“Selalu aku berdoa kiranya HORISON kita tidak sampai menghadapi kebangkrutan. Namun tampaknya majalah sastra ini tidak maju-maju juga, bahkan tidak lebih baik isinya ketimbang tahun-tahun tujuhpuluhan dulu----kalau tidak dikatakan lebih buruk”
BEGITULAH awal sebuah surat, datang dari Bandung, 20 tahun kemudian setelah majalah sastra itu lahir, bulan Juli 1966. Surat cerpenis Aliefya M. Santrie itu dimuat dalam rubrik “Surat-surat” Majalah Horison No. 6 Tahun 1986. Semangat surat itu mempertanyakan, bahkan memperkarakan, ukuran penilaian redaksi antara cerpennya yang dimuat dan cerpennya yang tidak juga dimuat, sambil juga mengkritisi sejumlah hal tentang kualitas majalah sastra tersebut.
Meski surat tersebut penuh gugatan, namun cerpenis produktif yang kini entah ke mana itu, mengakhiri suratnya seperti bagaimana ia mengawalinya, “Dengan begitu aku berdoa untuk kejayaan HORISON kita di tengah-tengah relatifnya kriteria penilaian sastra.”
Tapi siapakah “kita” yang dimaksud Aliefya M. Santrie dalam suratnya itu? Apakah ia sebagai cerpenis dan para sastrawan lainnya yang duduk di meja Redaksi Majalah Horison? Atau ia hendak mewakili para sastrawan, peminat, dan pembaca sastra yang dibayangkan ikut merasa memiliki dan terlibat dengan nasib serta mutu majalah sastra itu?