasak.

Dapur adalah tubuh perempuan. Inilah yang ditulis oleh Eka Kurniawan “Kutukan Dapur” dalam kumpulan cerpennya “Cinta Tak Ada Mati dan Cerita-cerita Lainnya” (2005). Lalu cerpen ini dialihwahanakan oleh kelompok teater DarahRouge Bandung, menjadi sebuah lakon pertunjukan berjudul “Cooking and Murder” dengan sutradara Karensa Dewantoro.

Minggu, 06 Januari 2013

Melayari Puisi Nusantara: Dari Hulu hingga Hilir




Oleh  AHDA IMRAN

BILA perpuisian Melayu Nusantara ditamsilkan sebagai sebuah sungai, dari hulu hingga ke hilir, maka melayarinya bukanlah pekerjaan mudah. Sungai itu terlalu besar, berhulu di suatu masa sebelum abad ke-16, bahkan pula ada yang menyebut sejak awal abad ke-7. Terlebih pelayaran itu demi mengandaikan terbentangnya sebuah pemetaan ihwal kekayaan khazanah perpuisian Melayu.  Ada banyak alun dan riak yang ditemukan,  yang seluruhnya niscaya minta ditautkan dengan ihwal fenomena gerak identitas, sehingga pelayaran di sungai besar puisi Nusantara itu tak terjebak ke dalam impresi yang serba romantik. 

“Perpuisian Nusantara dari Hulu hingga Hilir: Perspektif Historis, Filosofis, dan Eksistensi”. Begitu tema yang diusung oleh perhelatan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) VI yang berlangsung di Jambi, 28-31 Desember 2012. 

Kamis, 22 November 2012



Pasar Sejarah Nusantara 
(Menanggapi Binhad Nurrohmat)

Oleh Ahda Imran

ESAI Binhad Nurrohmat (BN) Menerawang Kotak Hitam Nusantara (Kompas, 11 November 2012) menyasar hubungan karya sejarah di Nusantara dan karya sastra. Hubungan yang diletakkannya sebagai persekutuan imajinasi dan nalar manakala keduanya melakukan penerawangan atas fakta dan data sejarah. Meminjam latar penyelenggaraan Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) 2012 perihal ruang kosong sejarah Nusantara yang bisa dihampiri oleh para sastrawan, BN seolah mewaspadai  bahwa ruang kosong itu berpotensi dimasuki oleh karya para pseudonovelis yang mewartakan sejarah gadungan. Para pseudonovelis yang mendasarkan karyanya pada data-fakta yang didapat serampangan, atau melulu fantasi-imajinasi serta menistakan logika sejarah. Di ujung kewaspadaannya itu BN seolah membuat semacam seruan bahwa diperlukan moral untuk menarasi dan mewartakan sejarah melalui novel.

Tak ada yang baru sebenarnya dari esai itu. Tapi kewaspadaan dan seruan moral BN itu tetap menarik untuk diperhatikan, lebih lagi bila ditautkan pada perbincangan di forum BWCF. Forum yang mempertemukan pemikiran para novelis berlatar sejarah yang karya dan nama mereka sudah demikian popular—sebutlah, Aan Merdeka Permana, Hermawan Aksan, Tasaro GK, Langit Krisna Hariadi. Kewaspadaan dan seruan moral BN karena itu, terkesan  diarahkan pada pertemuan pemikiran para novelis yang menekan pada  ihwal hubungan sastra dan sejarah, atau yang memperkarakan kedudukan imajinasi serta penjelajahan estetik di hadapan logika atau data-fakta sejarah.

Jumat, 01 Juni 2012

Para Istri, Demokrasi, Daulat Partai




--Ahda Imran, penyair dan esais

KETIKA nama Ani Yudhoyono santer disebut sebagai capres yang bakal diusung oleh Partai Demokrat (PD) dalam pilpres 2014 mendatang,  serta merta oranng diingatkan pada satu alasan ihwal realitas demokrasi. Realitas yang mesti dipahami sebagai konsensus hak politik setiap warga negara. Apalagi, alasan itu menguatkan dirinya dengan realitas konstitusi yang tak ada satu pun bagiannya, yang paling kecil dan tersirat pun,  mengatur dikurangi atau ditambahnya hak politik seorang warga negara hanya karena ia ditakdirkan menjadi seorang istri presiden, seperti Ani Yudhoyono.  

Mengurangi haknya karena alasan seperti itu, merupakan penyangkalan atas takdir demokrasi yang secara tegas memisahkan domain publik dan domain domestik.  Dari ingatan semacam ini pula orang diajak memahami kemunculan para istri pejabat daerah ke tengah arena pertarungan politik (pilkada bupati/walikota). Fenomena politik yang tak ubahnya dengan transfer kekuasaan, istri menggantikan jabatan suami yang habis masa jabatannya.

Sabtu, 28 April 2012

Perempuan yang Melepas Pakaian Angsa


“AKU hanya akan melepas pakaian angsamu ini,” begitu kata Nora (Heliana Sinaga) 
pada suaminya Tommy Herlambang (Ayez Kassar), sebelum dengan ketus masuk ke dalam kamar. Lalu ia keluar dari dalam kamar dengan pakaian yang maskulin, celana jins, kaos putih ketat, dibalut baju hangat merah panjang dan syal. 

Tommy menatapnya heran. Nora bukan lagi perempuan yang dikenalnya. Istri yang manja dan diperlakukan bak boneka kesayangan. Angsa putih cantik yang selalu harus menurut. Kini di hadapannya berdiri seorang perempuan yang menatapnya dingin.

Selasa, 03 April 2012

Suatu Hari di Kantor Polisi



SUATU hari yang biasa-biasa saja, saya mengantar seorang teman ke kantor Polsek di kawasan Bandung Utara. Dia terpaksa harus mengurus surat keterangan kehilangan kartu asuransi. Kartu itu sebenarnya tidak hilang, tapi ia tinggalkan di Jepang bersama sejumlah berkas lainnya yang ia pikir tidak lagi penting. Dan ketika ia hendak mengurus suatu hal yang ada hubungannya dengan asuransi, kartu itu harus ada. Dan jika hilang, harus ada keterangan kehilangan dari kepolisian.

Tentu saja mustahil meminta surat keterangan kehilangan itu pada kepolisian Tokyo di Jepang sana. Maka mulailah kami mengarang sebuah cerita, bahwa kartu asuransi itu hilang tiga hari yang lalu. Mungkin dalam perjalanan dari rumah ke kantor, dalam angkot.

Kamis, 29 Maret 2012

Tak ada Lagi Bioskop di Bandung

SEBUAH nama tempat atau benda dikenal karena keduanya ada serta berfungsi. Tapi, manakala keduanya kehilangan fungsinya, niscaya kata itu berangsur-angsur dilupakan. Bahkan, oleh generasi seterusnya kelak kata itu menjadi asing. Jika pun kata itu masih ada, maka itu hanya berupa jejak dalam kamus. Sebutlah, kata “perangko”. Meski sebagai benda perangko masih bisa ditemukan, tapi sebagai kata ia mulai asing karena fungsinya dalam surat menyurat telah digantikan oleh ponsel, surel (e-mail), dan jejaring sosial.

Seperti kata “perangko”, begitulah nasib bioskop. Sebagai benda atau nama tempat ia masih ada. Di Bandung, misalnya, kita bisa menemukannya di sejumlah kawasan. Termasuk di pusat kota seperti  di alun-alun atau di Jl. Braga. Tapi,  itu tak lebih sekadar bangunan yang telah kehilangan fungsinya sebagai tempat orang menonton film. Kata “bioskop” biasanya baru muncul setelah nasib bangunannya yang bersejarah diusik demi kepentingan yang lebih pragmatis. Seperti bangunan bekas bioskop Rio Cimahi yang dirombak, sebelum bioskop yang berdiri sejak tahun 1937 itu kini beralih menjadi pusat penjualan ponsel. Terakhir, kata “bioskop” muncul lagi sehubungan dengan nasib bekas bangunan bioskop Pasific di Sumedang.

Sabtu, 24 Maret 2012

"Kita" dan “HORISON Kita”



 
                 
“Selalu aku berdoa kiranya HORISON kita tidak sampai menghadapi kebangkrutan. Namun tampaknya majalah sastra ini tidak maju-maju juga, bahkan tidak lebih baik isinya ketimbang tahun-tahun tujuhpuluhan dulu----kalau tidak dikatakan lebih buruk”


BEGITULAH awal sebuah surat, datang dari Bandung, 20 tahun kemudian setelah majalah sastra itu lahir, bulan Juli 1966. Surat cerpenis Aliefya M. Santrie itu dimuat dalam rubrik “Surat-surat” Majalah Horison No. 6 Tahun 1986. Semangat surat itu mempertanyakan, bahkan memperkarakan, ukuran penilaian redaksi antara cerpennya yang dimuat dan cerpennya yang tidak juga dimuat, sambil juga mengkritisi sejumlah hal tentang kualitas majalah sastra tersebut.

Meski surat tersebut penuh gugatan, namun cerpenis produktif yang kini entah ke mana itu, mengakhiri suratnya seperti bagaimana ia mengawalinya, “Dengan begitu aku berdoa untuk kejayaan HORISON kita di tengah-tengah relatifnya kriteria penilaian sastra.”

Tapi siapakah “kita” yang dimaksud Aliefya M. Santrie dalam suratnya itu? Apakah ia sebagai cerpenis dan para sastrawan lainnya yang duduk di meja Redaksi Majalah Horison? Atau ia hendak mewakili  para sastrawan, peminat, dan pembaca sastra yang dibayangkan ikut merasa memiliki dan terlibat dengan nasib serta mutu majalah sastra itu?

Jumat, 23 Maret 2012

Lagi, Menyoal Bahasa Ibu



 SETIAP kali mendekati peringatan Hari Bahasa Ibu, 21 Februari, setiap kali itu pula kita disodori oleh berbagai hasil penelitian yang mencemaskan ihwal nasib kelanjutan bahasa ibu. Apalagi kemudian kecemasan itu juga sesuai dengan hasil penelitian Unesco yang menyebutkan bahwa dalam setiap tahun sepuluh bahasa ibu mengalami kepunahan. Penelitiannya yang paling mutakhir mengatakan, beberapa bahasa ibu di sejumlah negara diprediksi usianya hanya tinggal satu abad, sebelum lantas lenyap. Bahkan diprediksi lagi, satu abad mendatang, dari 6.000 bahasa yang terdapat di dunia 50 persennya akan punah.


Dalam konteks bahasa Sunda, terakhir perkembangannya ditenggarai semakin kritis mengingat persentase penuturnya yang kian menurun dari tahun ke tahun. Bahkan sehari menjelang peringatan Hari Bahasa Ibu, menurut survey yang dilakukan Balai Bahasa Bandung, disebutkan penutur Bahasa Sunda mengalami penurunan 20 persen (Pikiran Rakyat, 20 Februari 2009).

Cihampelas (1), Denyut Sebuah Kawasan



MENYEBUT Cihampelas, maka ingatan orang tak sekadar tertuju pada sebuah kawasan yang secara geografis berada di Kota Bandung. Mungkin sejak akhir tahun 1980, ketika tempat ini pelan-pelan mulai dikenal sebagai kawasan perdagangan jeans yang sebelumnya berada di kawasan Pajajaran, Cihampelas mulai menunjukkan denyut perkembangan yang menyimpang dari masa lalunya. 

Dari kawasan yang oleh pemerintal kolonial dirancang sebagai kawasan hunian, tumbuh berubah menjadi kawasan perdagangan. Denyut perkembangan ini menarik, karena perubahan fungsi kawasan ini terjadi sebagai proses yang berada di luar rancangan institusi formal pemerintah.

Cihampelas (2), Perdagangan dan Denyut Warga

PERUBAHAN fungsi sebuah kawasan akan membawa sejumlah pengaruh pada masyarakat yang menghuni kawasan tersebut. Ini menjadi niscaya karena sebuah kawasan adalah juga sebuah ruang sosial. Pengaruh yang terjadi karena berubahnya fungsi sebuah kawasan, lambat laun akan mengubah karakteristik ruang sosial atau masyarakat di dalamnya. Ia bisa saja bergerak ke arah perubahan yang produktif, mengimbangi dan secara selektif mengontrol arah perubahan dengan segenap dampaknya. Atau, sebaliknya perubahan fungsi kawasan tersebut malah cenderung membawa dampak yang tak terkontrol dan kontra-produktif. 

Kenyataan ini tentu juga bisa dicermati pada perubahan fungsi kawasan Cihampelas, dari kawasan hunian menjadi kawasan perdagangan. Kawasan yang banyak disebut sebagai ikon wisata belanja Kota Bandung karena keunikan dan produk-produk fesyen yang ditawarkannya. Kesibukan yang telah jadi kesehari-harian sepanjang koridor Cihampelas niscaya telah memengaruhi masyarakat Cihampelas. Pengaruh ini semakin besar seiiring dengan tingkat kesibukannya sebagai kawasan perdagangan.

Pesantren, Benteng Terakhir Pendidikan Bahasa Sunda?



PENDIDIKAN bahasa Sunda di sekolah yang lebih menitikberatkan bahasa sebagai ilmu (pengaweruh) ketimbang sebagai alat untuk berkomunikasi, telah membuat anak-anak muda malas untuk berbahasa Sunda. Pengajaran bahasa jadi penuh hapalan yang memberatkan anak didik. Kurikulum pendidikan bahasa Sunda semacam inilah yang menjadi bagian dari kecemasan, jangan-jangan upaya ngamumule (merawat dan memelihara) bahasa Sunda justru adalah kita sedang membakar panggung dengan bensin kita sendiri. Satu-satu lembaga pendidikan yang kini masih mengajarkan bahasa Sunda sebagai alat berkomunikasi hanyalah pesantren. 

Gilang Cempaka, “Perempuan Tidak Punya Hak Atas Tubuhnya”



BUDAYA patriaki adalah suatu masyarakat lelaki dengan norma-norma yang mengatur bagaimana perempuan mesti mengatur tubuhnya. Budaya ini diam-diam telah menjadi semacam sistem nilai, baik seperti apa yang dipahami sebagai tradisi, maupun yang kemudian hadir dalam masyarakat industri. Tubuh perempuan di situ di atur atas nama kepatutan norma-norma tradisi juga atas nama keperluan masyarakat industri. 

Pada keduanya selalu diciptakan ukuran-ukuran ihwal kesempurnaan tubuh perempuan dan kecantikannya. Jika ukuran itu muncul dalam masyarakat industri, maka sebenarnya masyarakat industri itu sendiri adalah wajah lain dari masyarakat lelaki yang mensubordinasi perempuan.

Rendra, Rumah dengan Banyak Kamar



SEBAGAI seorang seniman dan budayawan, Rendra (1935-2009) tak ubahnya dengan bangunan yang memiliki kamar-kamar besar. Dalam bangunan itulah Rendra menunjukkan dedikasi kesenimannya. Bagi Rendra, kesenian haruslah sejajar dengan kehidupan lainnya. Begitu juga menjadi seorang seniman haruslah berdiri sejajar dengan siapapun, tak terkecuali di depan seorang Jenderal. Di mata Rendra, kemampuan emasipasi seorang individu dalam sebuah hubungan sosial haruslah dipuncaki pada yang disebutnya dengan Ananingsun, marganira, ananira magraningsun (Aku ada karena Anda, Anda ada karena aku).

Menyoal Film Biografi



SAMBUTAN masyarakat yang menggembirakan atas film “Sang Pencerah” tampaknya menjadi sinyal mencerahkan dalam mencermati gejala berikutnya dari perkembangan film Indonesia. Kesuksesan film yang mengisahkan perjuangan pendiri Muhammadiyah K.H. Ahmad Dahlan ini, seolah mengirim isyarat baik pada agenda produksi film Indonesia yang berangkat dari kisah hidup para tokoh.

Sejumlah film biografi berikutnya akan segera hadir dan berharap bisa mengikuti kesuksesan “Sang Pencerah”.  Isyarat yang sebelumnya telah dikirim sejak tahun 2005 oleh “Gie”, film garapan Riri Reza yang mengisahkan perjuangan mahasiswa dan aktivis Soe Hok Gie. Film ini menyabet Film Terbaik FFI 2005.  
Dan tak lama lagi, selepas “Sang Pencerah” masyarakat pun akan disugugi beberapa produksi film yang mengusung kisah perjuangan atau penggalan hidup sejumlah tokoh Indonesia yang lain. Sebutlah, film “Inggit Ganarsih” yang menampilkan sosok mantan istri pertama Ir. Soekarno yang akan diperankan oleh Mawdy Koesnadi. 

Panjang Jimat, Pertemuan Agama dan Budaya




IRING-iringan orang yang yang terus menggumamkan shalawat. Lilin-lilin besar dan obor, lalu sejumlah orang yang membawa benda-benda pusaka keraton, termasuk piring keramik berukuran besar berumur ratusan tahun yang disebut Panjang, yang juga dikenal dengan Ambeng Rasul.  

 Ada juga beberapa jenis senjata, gerabah (keramik) dalam berbagai bentuk dan ukiran, juga makanan yang tertutup kain merah dan putih yang dijunjung oleh para lelaki berpakaian hitam-hitam. Selain itu, sejumlah orang juga membawa berbagai perangkat sebagai simbolisme dari peristiwa persalinan atau kelahiran anak manusia.