Selasa, 28 Februari 2012

Media Sosial dan Budaya Demokrasi



“They see torture. They see corruption. They see rigged elections. What can they do? Of course: The only tool in their hands is their fingertips. And the keyboard” (Said Sadek)

PERNYATAAN sosiolog Mesir di atas merujuk pada sebuah kenyataan, bahwa hanya tinggal satu cara untuk menganggu dan menggugat kekuasaan yang zalim, yakni, ujung jari di keyboard komputer dan handphone. Menyebarkan kesadaran bersama ihwal berbagai ide perubahan dan solidaritas, seraya membentuk perlawanan sosial setelah institusi resmi seperti parlemen dan media konvensional (TV, radio, koran/majalah) tak lagi bisa diharapkan. SMS, e-mail, blog, Facebook, hingga Twitter segera menjadi ruang inkubasi  berbagai ide perubahan dan perlawanan.

Di Mesir, ruang inkubasi ini menjadikan korban sebagai ikon perlawan lewar akun Facebook “We Are All Khaled Said”, dengan 40 ribu fans. Khaled Said adalah seorang pemuda yang tewas dianiaya polisi Mesir. Di ruang inilah informasi dan ide-ide perubahan diperbincangkan, mulai dari chat, tulisan, foto video, komentar, hingga kemudian komunitas virtual ini menemukan klimak dari proses inkubasinya berupa gerakan perlawan yang menjungkalkan rezim Hoesni Mubarak.     

Itu di Mesir, juga yang terjadi sebelumnya di Tunisia. Internet menjadi ruang yang menakutkan bagi para penguasa. Di Indonesia, jauh sebelum apa yang terjadi di Mesir, media sosial pun menjadi ruang yang efektif untuk mengelaborasi kekuatan dan solidaritas masyarakat sipil. Mulai dari Gerakan Koin Keadilan untuk Prita Mulyasari, hingga pembentukan opini kolektif dalam kasus Bibit-Chandra.

Semuanya, sekali lagi, tidak dilakukan lewat media-media konvesional (TV, radio, koran/majalah), tapi lewat jejaring sosial Facebook, blogg, Twitter, sampai SMS. Terakhir, lewat media sosial seperti Wikileaks yang kemudian dijadikan sumber pemberitaan dua koran Australia, Sidney Morning dan The Age, orang nomor satu di negeri ini dibuat meradang akibat pemberitaan tersebut, bahkan konon sampai membuat istrinya menangis.

Paradoks Demokrasi                                                                 
Meski dianggap sebagai ‘demokrasi elektronik’ atau ‘demokrasi semu’, tapi makin sulit dibantah bahwa media sosial akhirnya tak hanya sekadar menjadi bagian dari gaya hidup. Ia telah menjadi penanda tersendiri, khususnya dalam memengaruhi berbagai peristiwa sosial. Ia menjadi representasi dari kenyataan bahwa kini setiap individu adalah media. Betapa pun semunya kenyataan virtual itu, ia berangsur-angsur bukan lagi melulu menjadi ruang cengengesan.  Ia telah menjadi penanda tersendiri dari perkembangan kultur demokrasi di bawah bimbingan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

Dalam wacana politik, pengamat sosial Yasraf Amir Piliang memandang, karena bentuk ruangnya yang virtual, maka keberadaan media sosial baik diidentifikasi sebagai 'ruang publik virtual' (virtual public sphere). Keberadaan media sosial telah mengubah secara radikal kultur politik, karena sifatnya yang lebih terbuka, fleksibel, interaktif, tetapi juga lebih liar, anonim dan tanpa identitas. “Karena sifat terbuka tapi sekaligus liar inilah, maka media sosial menciptakan semacam 'paradoks demokrasi', khususnya paradoks kultur demokrasi,”ujarnya.  

Di satu pihak, media sosial memperkuat bangunan masyarakat sipil (civil society), karena media sosial memiliki kekuatan amat dahsyat dalam menyampaikan suara rakyat atau aspirasi warga sekaligus untuk mengganggu penguasa. Tapi, di pihak lain, sebagai ruang publik virtual, media sosial memiliki karakter yang justru bisa merusak fondasi kultur demokrasi itu sendiri.  Bagaimanapun, demokrasi memerlukan sebuah sistem konstitusi dan sistem etika yang mengikat, sebaliknya masalah utama media sosial adalah pada sistem aturan dan etika yang belum terumuskan secara jelas dan mengikat. Juga sifat media sosial yang bertahan seketika (ephemeral), yang menyebabkan ikatan emosional, sosial dan ideologis dari 'warga' yang berkumpul di dalamnya juga tidak permanen dan rapuh.

“Padahal, sebuah kekuatan politik memerlukan ikatan emosional dan ideologis yang bertahan lama dan kohesif. Selain itu, budaya politik yang berkembang di dalamnya adalah 'budaya politik instan', dengan kekuatan yang bertahan seketika dan gagasan ideologi politik yang kurang memiliki konsistensi. Saya kira, mengurangi efek paradoks inilah yang perlu dipikirkan,” tutur penulis buku “Hypermoralitas” ini.

Upaya mengurangi efek paradoks yang disebut Yasraf, tentu tidaklah mengurangi relevasi media sosial dalam bangun budaya demokrasi. Demikian pula betapa pun di dalamnya pemahaman banyak orang ihwal realitas kini berada dalam wilayah negosiasi dan kontestasi yang tidak stabil, relevansi itu agaknya tetaplah tidak bisa ditiadakan. Satu hal yang jadi niscaya, keberadaan dan kekuatan media sosial telah membuat representasi mekanisme politik yang sebelumnya digenggam oleh sejumlah kanon dan institusi mapan, kini mengalami semacam desakralisasi atau peluruhan.   

Karena itulah,  menurut seniman dan aktivis budaya yang getol mencermati dinamika jaringan sosial, Gustaff Hariman Iskandar, pusat-pusat kekuasaan saat ini sudah menyebar di sembarang titik persimpangan dan jaringan. Tampaknya, mekanisme operasi aparatus kekuasaan yang baru kini tidak hanya ditentukan oleh kekuatan kapital.  Tapi juga oleh informasi dan ilmu pengetahuan.

“Hal ini menjadi semacam arena baru yang ikut mendekonstruksi ranah kebudayaan dalam maknanya yang paling luas. Salah satu prasyarat demokrasi adalah akses dan partisipasi. Sejak tahun 1998, saya kira teknologi internet dan media digital dan ragam media sosial yang muncul belakangan telah jadi komponen penting yang mendorong lahirnya budaya demokrasi,” ujarnya.

Perjalanan Masih Panjang                                                                 
Meski mengandung paradoks dan media sosial dan cenderung menggiring orang pada pemahaman realitas dalam negosiasi yang tidak stabil, media sosial tetap merupakan ruang yang mempunyai pengaruh besar dalam perkembangan kultur demokrasi. Media sosial memang memiliki kesanggupan menciptakan manipulasi informasi, rekayasa citra, simulasi realitas, sehingga media macam ini menciptakan problem besar untuk membedakan yang benar dan palsu, asli atau tiruan, fakta atau rekayasa. Sehingga, ada keraguan yang besar terhadap informasi, pengetahuan dan kebenaran (truth).

Tapi, menurut Yasraf , dengan sifatnya yang terbuka atau koridor aksesnya yang tanpa pagar dan batas,  di sisi lain telah mengakibatkan segala bentuk rahasia dan kebohongan yang selama ini disimpan rapih (oleh individu, kelompok atau negara) demi memanipulasi realitas, kini dapat dibeberkan dalam media sosial, seperti yang dilakukan Wikileaks. Kini setiap orang harus hati-hati dalam berkata, berkomunikasi dan bertindak. Artinya, media sosial berperan besar dalam melakukan fungsi pengawasan (surveillance) dan pendisiplinan diri (disciplinary) dalam wacana dan tindakan politik,” paparnya

“Media sosial sangat berperan dalam menegakkan tiga pilar dari sistem demokrasi, yaitu 'kebenaran'(truth), 'keterpercayaan' (trust) dan 'kejujuran' (true). Karena, melalui media sosial kini segala bentuk kepalsuan dan kebohongan dapat dibongkar dan disebarluaskan kepada masyarakat luas,” tutur Yasraf.

Ihwal sifat media sosial yang paradoks, ia mengatakan diperlukan semacam 'kecerdasan budaya' (Cultural Intelligence) dalam ranah politik. Khususnya kecerdasan dalam membedakan yang benar dari yang palsu. Hanya melalui cara itulah kultur demokrasi yang terbuka, ruang publik demokrasi yang dialogis dan masyarakat demokratis yang cerdas dapat dibangun, agar kebohongan tidak dilawan dengan kebohongan yang lain.

Dikotomi antara apa yang virtual dan yang nyata memang kian cair. Menurut Gustaff Hariman Iskandar keduanya sama-sama penting dan relevan bagi proses perubahan dan demokratisasi. Tapi, seraya menyepakati pandangan  Clay Shirky, Gustaff mengatakan  bahwa perubahan revolusioner tidaklah terjadi begitu saja ketika masyarakat mengadopsi perkembangan teknologi terbaru.

Dalam pandangannya, keterkaitan antara media sosial dan perubahan harus diperiksa terus menerus. Apakah benar keberadaan media sosial melahirkan pola perilaku dan kesadaran baru yang secara konstruktif merubah situasi ke arah yang lebih baik?  Atau, jangan-jangan hanya sekadar mendorong masyarakat menjadi lebih konsumtif dan berada di bawah bayang-bayang hegemoni rezim tekno-sosial yang represif dan otoriter?
 
“Perjalanan kita sepertinya masih panjang. Apa yang kita alami saat ini tampaknya baru sekedar riuh rendah 'noise' demokrasi, belum menyentuh substansi. Tapi, tanda-tanda ke arah yang lebih baik tetap ada,  meskipun masalah yang kita hadapi saat ini semakin kompleks,” katanya.  (Ahda Imran)**



Sumber: Pikiran Rakyat, 21 Maret 2011



Minggu, 26 Februari 2012

Sekolah Aksara Kuno Anak Muda



MEREKA duduk berderet di kursi memenuhi sisi sebuah ruangan yang tidak begitu besar. Masing-masing asyik dan sibuk dengan kertas soal. Malam itu, Jumat (11/2) mereka sedang ujian kenaikan kelas. Kertas soal berupa teks latin yang harus diubah menjadi aksara kuno, dari mulai Sunda Kuna (baku) sampai aksara Cacarakan (Hanacaraka) menurut kelasnya. Untuk kelas satu mereka harus mengalihkan teks itu aksara Sunda Kuna, dan kelas dua mengalihkannya ke aksara Cacarakan.

Sesekali mereka tampak berkerut. Mengamati daftar dan bentuk aksara-aksara kuno yang meringkel-meringkel, mencoba mengalihkan dan menyatukannya menjadi kalimat yang seusai dengan soal. Ada juga yang bertanya pada teman di sebelahnya.

Jumat, 24 Februari 2012

Harry Poeze dan Ironi Tan Malaka



MENYEBUT sejarah munculnya pergerakan komunisme di Hindia Belanda tahun 1920-an, sangatlah tidak mungkin melewatkan nama Tan Malaka (1897-1949). Akan terlalu panjang mengurai kiprah dan sepak terjang tokoh pergerakan yang diselubungi berbagai misteri ini. Mulai dari petualangan politiknya di berbagai negara Eropa dan Asia, kematiannya yang tragis, hingga namanya yang dilupakan dan “diharamkan” selama 30 tahun oleh rezim yang mencapnya sebagai seorang komunis. Padahal di mata PKI dan komunis internasional (Komintern), sejak tahun 1927, TM dianggap sebagai murtad, seorang Troskys (pengikut Trotsky yang jadi lawan Lenin dan Stalin) yang terus diburu. 

Meski tahun 1963 Presiden RI Soekarno telah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Kepres  No. 53/ 1963. Revolusi kemerdekaan bukan hanya telah memakan, tapi juga telah melupakan anaknya sendiri. Itulah yang terjadi pada Tan Malaka (TM). TM seolah sebuah takdir ihwal kesetian seorang pemikir pejuang yang terus dikalahkan, dilupakan, dan dipenuhi ironi. 

1967


Minggu, 29 Januari 2012

Kaleidoskop Sastra Indonesia 2011



Sastra Indonesia 2011: Panjang Sprei dari Kelambu

---AHDA IMRAN

MARILAH  kita mulai dari salah butir rekomendasi Temu Sastrawan Indonesia (TSI IV) di Ternate Maluku Utara, 24-28 Oktober 2011. Rekomendasi itu mengubah durasi penyelenggaraan TSI yang bermula diselenggarakan saban tahun, menjadi event dua tahunan. Butir rekomendasi muncul bukanlah bersebab tak adanya kota yang memastikan kesediaannya menjadi tuan rumah TSI V tahun 2012. Melainkan demi mengantisipasi agar event ini tidak terjebak sekadar menjadi rutinitas tahunan, sekaligus membayangkan keleluasaan teknis penyelenggaraan—terutama kesiapan pemda yang menjadi tuan rumah, yang niscaya bersangkut ihwal dengan birokrasi alokasi anggaran. Dengan begitu, rekomendasi itu mengagendakan bahwa TSI V akan berlangsung tahun 2013, dengan tempat yang belum ditentukan. 

Namun belum lagi sebulan, di jejaring sosial facebook tersiarlah kabar bahwa Propinsi Kaltim—melalui sastrawannya Korrie Layun Rampan—bersedia menjadi tuan rumah TSI V 2012. Bukan validitas warta itu yang jadi penting, melainkan bagaimana sejumlah sastrawan “alumni” TSI IV Ternate meresponnya. Riang gembira mereka menyambut

Kamis, 22 Desember 2011

Naskah Monolog "INGGIT"



              
                                                              INGGIT
                                                      
                                                      (Sebuah monolog)
                                                      
                                                        ---Ahda Imran

SATU: Panggung Redup
(Intro) Musik kecapi suling, sayup-sayup. Inggit berada dalam kamar yang tampak berantakan. Sebuah tempolong tergelak di lantai karena dilemparkan. Wajah Inggit dingin, rambutnya tergerai.  Ia memasukkan satu persatu pakaiannya ke dalam kopor.  Lalu terdengar suara seseorang seperti membacakan dongeng.

Ningrum Kusuma begitu nama puteri itu. Ia dipanggil juga dengan nama Kusumaningrum. Begitu mula cerita. Ia seorang puteri yang cantik, luhur budinya, amat dicintai oleh seluruh penghuni istana dan dicintai rakyatnya. Ia pun amat setia pada suaminya,  seorang raja yang bijaksana. Ketika suatu kali suaminya menaklukkan negeri lain, negeri taklukkan itu mempersembahkan seorang putri kepada suaminya sebagai persembahan. Seorang putri cantik bernama Jembawati. Karena putri itu masih teramat muda, maka ia diserahkan pada Kusumaningrum untuk diasuh. Dan sebagai ratu, Kusumaningrum mengasuh dan mendidiknya dengan baik layaknya seorang kakak pada adiknya. Jembawati pun tumbuh menjadi gadis yang cantik, dan diam-diam ia mulai melemparkan senyum dan kerling mata pada raja.

Jumat, 02 Desember 2011

Teror



MARILAH kita mulai dengan apa yang dikatakan Sidharta Gautama, bahwa setiap peristiwa mempunyai alasannya; ia adalah pengalaman untuk mengetahui diri sendiri. Dan sebuah peristiwa, karena itu, adalah juga sebuah semesta relasi. Sebuah ruang yang terbuka bagi seluruh kesadaran terhadap seluruhnya. Pendek kata, sesungguhnya tak ada satu peristiwa pun yang terjadi dan berada di luar kompleksitas sistem pengalaman yang saling memberi identifikasi.
Waktu bukanlah entitas dengan identifikasinya yang mekanis,

Suyatna Anirun


BARANGKALI seperti cinta, kesenian itu tak pernah bertanya tentang “apa”, tapi “bagaimana” mencintai itu sendiri. Bagaimanapun rumitnya, mencintai adalah sebuah peristiwa dengan martabat kesetiaan di dalamnya. Dan kesetiaan seorang seniman akan menjadi sangat dangkal jika dipersamakan dengan keyakinan dalam loyalitas kepentingan politik yang tabiatnya senantiasa pragmatis itu; ke mana arah angin ke situlah hidungnya menghadap! Sejenis sikap dan pekerjaan yang telah mengubah dunia manusia menjadi benda. 

Inilah yang melainkan kesetiaan seorang seniman pada bagaimana ia menghadapi dunia manusia dan kemanusiaan. Kesetiaan seolah-olah telah menjelma menjadi mahluk lain dalam dirinya. Menjadi peristiwa.

Senin, 14 November 2011

DARSO, ”Aing Mah Lain Nanaon”


"DARI Polsek Cidadap belok saja ke kanan. Tanyakan pada tukang ojek. Malam ini saya ada di rumah jam sepuluh," begitu kami membuat janji untuk bertemu Darso. Dan malam itu Sabtu (6/8) berangkatlah saya ke arah Jalan Setiabudi Bandung dan menemukan sebuahjalan tak jauh dari Polsek Cidadap. Tukang ojek mengatakan jauhnya kira-kira 2 kilo meter dengan jalan menanjak. Saya jadi ngeri membayangkan bersepeda motor menempuh jalan seperti itu, belum lagi gerimis. SMS saya yang menanyakan apakah ia sudah ada di rumah atau belum pun tidak juga dijawabnya.

Siang keesokan harinya saya kembali kirim SMS. Meski ia kembali tidak menjawab, saya berangkat mencari rumahnya, berharap ia ada di rumah. Benar saja, jalan menuju rumahnya di Kampung Cirateun Peuntas Kab. Bandung itu benar-benar membuat saya takut. Jalan desa yang naik-turun berkelok-kelok dengan tanjakan dan turunan yang curam, dengan kondisi jalan yang buruk. Sampai di rumahnya, ia tidak ada.

Di Pusat Kebudayaan Prancis (CCF) Bandung,

Minggu, 13 November 2011

Menatap Kembali Tayub



GATOT Wiradikusuma (Atot) sudah tak muda lagi, kelahiran 1927. Akan tetapi, ayah tiga anak dan tiga cucu ini seolah menemukan dunianya kembali di pakalangan tayub. Memakai kain batik, penutup kelapa khas para menak (bendo), berselempang selendang (soder) warna kuning, ia berjalan pelan menghampiri sinden dan para nayaga. Meminta lagu ”Gawir”, lalu dalam gaya tari halusan (leunyepan) ia duduk setengah bersila, khusyuk, sebelum lantas menghaturkan sembah hormat, dan mulailah ia ngibing tayub.

Meski tak bisa mengingkari usianya yang sudah sepuh, tetapi tampaknya tayub sudah menjadi bagian dalam sejarah tubuh Gatot Wiradikusuma. Ia mulai belajar ngibing tayub leunyepan di Rancaekek tahun 1943. Pada masa sebelumnya jenis tarian para bangsawan Sunda ini juga dikenal dengan Tari Keurses. Mengikuti pukulan kendang, tubuh Gatot Wiradikusuma bergerak tenang dan halus, gerak pergelangan tangan (ukel), pola lantai yang minimalis, dan tangan yang sesekali terbuka seraya mengibaskan sampurnya.

Penampilan Gatot Wiradikusuma merupakan bagian dari pertunjukan "Tayuban" di Gedung Kesenian (GK) Dewi Asri STSI Bandung, Sabtu (24/4). Pertunjukan yang diselenggarakan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) STSI Bandung ini diniatkan sebagai konservasi seni tradisi yang didokumentasikan, sehingga

ahdaimran: Peci, Riwayatmu Kini...

ahdaimran: Peci, Riwayatmu Kini...

Rilke, Kepada Penyair Muda

Engkau bertanya apakah sajak-sajakmu baik. Engkau bertanya padaku. Sebelum ini engkau telah menanyai orang lain. Kau kirimkan sajak-sajakmu ke berbagai majalah.  Kau bandingkan karyamu dengan sajak-sajak orang lain, dan engkau gelisah bila ada redaksi majalah yang menolak sajak-sajakmu. Sekarang kuminta agar kau jangan memperdulikan semua itu. Tidak ada orang yang dapat memberimu nasihat dan pertolongan, tidak seorangpun. Hanya ada satu jalan saja, masuklah ke dalam dirimu.

 DEMIKIAN Rainer Maria Rilke (1875-1926) mengawali esai kecilnya dalam bentuk surat,  “Kepada Penyair Muda” yang dimuat dalam Majalah Sastra Horison No.2 Thn.II Februari 1967 terjemaahan Taufiq Ismail,  yang diambilnya dari “Surat-surat Kepada Seorang Penyair Muda”. Sayang, dalam tulisan tersebut Rilke tidak menyebut nama siapa pun yang disebut atau dimaksudnya sebagai “penyair muda” itu.

Bahkan, dalam majalah sastra yang terbit 40 tahun yang lalu itu, ketimbang terbaca sebagai sebuah surat seperti yang menjadi sumber pemuatannya, tulisan itu lebih mirip sebuah esai yang penuh pesan kepenyairan ketimbang sebuah surat. Tapi jika hendak disebut sebagai sebuah surat, maka agaknya “surat” itu ia tujukan pada penyair muda di sembarang tempat dan waktu.

Seperti juga Goethe, Schiller, Heine, Holderlin, Brecht, atau Paul Celan, Rilke adalah seorang penyair yang karya-karyanya tak bisa disendirikan dari perkembangan kesusastraan Jerman. Dipengaruh oleh para tokoh simbolisme Prancis seperti Baudelaire, Rimbaud, dan Mallarme, dan filsafat eksistensialisme Kiekegaard, Rilke banyak disebut sebagai penyair Jerman terbesar dalam abad ke-20.  Penyair yang juga dinilai sebagai pembaharu perpuisian Jerman ini bahkan dipandang sebagai raksasa puisi Jerman.

Yasraf Amir Piliang, “Kampung Halaman sebagai Akar Diri”

MUDIK Lebaran di tengah ledakan komunikasi dan budaya konsumsi hari ini sesungguhnya menjadi tantangan serius pada apa dan bagaimana identitas itu mesti dipertahankan. Ledakan komunikasi dengan berbagai medianya termasuk tentunya jejaring sosial, sedikit banyaknya memengaruhi identitas diri seseorang. Seluruhnya membawa setiap individu ke dalam keragaman identitas, sehingga identitas semata menjadi pilihan ketimbang dianggap sebagai akar yang tetap. Dalam kondisi inilah identitas primordial seseorang menjadi terguncang, bahkan terancam.

Kondisi semacam ini amat mudah ditemukan pada orang-orang kota  yang hidup di tengah persaingan kebendaan, gaya, pencitraan, status dan gengsi. Karena itu makna identitas dalam diri manusia kota cenderung cair, dinamis, mudah berpindah, dan rapuh. Kerapuhan ini bersebab pada efek dari posisi mereka dalam dunia informasi, ledakan komunikasi, konsumsi hiburan, atau gaya hidup yang bergerak liar tanpa henti. Maka mudah dipahami jika konsep identitas manusia kota tak bertautan lagi dengan konsep identitas primordial. Ia sudah dicemari oleh aneka ajakan identitas dari berbagai sumber budaya.

“Akan tetapi, manusia tidak bisa tercabut sepenuhnya dari identitas primordial itu. Mudik lebaran merupakan tradisi kultural yang dapat menjaga “ikatan primordial” seseorang dengan “yang asal”, “yang asli”, yang “otentik”. Antusias para pemudik di antaranya karena alasan primordial ini. Kampung halaman merupakan “akar’ diri seseorang yang memberinya identitas otentik setelah merantau,“ ujar Yasraf Amir Piliang, penulis dan pemikir yang intens mengkaji berbagai fenomena masyarakat kontemporer.

MONJU DAN PANGGUNG BAMBU


KEBERADAAN panggung bambu di plaza Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat  (Monju) menjelaskan betapa sesungguhnya pemerintah tak penah memiliki konsep dan visi yang jelas ihwal apa dan bagaimana sesungguhnya makna dari sebuah ruang publik. Apa yang mereka asumsikan sebagai ruang publik, selalu dibangun atas selera kekuasaan dan uang. Maka, selalu akhirnya ruang publik yang mereka ciptakan hanyalah bentuk dari kehadiran fisik yang tidak berkorelasi dengan sejarah, etika dan estetika ruang di sekelilingnya.

Keberadaan panggung bambu sejak Desember 2010 di plaza Monju jelas menghalangi pemandangan orang ke arah monumen. Desain Monju yang dikerjakan oleh seniman pematung Sunaryo tahun 1995 dengan biaya 22 Milyar rupiah di atas areal seluas 4. 100 meter itu, tentu dikerjakan dengan berbagai perhitungan yang cermat. Termasuk perhitungan jarak pandang ruang ke arah monumen.
                                        
Keberadaan panggung bambu itu telah menjadi interupsi yang tidak berkorelasi dengan estetika ruang yang telah ada sebelumnya, yakni, garis lurus yang menghubungkan puncak Gedung Sate, monumen, dan Gunung Tangkubanparahu di arah Utara. Panggung dengan biaya 600 juta rupiah itu seolah ditaruh begitu juga tanpa mempertimbangkan struktur visualnya yang seirama dengan estetika elemen-elemen yang telah ada sebelumnya. Terutama di siang atau sore hari, di atas plaza Monju, panggung bambu yang dibangun oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar itu seolah benda asing yang ujuk-ujuk ada di situ.

Gedung Merdeka, Jejak Gaya Hidup Kaum Elite

PADA awalnya mereka biasa berkumpul di Warung De Vries. Minum teh sambil mendiskusikan berbagai urusan. Mereka itu orang-orang kelas elite Eropa di Kota Bandung. Para pengusaha atau juragan perkebunan, saudagar, pedagang, perwira militer, dan tentu saja pembesar Hindia Belanda. “Societeit Concordia”, begitu nama perkumpulan mereka, didirikan tahun 1879 dengan tujuan “ de bevordering van gezellig verkeer” atau meningkatkan hubungan sosial di kalangan orang-orang Eropa di Bandung.

Atas prakarsa para pengusaha Belanda pemilik perkebunan teh, tahun 1895 didirikanlah sebuah gedung di seberang Warung De Vries. Mereka lalu pindah berkumpul di gedung yang lalu diberi nama Gedung Concordia. Tak jelas benar mengapa para Meneer itu merasa harus memindahkan tempat berkumpul mereka dari Warung De Vries, padahal Gedung Concordia itu masih berupa bangunan sederhana. Alasan yang paling mungkin adalah jumlah anggota perkumpulan yang semakin banyak dan memerlukan tempat berkumpul yang lebih luas. Tahun 1920 Gedung Concordia kembali disempurnakan.

Keberadaan Gedung Concordia jelas berhubungan dengan kebutuhan komunitas orang-orang Eropa di Bandung. Tak hanya sebagai tempat berkumpul dan bersantai, tapi juga sebagai tempat untuk melayani gengsi dan hasrat gaya hidup borjuis mereka. Terlebih lagi ketika tahun 1928 gedung ini untuk terakhir kalinya kembali disempurnakan bentuknya lewat rancangan Van Gallen Last dan C.P. Wolff Schoemaker, seperti yang kita lihat sekarang sebagai Gedung Merdeka. Nama yang diberikan oleh Presiden Soekarno menjelang berlangsungnya KAA.

Ajat Sudrajat, Legenda "Si Pangeran Biru"

TAHUN 1979 ketika itu dan usianya baru tujuhbelas tahun. Ia mendapat panggilan untuk bermain di Persib Yunior. Memakai kostum Persib adalah sesuatu yang sudah lama diidam-idamkannya, dan semua tentu tidaklah terjadi begitu saja. Maka wajar jika panggilan itu membuatnya tak bisa tidur saking gembiranya. Dan sepanjang periode 1980 dan 1990-an, publik sepakbola Indonesia, khususnya bagi urang Bandung dan Jawa Barat, namanya ketika itu selalu disebut dengan rasa bangga, Ajat Sudrajat.

Mustahil memisahkan nama Ajat Sudrajat dari persib, seperti juga kemustahilan memisahkan Persib dari Kota Bandung.Banyak orang masih ingat, bagaimana

Braga, "Perempuan Tua yang Malang "

Jalan Braga jalan intelek...

BEGITU lirik pertama lagu "Jalan Braga" yang dinyanyikan oleh Hetty Koes Endang. Lagu pop Sunda ciptaan Nano.S ini  populer tahun 1988. Tak jelas apa maksud"jalan intelek" dalam lagu tersebut untuk menyebut jalan yang memang tak bisa dipisahkan dari sejarah perkembangan Kota Bandung ini. Tapi yang jelas, Braga memang jalan yang berbeda dengan jalan-jalan lainnya di Bandung. Jalan yang sangat "berbau" Eropa.

Tak hanya karena desain bangunan-bangunannya, tapi juga jalan yang dulunya hanyalah digunakan sebagai perlintasan pedati (pedati weg) itu, memang memancarkan aura jejak sejarah kota yang eksklusif. Mungkin inilah yang dimaksud Braga sebagai "jalan intelek" dalam lagu tersebut. Meski awalnya Braga hanyalah jalan becek

PELAJARAN DARI SHENZHEN



Membangun China seperti menyeberangi sungai 
dengan merasakan bebatuan yang terinjak kaki...

UNGKAPAN Deng Xiaoping (1904-1997) di atas seolah menjadi penjelasan ihwal apa dan bagaimana China bisa tumbuh menjadi negara dengan kekuatan ekonomi yang mengagumkan. Ungkapan pemimpin China generasi kedua yang juga terkenal dengan “lompatan jauh ke depan” itu mengarah pada sebuah konsep perubahan yang dilakukan secara perlahan, terukur dan memerhitungkan banyak aspek. Reformasi ekonomi dan pemerintahan yang dilakukan dengan sangat hati-hati, memadukan spirit sosialisme dan konfusianisme.

Bahkan, demi reformasi ekonomi itu China memilih bersikap pragmatis, termasuk dengan segala sesuatu yang sebelumnya diharamkan oleh komunisme sebagai ideologi negara, sebagaimana ungkapan Deng Xiaoping, “Saya tidak peduli apakah kucing itu berwarna hitam atau putih, yang penting kucing itu bisa menangkap tikus”.

Dan hasilnya adalah China yang hari ini terus tumbuh sebagai negara industri dan raksasa ekonomi yang mencengangkan. Beijing, Shanghai, Guangzhou, Shenzhen, hanyalah sedikit dari sejumlah kota di China yang telah berubah menjadi kawasan zona ekonomi dan kota metropolitan yang terpandang di dunia.
 
Kota-kota itu tumbuh sebagai zona ekonomi dengan supra dan infrastruktur yang mengagumkan. Pembangunan berbagai pusat industri di kota-kota metropolitasn itu berpadu elok dengan penataan kota dan lingkungan, moda transportasi, dan juga pembangunan infrastruktur kota lainnya. Termasuk dalam pembangunan di bidang seni-budaya bagi kepentingan turisme (pariwisata).

Shenzhen merupakan salah satu kota metropolitan

INDIA DI ATAS KANVAS



 SORE, mendekati malam, dalam hari yang gerimis di sudut Kota Kalkuta. Langit berkabut, membuat bayangan di kejauhan. Puncak-puncak gedung tua dengan arsitekturnya yang unik, menara atau kubah. Sebuah gedung tua di sisi jalan tampak berdiri dengan agung, terasa murung. Di atas jalanan itu kabel-kabel listrik merentang kaku dari berbagai arah. Di kejauhan, samar oleh kabut, kabel-kabel berjuntaian bersama rentangan tali di antara kedua sisi jalan yang mengikat sebuah kain, seperti spanduk.  

Jalanan basah memantulkan cahaya lampu dan bayangan tubuh orang yang berjalan di antara riuh kendaraan. Sebagian mereka berpayung. Dalam kabut di kejauhan, payung-payung itu menyerupai cendawan. Di bawah gerimis dan langit yang berkabut, jalanan tetap menghadirkan gerak keriuhan, meski seakan-akan mengendap dalam cuaca dingin yang menggigit. Sebuah trem melintas. Sinar lampunya memantul pada batang-batang besi rel.

Suasana seperti itulah yang divisualkan Ananta Mandal dalam beberapa lukisannya bertajuk "Feel the Child". Pada beberapa karyanya, Ananta terkesan mengambil objek yang sama, namun dengan sudut pandang dan waktu berbeda. Seri ini tampil dengan style pendekatan realistik yang memikat, termasuk ketika ia menampilkan juga citraan realisme ekspresif yang secara kuat memberi aksentuasi dan efek karakter suasana objeknya. Objek tampak dihadirkan tanpa keinginanan menampilkan detail, namun lebih menekan pada gerak dan nafas suasana. 

Adegan orang berjalan di tengah kendaraan yang padat di bawah siraman gerimis, ditampilkan dengan karakter garis dan volume yang menyaran pada suatu gerak. Begitu pula, bagaimana ia menggarap efek pewarnaan untuk menciptakan pantulan cahaya lampu di jalanan yang basah.

BUNGA DARI YUNIZAR



BUNGA-bunga itu terlihat aneh. Ia tumbuh dengan garis batang dan reranting yang kaku, jauh dari lentur sebagaimana mestinya, bahkan tak ada selembar pun daun. Bunga-bunga itu pun terlihat tidak tumbuh di ujung ranting, tapi seolah menclok begitu saja. Alih-alih memamerkan kelopaknya yang indah dan lembut, bunga itu terlihat kaku. Kelopak-kelopaknya tampak keras dengan bentuknya yang terlalu sederhana untuk menyebutnya kelopak bunga.

Tak ada apapun di kelopak-kelopak bunga itu, embun, sisa air hujan, semut, kupu-kupu, bahkan juga gerak angin yang membuat kelopak bunga itu bergerak atau jatuh. Warna bunga-bunga itu pun aneh. Ia hanya mempunyai satu warna seperti batang dan rantingnya, bahkan juga seperti warna pot tempat ia tegak tumbuh.

Inilah bunga yang dihadirkan oleh Yunizar di atas selusin kanvasnya dalam pameran tunggalnya bertajuk “Jogja Psychedeli Flowers from Yunizar”, di Galeri Soemardja Bandung, selama hampir satu bulan (3-30 Agustus 2010) yang lalu. Sebagaimana judulnya, pameran yang dikuratori oleh Aminuddin T.H. Siregar ini memang seluruhnya mengusung bunga sebagai subjek matter-nya. Sebuah seri yang dilengkapi oleh satu karya objek berupa ribuan lebah.