HANYA
beberapa jam setelah upacara pemakamannya, Senin (5/7), sejumlah seniman dan
aktivis kesenian di Bandung berkumpul di Taman Cikapayang Dago, Bandung. Seolah
belum cukup mengucapkan doa di Sirnaraga, mereka merasa perlu berkumpul di
taman itu demi melakukan doa bersama. Doa bagi seseorang yang telah pergi lebih
dulu. Seseorang yang mereka sebut sebagai kawan, sahabat, kakak, bahkan guru.
Seseorang yang tak henti memikirkan bagaimana hendaknya agar kota kelahirannya,
Bandung, benar-benar menjadi kota dengan identitas budayanya. Seseorang, yang
demi itu semua, terus diganggu oleh berbagai ide dan kerja untuk menciptakan
agar seni dan budaya itu benar-benar menjadi event di tengah warga kotanya.
Sabtu, 12 Maret 2016
Sastra Instan, Pluralisme, Religiusitas
SASTRA sebagai pergulatan kreatif adalah sebuah jalan sunyi. Jalan yang tak
mudah beriringan dengan kepentingan industri, apalagi popularitas. Meski hal
itu akan sangat menggembirakan bila bisa diseiringkan, namun fenomena yang
terjadi di tengah gegap gempitanya aktivitas industri penerbitan dan
sosialisasi karya sastra yang terjadi akhir-akhir ini ternyata menimbulkan
semacam kecemasan juga. Sastra tidak lagi dimasuki lewat pergulatan jalan sunyi
yang penuh kesabaran. Tak ayal lagi tuntutan industri dan
kepentingan-kepentingan yang pragmatis telah melahirkan budaya instan dalam
berkesusastraan. Intensitas dalam pergulatan kreatif tersisihkan oleh tujuan
dan kepentingan-kepentingan pragmatis, termasuk eksistensi dan popularitas.
Banyak karya yang bermunculan tapi sebanyak dan secepat itu juga yang hilang,
hanya sedikit yang kemudian mampu mengendap.
Kota dan Labirin Konsumerisme
DATANGLAH ke Bandung. Maka Anda sebenarnya tidaklah
berada dalam sebuah kota, melainkan berada dalam sebuah labirin. Labirin yang
sesak dan dikonstruk oleh berbagai kepentingan komersial. Kota dan seluruh
ruang di dalamnya dibangun bukan lagi untuk kepentingan publik, melainkan demi
melayani hasrat-hasrat kuasa para pemilik modal. Lihatlah, berbagai penunjuk
jalan pun muncul dan memberi informasi ihwal lokasi komersial, mulai dari mal
hingga factory outlet sehingga seluruhnya seolah telah menjadi bagian utuh dari
tubuh kota. Inilah kisah kota dalam labirin konsumerisme. Kota yang tubuhnya
dipenuhi oleh kekerasan simbolis.
Sudjojono: Marwah Sebuah Ide
TAK
ada yang paling berharga bagi seorang seniman melainkan ide. Dengan ide,
seorang seniman bergerak mengungkapkan jiwa dalam karya-karyanya. Karya seorang
seniman bukan melulu tentang keindahan yang elok dan molek, tetapi juga mesti
menghadirkan kebenaran yang menampak dalam jiwanya. Jiwa yang menampak adalah
roh sebuah karya yang tidak melulu mesti patuh pada kaidah-kaidah keindahan.
Karya yang besar hanya bisa lahir dari seniman yang mampu menghadirkan jiwanya.
Oleh karena itu, menatap sebuah karya seni bukanlah melulu bertemu dengan
gugusan keindahan, tetapi menatap jiwa seorang seniman.
Apakah yang akan
ditatap dan ditemukan jika jiwa seniman tak ada di dalam karya?
Jejak Terakhir H.R. Hidayat Suryalaga
SESAMPAINYA
di Redaksi Pikiran
Rakyat, ia tak langsung masuk menuju ruang diskusi di lantai dua di mana
dia akan tampil sebagai pembicara. Ia tetap berada di dalam mobilnya, mengistirahatkan
tubuhnya yang terus dihajar oleh batuk. Mungkin lima belas menit kemudian ia
baru turun ditemani putranya Reza Suryalaga. Sebentar ia tampak menjadi segar
ketika dalam ruang diskusi bertemu dengan para peserta dan dua pembicara
lainnya, Endo Suanda dan Teddi Muhtadin. Dalam suasana semacam itu, ia, H.R.
Hidayat Suryalaga (69), terlihat begitu bersemangat. Ia dengan someah
berbincang dengan siapa pun.
Akan tetapi, batuk-batuk itu kembali mengganggunya, justru ketika ia dipersilakan duduk di depan sebagai pembicara. Seperti permintaannya kepada moderator menjelang diskusi, Kang Surya (begitu ia akrab disapa) mendapat giliran terakhir. Di situlah batuk tak henti-henti mengganggunya, meski botol obat batuk kecil selalu menemaninya. Di tengah batuk-batuk itulah ia tetap tekun menyimak apa yang dipaparkan oleh Endo Suanda dan Teddi Muhtadin.
Akan tetapi, batuk-batuk itu kembali mengganggunya, justru ketika ia dipersilakan duduk di depan sebagai pembicara. Seperti permintaannya kepada moderator menjelang diskusi, Kang Surya (begitu ia akrab disapa) mendapat giliran terakhir. Di situlah batuk tak henti-henti mengganggunya, meski botol obat batuk kecil selalu menemaninya. Di tengah batuk-batuk itulah ia tetap tekun menyimak apa yang dipaparkan oleh Endo Suanda dan Teddi Muhtadin.
Jumat, 11 Maret 2016
Bunga Dari Yunizar
BUNGA-BUNGA itu terlihat aneh. Ia
tumbuh dengan garis batang dan ranting yang kaku, jauh dari lentur sebagaimana
mestinya, bahkan tak ada selembar pun daun. Bunga-bunga itu pun terlihat tidak
tumbuh di ujung ranting, tetapi seolah menclok begitu saja. Alih-alih
memamerkan kelopaknya yang indah dan lembut, bunga itu terlihat kaku.
Kelopak-kelopaknya tampak keras dengan bentuknya yang terlalu sederhana untuk
menyebutnya kelopak bunga.
Tak ada apa pun di kelopak-kelopak bunga itu, embun, sisa air hujan, semut, kupu-kupu, bahkan juga gerak angin yang membuat kelopak bunga itu bergerak atau jatuh. Warna bunga-bunga itu pun aneh. Ia hanya mempunyai satu warna seperti batang dan rantingnya, bahkan juga seperti warna pot tempat ia tegak tumbuh.
Inilah bunga yang dihadirkan oleh Yunizar di atas selusin kanvasnya dalam
pameran tunggalnya bertajuk "Jogja Psychedeli Flowers from Yunizar"
di Galeri Soemardja Bandung, selama hampir satu bulan (3 Agustus-30 Agustus
2010). Sebagaimana judulnya, pameran yang dikuratori oleh Aminuddin T.H.
Siregar ini memang seluruhnya mengusung bunga sebagai subjeknya. Sebuah seri
yang dilengkapi oleh satu karya objek berupa ribuan lebah.Tak ada apa pun di kelopak-kelopak bunga itu, embun, sisa air hujan, semut, kupu-kupu, bahkan juga gerak angin yang membuat kelopak bunga itu bergerak atau jatuh. Warna bunga-bunga itu pun aneh. Ia hanya mempunyai satu warna seperti batang dan rantingnya, bahkan juga seperti warna pot tempat ia tegak tumbuh.
Gus Dur Sebagai Kata Kerja
![]() |
| stradanieva.blogspot.com |
Gus Dur adalah sebuah fenomena. Tak hanya sebagai fenomena bahwa ia adalah seorang pemikir, penulis, tokoh Islam, politisi, bahkan juga sebagai seorang budayawan yang mampu mentransformasikan nilai-nilai tradisionalisme ke dalam peradaban modern. Tradisi, bagi Gus Dur, bukanlah tentang bagaimana merawat masa lalu, apalagi untuk mengubahnya menjadi ideologi kekuasaan. Dalam konteks pemikiran Islam dan kebudayaan, Gus Dur melihat masa lalu adalah ruang untuk menelaah sebuah spirit sehingga ia bisa memberi jawaban pada kekinian.
Demi Suku Naga
HARI ketiga pertunjukan, (13/11). Sejak siang udara mendung dan hujan tak henti-henti turun. Di Vila Arumba yang disediakan oleh Saung Angklung Udjo (SAU), sejumlah seniman berkumpul di teras. Irwan Guntari, Herry Dim, Yusep Muldiyana, dan sejumlah pendukung "Kisah Perjuangan Suku Naga" lainnya. Ada juga penyair Godi Suwarna yang meski telah mengikuti proses latihan beberapa kali urung bermain karena ritme latihan dan jarak Ciamis-Bandung. Di bagian dalam, seorang pemain terbaring sementara temannya memijati. Di bagian dalam dekat kamar mandi, Adinda Lutvianti dan Irena Arini dan sejumlah aktor muda hangat berbincang tentang pertunjukan di malam kedua.
Optimisme dan Logika Korban
PANDANGAN yang banyak mencemaskan
perkembangan bahasa Sunda yang terus mengalami penurunan jumlah penuturnya,
seperti yang selalu muncul dalam peringatan bahasa ibu, mau tak mau menyaran
pada semacam pesimisme. Setiap menyambut Hari Bahasa Ibu, pesimisme itu selalu
muncul dari data statistik. Bahkan sering kali dilengkapi dengan
prediksi-prediksi yang kian menebalkan pesimisme itu. Dan ujung dari pesimisme
itu kemudian menekan pada pengertian bahwa di tengah realitas global sekarang,
bahasa Sunda kian terancam. Dengan kata lain, kecemasan dan pesimisme itu
mengarah pada bayangan serbuan realitas global yang telah menyebabkan bahasa
Sunda menjadi korban.
Pesimisme ini juga sebenarnya menjadi pertanyaan ketika kita berada di Bandung sekalipun. Sangatlah tidak sulit menemukan orang berbicara bahasa Sunda, baik dalam angkot maupun di tempat-tempat umum lainnya, termasuk anak-anak sekolah. Jangan sebut lagi jika kita berada di Ciamis, Garut, Tasikmalaya, atau sejumlah kota lainnya yang akan menjadi janggal jika orang menggunakan bahasa Indonesia.
Dalam pandangan aktivis budaya Gustaff Hariman Iskandar, kecemasan itu membayangkan identifikasi diri sebagai pihak yang tak berdaya. Sebuah keadaan yang secara tak langsung membuat orang lantas menyalahkan keadaan atas sejumlah pihak. Ia bahkan melihat hasil survei semacam itu yang selalu muncul setiap tahun, jadi terlalu paranoid.
”Saya masih ingat ketika kita diskusi akhir tahun di ’PR’ yang menyinggung-nyinggung kebiasaan kita menciptakan mental victim (korban). Saya takut ini malah menjadi doa. Kecemasan itu akan terjadi dan tak memberi peluang pada kita untuk bersikap optimistis,” ujar aktivis yang akrab dengan berbagai komunitas kreatif di Bandung ini.
Pesimisme ini juga sebenarnya menjadi pertanyaan ketika kita berada di Bandung sekalipun. Sangatlah tidak sulit menemukan orang berbicara bahasa Sunda, baik dalam angkot maupun di tempat-tempat umum lainnya, termasuk anak-anak sekolah. Jangan sebut lagi jika kita berada di Ciamis, Garut, Tasikmalaya, atau sejumlah kota lainnya yang akan menjadi janggal jika orang menggunakan bahasa Indonesia.
Dalam pandangan aktivis budaya Gustaff Hariman Iskandar, kecemasan itu membayangkan identifikasi diri sebagai pihak yang tak berdaya. Sebuah keadaan yang secara tak langsung membuat orang lantas menyalahkan keadaan atas sejumlah pihak. Ia bahkan melihat hasil survei semacam itu yang selalu muncul setiap tahun, jadi terlalu paranoid.
”Saya masih ingat ketika kita diskusi akhir tahun di ’PR’ yang menyinggung-nyinggung kebiasaan kita menciptakan mental victim (korban). Saya takut ini malah menjadi doa. Kecemasan itu akan terjadi dan tak memberi peluang pada kita untuk bersikap optimistis,” ujar aktivis yang akrab dengan berbagai komunitas kreatif di Bandung ini.
Selasa, 24 November 2015
Cirebon dan Ahmad Syubbanuddin Alwy
AHDA IMRAN, penyair
dan esais
Dari buritan
pantai yang koyak
kapal-kapal
Laksamana Cheng Ho bertolak
menyusuri jejak
kaki ribuan mil puteri kaisar Cina Ong Tien Nio
BEGITU Ahmad
Syubbanuddin Alwy menulis dalam “Cirebon
630 Tahun Kemudian”. Sebuah sajak panjang yang seluruhnya menyuguhkan panorama
sejarah Cirebon. Seperti sajaknya kumpulan Bentangan
Sunyi (1996), dalam “Cirebon 630
Tahun Kemudian” sejarah itu hadir dalam nada yang getir; imaji-imaji visual
yang membentang di antara dua kegentingan; kemegahan dan kehancuran.
Sajak panjang itu, sebagaimana tabiatnya
puisi, menawarkan perspektif pemaknaan berikutnya atas sejumlah fakta historis,
sebagai sebuah catatan batin. Catatan yang mentautkan kesadaran ke dalam
kekinian. Catatan yang tentu berbeda dengan sejarah sebagai catatan lahir dari
suatu masa. Oleh sebab itu, dalam sejarah perpuisian Indonesia modern, puisi
panjang milik penyair kelahiran 28 Agustus 1962
itu bisa disebut sebagai puisi yang menarik dan langka, untuk
menyebutnya belum pernah ada. Ketika sejarah (lokal) dihadirkan dalam sebuah
puisi (epik) sebagaimana banyak terdapat dalam teks-teks tradisional.
Meski beberapa bagiannya telah dimuat
dalam media-massa, dibacakan dalam berbagai forum, dan pernah pula dimuat dalam
antologi tujuh penyair Jawa Barat Nafas
Gunung (2004), sajak “Cirebon 630 Tahun Kemudian” belumlah rampung. Alwy
(begitu penyair Cirebon ini akrab disapa) masih terus berupaya
menyelesaikannya. Ia masih terus menelaah berbagai sumber, bolak-balik mendatangi
sejumlah tempat yang menjadi penanda penting dalam sejarah Cirebon. Ia
mengerjakan puisi itu dengan kesabaran yang luar biasa. Ia habis-habisan
mengerahkan semua kemampuannya demi satu sajak itu, seakan ia tak akan pernah lagi
menulis sajak.
Minggu, 14 Juni 2015
Bandung: Antara Dayeuh Kolot dan Asia Afrika
APAKAH kota Bandung akan tetap
ada seperti yang kita temui sekarang seandainya Kaisar Prancis Napoleon
Bonaparte dulu tidak mencaplok Negeri Belanda? Pertanyaan ini tentu saja terdengar
aneh. Tapi bagaimanapun pertanyaan itu harus diajukan, karena peristiwa yang
terjadi pada awal abad ke-19 itu secara tak langsung berhubungan dengan sejarah
lahirnya sebuah kota yang bernama Bandung---yang konon berasal dari kata bandeng atau ngabandeng yang berarti genangan air yang luas.
Atau paling tidak,
pertanyaan itu bisa menjadi cara untuk melihat kembali latar-belakang sejarah
kelahirannya sebagai sebuah kota. Dari latar-belakang inilah kita bisa tahu
bagaimana dalam sejarahnya Kota Bandung lahir dan berawal dari kondisi persaingan
serta perseteruan antar negara-negara kolonial Eropa ketika itu dalam
perseteruan dan persaingan memperebutkan koloni-koloni di kawasan Asia, dalam
hal ini Prancis dan Inggris.
Minggu, 24 Mei 2015
Mey Tak Pernah Bisa Menulis Cerita Ini
Oleh Ahda Imran
| Utami Dewi Godjali |
Yang
tinggal hanya sebatang pohon itu, tumbuh bersama ingatan Mey pada orang mati
dan peristiwa kematiannya. Tidak, bukan
sebatang pohon. Kau tahu bukan, ada banyak lagi pohon serupa itu, tumbuh di
tepi jalan, di seberang Istana Presiden. Dalam bayangan Mey pohon-pohon itu
memiliki batang dan dahan yang hitamnya menyerupai arang. Jika hujan turun, air
di seluruh pepohonan itu menjadi merah, menetes atau bergelayutan di daun dan
dahannya. Bila kau melewatinya lalu tempias datang dari arah pepohonan itu, kau
akan terkejut menemukan pakaianmu dipenuhi percik darah.
Bapak mustahil tidak mengetahui hubungan Mey dengan pohon
itu. Tetapi, Bapak membiarkan pohon itu tetap tumbuh sekaligus mengawasi
pertumbuhannya, memangkasnya jika ranting dan dahan-dahannya sudah kelewat
rimbun. Bapak tak pernah berpikir untuk menebangnya. Dan itu sengaja dilakukan
Bapak untuk menyakiti ingatan Mey.
Senin, 12 Januari 2015
4 Tulisan dari Persiapan Kongres Kesenian
Kesenian,
Negara, dan Kongres Kesenian
![]() |
| Penampilan Ferry Curtis dalam pembukaan |
MENELAAH kebudayaan
adalah berperkara dengan kuasa perubahan. Kuasa yang membawa perkembangan
kebudayaan ke dalam berbagai fenomena yang tak pernah diduga sebelumnya. Menakjubkan
sekaligus mendebarkan. Disokong oleh ‘revolusi’ teknologi komunikasi-informasi,
kuasa perubahan kian mendesakkan beragam pemikiran yang mengkritisi segala
ihwal yang selama ini kukuh dipercayai. Sebagai ruang yang paling progresif
merepresentasikan watak kebudayaan, kesenian niscaya tak bisa menyangkal kuasa
tersebut. Kuasa yang membawa kesenian ke dalam perkembangan berikutnya; baik
sebagai fenomena seni atau fenomena
kehadirannya di tengah publik.
Sedang
dalam ruang yang lain, kuasa perubahan juga memengaruhi jagat politik. Kuasa
yang bukan sekadar mengubah polarisasi kuasa politik, namun memastikan desain
politik pembangunan negara. Setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir, kuasa
perubahan di jagat politik dengan berbagai isu dan friksinya, telah menyorongkan
kegentingan dalam peran- fungsi negara. Terutama persambungannya dengan
perkembangan kebudayaan yang bisa diselisik dari dinamika kesenian. Dinamika dengan
fenomena kehadiran sonder persambungannya dengan negara.
Selasa, 30 Desember 2014
Annelies Mellema
(sebuah
monolog)
---AHDA
IMRAN
#Satu
DARI kisah
yang ditulis oleh Tuan Pramoedya, kau sudah tahu bagaimana nasibku; Annelies
Mellema, puteri mendiang Herman Mellema dari gundiknya bernama Sanikem; harus dikirim
ke Negeri Belanda. Begitu keputusan pengadilan di Amsterdam. Tak seorang pun bisa
melawan keputusan itu, tidak juga Mama dan Minke. Pengadilan kulit putih itu
tak punya urusan dengan Mama. Mama hanya perempuan pribumi dan gundik.
Walaupun ia seorang Raden Mas yang punya hak
istimewa di antara kaum pribumi, namun pengadilan juga tak punya urusan dengan
Minke Suamiku. Hukum Eropa itu bahkan menganggap aku masih di bawah umur, hak
perwalianku ada di tangan Maurits Mellema, kakak tiri yang belum pernah
kukenal.
Atas nama perwalian
itulah aku dikirim ke Belanda. Aku merasa diriku ini dianggap sebatang tanaman,
dicabut dan dipindahkan tempatnya; dipisahkan dari Mama dan Minke, tanah tempatku tumbuh dan berlindung. Sejak datangnya keputusan itu aku sangat
ketakutan, perasaan dan pikiranku pelan-pelan pergi dari dalam tubuhku.
Sabtu, 13 Desember 2014
Mengepung Ratu Adil
Oleh
AHDA IMRAN
KEKUASAAN dan pemberontakan selalu menjadi tradisi
dialektis yang niscaya. Terutama bila kekuasaan membuat rakyat sengsara dan
putus asa, maka harapan ihwal masa depan harus segera diselamatkan dengan jalan
pemberontakan. Di situ, meminjam perkataan Albert Camus, setiap ide tentang
pemberontakan meminta suatu nilai. Dalam sejarah kekuasaan di Nusantara,
tradisi pemberontakan rakyat berkelindan dengan banyak ihwal. Sebagai suatu ide, berbagai
pemberontakan rakyat di Nusantara tak bisa disendirikan dari bagaimana
masyarakat tradisional (Jawa) mengimani konstruksi waktu serta siklus tabiat
kekuasaan (Kertayuga, Tretayuga, Kaliyuga).
Konstruksi tersebut dikuatkan pula sejumlah ramalan
yang diimani sebagai janji masa depan ihwal kedatangan Ratu Adil (Erucokro, Satrio
Piningit), seorang Juru Selamat yang tersebut pula di sumber-sumber keagamaan;
Mesiah atau Imam Mahdi. Mereka inilah yang akan mengembalikan kemakmuran masa
silam, menegakkan kembali hukum-hukum suci yang dikotori oleh kekuasaan.
Pada konteks ini, gagasan pemberontakan muncul bukan
semata sebagai reaksi atas kekuasaan, namun pula reaksi atas kuasa perubahan
yang diusung oleh modernitas. Kuasa yang
membikin lapuk kekuasaan dan sistem nilai lama. Di tengah kuasa perubahan itu,
karena masa depan tak bisa dirumuskan apalagi digenggam, maka narasi masa silam
yang tenteram menjadi satu-satunya realitas ideal yang menjadi harapan.
Akan tetapi, dengan utopia serupa itulah pemberontakan
dilakukan sebagai “perang suci”, menghadapi dua kekuasaan sekaligus; kuasa politik
dan ekonomi negara serta kuasa perubahan yang diusung modernitas. Meski
pemberontakan selalu berujung tragis, sepanjang rakyat belum merasakan keadilan
pembangkangan akan terus muncul, bergitu pula kemunculan sosok yang mendaku
sebagai Ratu Adil dan nabi pribumi.
Inilah yang mengemuka dalam Borobudur Writers and Culture Festival (BWCF) 2014 dengan tema “Ratu Adil: Kuasa & Pemberontakan di
Nusantara”, di kawasan Candi Borobudur Magelang, 12-15 Nopember. Selama tiga
hari festival ini mengepung Ratu Adil dalam ruang seminar dan di panggung
kesenian dua desa lereng Gunung Merbabu dan Merapi. Ini festival tahunan yang ketigakalinya
diadakan oleh Yayasan Samana. Diikuti oleh para penulis, sejarawan, mahasiswa,
komunitas kesenian, dan berbagai kalangan penggiat budaya.
Kuasa Perubahan
Di forum seminar Ratuadilime diurai seraya
memperluasnya ke berbagai pemikiran ihwal hakikat pemberontakan di Nusantara.
Uraian Dr.Peter Carey tentang Pangeran Diponegoro, gerakan mahdiisme Tengkeu
Bantaqiyah di Aceh (Dr. Otto Syamsuddin Ishak), pergerarakan Ratu Adil di Biak
Papua (Dr. Enos H Rumansara), hingga telaah menarik Jean Couteau tentang
gerakan Ratu Adil di Bali. Pula begitu dengan pembacaan Dr. Setyo Wibowo yang
membandingkan tradisi pemberontakan di Jawa dan di Yunani.
Seluruh gerakan pembangkangan itu tidak
sekadar minta diingat sebagai sekelompok orang yang mengangkat senjata melawan
dominasi penguasa. Melainka tak bisa disendirikan dengan konsep waktu dalam masyarakat
tradisional di tengah kuasa perubahan. Soalnya mungkin bukan hanya masa silam yang ditaruh
sebagai realitas ideal, tetapi kegagalan mentransformasikan harapan ke dalam
kuasa perubahan. Terlebih manakala kuasa itu adalah kuasa modernitas yang
meminta pembacaan kritis terhadap mitos dan narasi masa silam. Pada konteks
inilah Ratuadilisme meninggalkan jejaknya hingga hari ini dalam kontruksi
identitas kebangsaan dan agama.
Kuasa perubahan adalah hukum besi kebudayaan. Hukum
yang pada tabiatnya yang lain melahirkan cara pembacaan yang berbeda atas
kepercayaan masa silam yang diimani sebagai kebenaran absolut. Dari cara
pembacaan inilah dalam masyarakat tradisional muncul bentuk pembangkangan
berikutnya atas kuasa ortodoksi agama, yakni, mereka yang mendaku sebagai nabi
seperti diurai oleh Dr. Al Makin.
Panggung
Ratu Adil
Ratu Adil lalu dibawa ke Dusun Gajayan di lereng
Gunung Merbabu dan Desa Tutup Ngisor di lereng
Gunung Merapi. Selama dua malam,
bersama warga desa Ratu Adil ditaruh dipanggung pertunjukan. Ratu Adil itu
dikepung dalam pembacaan puisi, monolog, tarian, dan nyanyian. Kurasi festival
berupaya menemukan tautan antara perbincangan di ruang seminar dengan kesadaran
yang direpresentasikan dalam karya dan penampilan para seniman.
![]() |
| jurnal-asia.com |
Tentu saja itu menjadi niscaya, sebab
praktik-praktik seni senantiasa memaktubkan pemberontakan demi berhadapan
dengan kuasa perubahan. Setidaknya itu terlihat pada tema karya para seniman
yang diundang. Mulai dari pembangkangan Kartosuwiryo dalam pembacaan puisi
Trianto Triwikromo hingga pengakuan topeng seorang anggota DPR dalam monolog
Ine Febrianti. Tema-tema yang luluh ke dalam realitas tanpa menjadikan harapan
sebagai khotbah.
Tautan itu juga terasa benar dalam sejumlah nomor
tarian yang disuguhkan oleh Komunitas Lima Gunung. Tarian yang memadukan bentuk
idiom-diom ritual tradisi lokal dan Islam yang merepresentasikan pembangkangan.
Pandangan mistis magis dalam kepercayaan masyarakat tradisional serta agama
merupakan watak dari pembangkangan Ratu Adil. Hentakan kaki dan tubuh para
penari yang liat dan tegas, barisan para prajurit perempuan, atau kuasa jahat
yang dilambangkan dengan topeng dan perlawan terhadap mereka.
Pada bentuknya yang lain beberapa nomor tarian hadir
tak terduga demi menjawab kuasa perubahan. Termasuk kuasa yang tidak dihindari
melainkan dirangkum demi membangkang pada kategorisasi identitas masa silam
yang beku. Sebutlah, tarian para perempuan desa dengan iringan karawitan Jawa
yang memainkan melodi lagu Batak “Si Nanggar Tulo Ha Tulo” di panggung
Padepokan Tjipto Budojo Desa Tutup Ngisor.
Mengepung Ratu Adil dalam ruang seminar dan
peristiwa seni selama tiga hari itu akhirnya menjadi cara berikutnya untuk
merayakan pemberontakan dan merawat harapan. Soalnya bukan lagi pertanyaan,
apakah pemikiran tentang Ratu Adil itu positif atau negatif dalam realitas hari
ini? Tetapi, bagaimana mentransformasikan konsep Ratu Adil menjadi harapan baru
demi menyiasati berbagai kuasa perubahan yang terus didesakkan oleh modernitas.
Bukan harapan yang menyangkal kuasa perubahan seraya memandang masa lalu
sebagai masa depan, seperti gambar mantan Presiden Soeharto yang banyak muncul menjelang pemilu lalu; piye kabare, enak jamanku toh?**
AHDA IMRAN, penyair
Sumber : Kompas, 7 Desember 2014
Selasa, 19 Agustus 2014
Tubuh Pemimpin
Ahda
Imran---penyair dan
esais
SEBUAH
foto beredar di sosial media dan ditayangkan di salah satu stasiun TV. Foto itu
memperlihatkan Jokowi sedang berjalan di antara ribuan pendukungnya memasuki
Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, menghadiri Konser Salam Dua Jari. Meski
beberapa orang mengawalnya, namun tampak dalam foto itu ada tangan seorang
perempuan yang menjawil gemas pipi Jokowi. Lebih dari sekadar hendak memperlihatkan
bentuk fanatisme seorang pendukung pada capres pilihannya, foto itu tampaknya sedang
menjelaskan pula relasi makna kehadiran tubuh seorang capres dengan tubuh para pendukungnya.
Relasi yang membuat para pendukung memaknai kehadiran tubuh Jokowi bukan
sebagai tubuh elite, melainkan seolah kehadiran dari bagian tubuh mereka juga.
Kamis, 07 Agustus 2014
Perubahan Politik dan Ratuadilisme
Tentara Satrio Piningit itu tidak
kelihatan, Jokowi juga begitu, karena tentaranya adalah para relawan yang
bergerak di sosmed
ITU tulis seorang kawan di akun
facebooknya, sehari setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) memutuskan pasangan
Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla sebagai Presiden-Wakil Presiden terpilih Pilpres
2014. Benar tidaknya Jokowi adalah Satrio Piningit tentu saja perlu diperdebatkan
(debatable). Sebagaimana pula
sejumlah sosok yang sebelumnya diyakini, atau meyakinkan dirinya, sebagai Satrio
Piningit. Sosok yang dipercayai akan mengeluarkan
rakyat dari kesengsaraan; memperbaiki segenap tatanan nilai yang telah
porak-poranda, mengembalikan kembali hukum-hukum kebajikan. Sosok yang dalam
banyak literature klasik Jawa kerap disebut sebagai representasi dari konsep
Ratu Adil.
Minggu, 20 Juli 2014
Menyoal RUU Kebudayaan
KEBUDAYAAN tak pernah tersebut dalam hiruk-pikuk pilpres
2014. Apa lagi menjadi tema dalam perdebatan capres-cawapres. Bahkan pada
perdebatan capres ihwal pertahanan dan ketahanan nasional, kedua capres tak
sekalipun menyebut ketahanan budaya sebagai bagian dari visi-misi mereka.
Kenyataan ini cukup mengherankan mengingat hubungan negara dan kebudayaan ialah
suatu keniscayaan sebagaimana termaktub dalam konstitusi (Pasal 32 UUD
1945).
Sementara jauh
dari hingar bingar pilpres, RUU Kebudayaan mendesak untuk segera disahkan menjelang
berakhirnya periode keanggotaan DPR RI (2009-2014). Desakan terhadap RUU yang
telah disusun sejak tahun 2011 itu seolah kejar target. Terlebih lagi desakan
juga terus bermunculan dari berbagai komunitas budaya. Terakhir dari hasil Temu
Redaktur Kebudayaan III di Siak, Riau, 20-22 Mei 2014, dalam bentuk Petisi Siak
2014.
Salah satu butir
petisi tersebut ialah desakan agar DPRI dan pemerintah segera mengesahkan RUU
Kebudayaan sehingga pemerintahan baru hasil pilpres 2014 segera bisa
menindaklanjuti. Tak jelas benar bagaimana sebenarnya forum pertemuan para
redaktur kebudayaan itu melakukan
pembacaan atas RUU tersebut, seolah-olah RUU itu tak perlu lagi dipersoalkan.
Inferior
RUU Kebudayaan terdiri
atas tujuh bab dan 94 pasal ditambah penjelasan. Secara umum RUU ini hendak
menjadi landasan strategi budaya dalam berbagai fenomena aktual yang terjadi di
tengah realitas global. Namun, alih-alih menjawab keniscayaan itu dengan penuh
percaya diri, bahkan sejak pagi RUU ini telah memperlihatkan sikap inferior.
Bahkan Inferioritas
ini telah ditaruh sebagai pertimbangan terbitnya UU Kebudayaan, sebagaimana
termaktub dalam Konsideran Menimbang huruf “c” ; bahwa nilai budaya dan keanekaragaman budaya di Indonesia sangat rentan
terhadap pengaruh globalisasi sehingga dapat menimbulkan perubahan nilai budaya
dalam masyarakat.
Kalimat ini
memosisikan globalisasi sebagai antagonis yang berbahaya bagi identitas sistem
nilai berbagai budaya Indonesia. Sebaliknya dari itu, RUU ini memandang
keberbagaian budaya di Indonesia sangat lemah, rentan terhadap pengaruh yang
datang dari luar. Artinya, alih-alih dibaca sebagai ruang dialog, globalisasi
dimaknai sebagai ancaman yang berbahaya. Pandangan ini jelas mengabaikan pembacaan
atas realitas historis, bagaimana beragam budaya di Indonesia terbentuk sebagai
hasil pertemuan dan dialektika kebudayaan yang telah berlangsung sejak ratusan
tahun silam.
Penilaian bahwa
berbagai budaya di Indonesia itu sangat rentan terhadap pengaruh yang datang
dari luar, membawa logika penilaian; budaya global itu kuat dan budaya Indonesia
itu lemah. Sangat sulit membayangkan strategi budaya suatu negara dijalankan di
atas landasan UU yang disusun dengan pertimbangan yang inferior semacam ini.
Pengendalian
Penilaian bahwa
budaya Indonesia sangat rentan, akhirnya menjadi pembenaran pentingnya
pemerintah mengelola, mengawasi, dan mengendalikan kebudayaan, sebagaimana RUU
ini memaktubkannya dalam Pasal 1 Poin 5.
Asumsi bahwa budaya Indonesia lemah di tengah globalisasi lebih jauh
memberi peran besar pada pemerintah untuk tak sekadar mengawasi dan mengendalikan,
namun juga melindungi.
Tentu saja
adalah kewajiban negara melindungi berbagai aset dan potensi budaya. Namun
dalam RUU ini bentuk proteksi yang dilakukan muncul dari ketidakpercayaan bahwa
berbagai budaya di Indonesia memiliki mekanisme perlindungan dirinya. Oleh
sebab itulah ada sembilan pasal yang menyebut pembentukan Komisi Perlindungan
Kebudayaan. Komisi ini dibentuk oleh pemerintah dan bertanggungjawab pada
presiden.
Tugas pokok komisi ini adalah
mengawasi penyelenggaraan kebudayaan, membuat sejumlah kriteria dampak negarif
kebudayaan, hingga menetapkan status sebuah bentuk budaya yang berdampak
negatif.
Dengan eufemisme
melindungi, komisi ini lebih terkesan sebagai perpanjangan tangan pemerintah; mengawasi, mengontrol,
menyensor beragam ekspresi kebudayaan. Keberadaan komisi ini jauh dari menjamin
kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya,
sebagaimana dimaktubkan dalam Pasal 32 UUD 1945.
Pembacaan yang
lebih kritis dan hati-hati atas RUU Kebudayaan tampaknya lebih diperlukan
ketimbang mendesak pengesahannya. Mengesahkan RUU ini menjadi UU Kebudayaan
dengan semangat yang akan menjadi landasan bagi dominasi pemerintah serupa itu,
risikonya kelewat besar. Apalagi hanya demi kepuasan para anggora DPR untuk melunasi
semua kewajibannya.**
Sumber: Pikiran Rakyat, 19 Juli 2014
Jumat, 30 Mei 2014
Utopia Para Pemuja
Oleh Ahda Imran
PILPRES 2014 tampaknya tengah
memberi gelagat ke arah realitas demokrasi yang disesaki para pemuja. Meski
belum tentu berlaku sebaliknya, sebagaimana ghalibnya para pemuja sekaligus
adalah para pembenci. Dengan dua pasangan capres-cawapres (Joko Widodo-Yusuf
Kalla; Prabowo Subianto-Hatta Rajasa), terutama di jejaring media-sosial, para
pemuja kedua kubu riuh saling serang. Memuja kandidat pilihan seraya menaruh
kebencian yang sengit pada kandidat pesaing.
Jejaring media-sosial lalu menjadi “Kurusetra”; perjumpaan para pemuja
sekaligus pertempuran para pembenci.
Karnaval para para pemuja ini tak sebatas hanya
diikuti khalayak awam, melainkan pula para elite politik di kedua kubu
pasangan. Seperti para pemuja lainnya, orang-orang terhormat ini pun berlaku
sama. Rajin melontarkan sinisme ke arah figur kandidat pesaing, dengan agresivitas
yang sama dengan khalayak awam.
Minggu, 25 Mei 2014
Sakitnya Merawat Harapan
---Ahda
Imran, penyair dan
esais
MESKI kian berselisih jalan dengan yang apa selalu
dijanjikan, belumlah cukup alasan untuk berhenti menaruh harapan pada
demokrasi. Harapan bahwa dinamika politik bukan melulu rutinitas yang serba
teknis prosedural. Namun, membawa nilai yang mewujud bagi kemaslahatan dan
kedaulatan khayalak, kebebasan, kesetaraan, dan keadilan. Dan seakan tengah
mengamalkan ungkapan Erich Formm, bahwa harapan adalah tiang penyangga dunia, di
Indonesia khalayak merawat tiang penyangga itu dengan tangan yang sakit.
Langganan:
Komentar (Atom)










